Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Haris Fari Yang Bingung


__ADS_3

“Ini...” Ayah Leo sedikit ragu. anaknya sudah berkata, untung yang dihasilkan hanya sedikit. Jadi, dia juga tidak terlalu berharap pada kado yang dibawa pulang. Sedangkan Haris Fari, jelas sekali, dia sengaja datang memamerkan kado di rumahnya!


Mendengar kata-kata ini, Ayah Leo pun berkata tanpa sadar.


“Haha, sementara jangan dibuka dulu, deh...”


Haris Fari yang di situ malah lanjut berkata.


“Haih, apa yang membuatmu malu? Kalau kau malu untuk membukanya, aku akan membantumu.” Sambil berkata, Haris Fari pun mengulurkan tangannya.


Ayah Leo sedikit panik. Saat dia hendak menghentikannya, malah melihat anaknya mengedipkan mata pada dirinya.


Melihat adegan ini, ayah Leo sedikit bingung. Namun, setelah itu, dia pun mengerti.


“Mungkinkah...” dalam seketika, Ayah Leo pun menghentikan tindakannya.


Dia hanya diam dan melihat Haris Fari membuka kardusnya dengan penuh semangat. Sedangkan Haris Fari, kini dalam hatinya sangat riang.


Menurutnya, barang yang Leo bawa pulang pasti bukan barang bagus! Sedangkan, Rémy Martin yang anaknya bawa pulang. Dia dengar itu adalah minuman XO seharga 4 jutaan!


Dengan suasana hati yang gembira, Haris Fari membuka kardus pertama. Namun, saat melihat isi di dalamnya, dia langsung tercengang di tempat!


Cerutu!


Dari kotaknya, dia juga membaca mereknya dengan jelas!


“Trinidad!”


Cerutu ini dia juga tahu jelas harganya! Hanya satu batang yang di jual tersendiri saja harus 78 juta! Namun, kini adalah satu kardus penuh...


“Glug!”


Haris Fari tercengang dan menelan seteguk ludah.


Harga ini sungguh mengerikan!


Haris Fari tidak berani lanjut membukanya.


Sedangkan ayah Leo yang melihat Haris Fari tercengang, dirinya tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


“Eh, Haris, kenapa kau tak buka lagi?”


Ayah Leo melirik kardus yang di depannya sambil menepuk bahu Haris Fari.


Anak ini! Bisa-bisanya dia membeli satu kardus Cerutu Trinidad?


Ayah Leo bergumam dalam hati. Sedangkan Haris, dia pun tersenyum canggung di situ.


“Ha... haha. Aku tiba-tiba terpikir, ini kado dari anakmu. Bagusnya kau buka sendiri saja.”


Dia sungguh tidak berani membukanya lagi! Baru kardus pertama saja, isinya sudah begitu menakutkan. Bagaimana mungkin dirinya berani lanjut membukanya?


Mendengar kata-kata ini, Ayah Leo yang di samping tersenyum dan membuka kardus kedua dengan santai.


Satu kardus Cerutu Trinidad lagi!


Detak jantung Haris Fari langsung melambat setengah!


Ayah Leo membuka lagi kardus ketiga.


Begitu terbuka, Ayah Leo dan Haris Fari langsung melihat enam botol Lafite 1982 terletak di dalam kardus.


Lafite 1982! Satu botol harus 6 jutaan! Berarti satu kardus ini senilai 36 juta!


Berdasarkan kondisi sebelumnya, kardus kedua pasti adalah anggur mahal juga!


Tuh, ‘kan! Sekali dibuka, satu kardus Lafite 1982 lagi!


Kini, Haris Fari yang di situ merasa agak iri.


“Haih, kau ini! Membuang-buang uang lagi!”


Ayah Leo yang di situ memarahi Leo dengan sudut mulut terangkat. Nada suaranya juga terdengar sangat bangga. Lalu, dia mengeluarkan satu botol dan berkata.


“Haris, bagaimana kalau malam ini kita minum bersama?”


“Ini...”


Mata Haris Fari melihat Lafite 1982 ini dengan berbinar. Sejujurnya, dia memang belum pernah minum anggur sebagus ini! Setelah ragu sebentar, dia berangguk.

__ADS_1


“Oke!”


Sambil berkata, kedua orang pun duduk kembali.


Ayah Leo mengambil dua gelas kaca dan menuangkan anggurnya.


Haris Fari yang di sana juga tersenyum pada Leo dan berkata.


“Leo, apa yang kau kerjakan di Purakarta sekarang? Dari mana kau menghasilkan uang sebanyak itu, sampai bisa membelikan begitu banyak barang bagus untuk ayahmu?”


Haris Fari bertanya dengan heran.


Mendengar ini, Leo pun tersenyum dan berkata.


“Tidak kerja apa-apa juga. Aku hanya sembarang bermain di Purakarta. Beberapa waktu yang lalu ada produk yang penjualannya lumayan bagus. Jadi, menghasilkan sedikit uang.”


Leo berkata sambil tersenyum.


Lalu, saat mendengar ini, Haris Faris menjadi semakin tertarik. Dia segera berkata seolah-olah sudah pernah mengalaminya sebagai senior.


“Eh, Leo, kau tidak boleh seperti ini. Manusia itu harus punya rencana. Seperti kau ini, memang bisa mendapatkan keuntungan kecil. Namun, itu tidak bisa bertahan jangka panjang. Paman Haris, ya, dulu waktu muda juga pernah untung sedikit, tapi kemudian paman menyadarinya. Untung kecil itu bisa dihasilkan, tapi tidak bisa bertahan lama! Anak muda lebih baik bekerja di kantor dengan rendah hati. Ini baru bisa stabil seumur hidup. Menurut paman, kau lebih baik suruh Bobi bantu perkenalkan kau masuk perusahaan dia saja.”


Sambil berkata, Haris Fari malah berteriak.


“Bobi! Kau sudah belum?”


Dalam toilet, Bobi Haris menutup ponselnya, lalu mencuci tangan dan berjalan keluar.


“Ayah memanggilku?”


“Ya, Leo sudah pulang. Kau sekarang ‘kan sudah menjadi wakil manajer Game Prime Dragon, kau coba lihat bisa bantu Leo atur pekerjaan, tidak?”


Haris Fari yang di sana berkata.


“Hehe, baik, Ayah.”


Bobi Haris berangguk sambil tersenyum, lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke atas.


Begitu melihat Leo Mayor, Bobi tertegun!

__ADS_1


__ADS_2