MINE ( Andra & Manda )

MINE ( Andra & Manda )
BAB 14


__ADS_3

Happy Reading 😊


Hari ini, hari Minggu. Hari dimana orang bisa bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Seperti halnya gadis cantik dan mungil yang masih terlelap dibawah selimut tebal. Suara kicauan burung dan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden sama sekali tak mengganggu tidur gadis itu.


Kring...kring... kring


Manda membuka matanya, dengan kesadaran yang masih belum penuh ia mematikan alarm. Lalu membaringkan tubuhnya kembali di tempat tidur.


" Manda masih ngantuk." lirih gadis itu dengan mata satu. Manda tak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini ia akan malas-malasan.


Ceklek


Lisa memasuki kamar anak gadisnya, dirinya dibuat geleng-geleng saat melihat putrinya masih berbaring dikasur dengan mata sayu nya.


" Ayo bangun sayang. Masa anak gadis bangunnya siang." ucap Lisa. Wanita itu mematikan AC, kemudian membuka gorden dan jendela agar udara sejuk pagi hari masuk ke kamar. Lisa berjalan dan duduk ditepi ranjang. Tangannya bergerak mengelus lembut rambut anak gadisnya. Manda yang nyaman dengan elusan mendekati bundanya dan berbaring dengan paha bundanya sebagai bantalannya.


" Eh kok malah tambah gini. Ayo bangun nak mandi terus turun sarapan. Ayah udah nunggu dibawah." ucap Lisa lembut.


" 5 menit lagi bunda. Manda masih ngantuk." ucap Manda.


" Emang tadi malem tidur jam berapa. Hmm."


" Tidur jam 12. Maaf bunda Manda keasikan liat film."


" Nakal ya. Siapa yang suruh tidur jam segitu hm. Mau bunda bilangin Ayah biar dimarahin." ucap Lisa. Manda langsung mendudukan tubuhnya.


" Bunda jangan bilang sama ayah. Please." ucap Manda memohon.


" Oke bunda gak bakal bilang ke ayah. Asal Manda janji gak akan ngulangin lagi." ucap Lisa tak tega melihat raut melas anaknya.


" Manda janji." ucap gadis itu sungguh-sungguh.


" Yaudah sana mandi. Habis itu turun sarapan. Bunda tunggu dibawah." ucap Lisa sebelum berlalu pergi.

__ADS_1


***


Ditengah hutan belantara terdapat rumah mewah yang terbengkalai. Rumah yang kondisinya tak layak huni. Dinding yang sudah berlumut dan tanaman merambat tumbuh di sekitarnya membuat rumah itu terlihat menyeramkan.


Terlihat seorang pemuda memarkirkan motornya didepan rumah itu, setelah itu pemuda tersebut memasuki rumah tanpa rasa takut. Pemuda itu terus berjalan hingga sampai di sebuah ruangan yang di jaga oleh dua bodyguard. Kedua bodyguard itu membungkuk hormat saat melihat kedatangan pemuda itu.


" Dimana dia?." tanya pemuda itu.


" Didalam tuan." ucap salah satu bodyguard.


Pemuda itu membuka pintu ruangan terlihatlah seorang gadis duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Setelah pemuda itu masuk, kedua bodyguard itu menutup pintunya.


Mendengar langkah kaki membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.


" Andra." gumam gadis itu. Terkejut melihat orang yang telah menculiknya.


Pemuda itu adalah Andra dan rumah ini adalah tempat Andra untuk mengeksekusi para targetnya. Tak ada yang tau tempat ini kecuali para sahabatnya dan papanya.


" Dra gue mohon lepasin gue dra. Gue minta maaf. Gue janji gak akan ganggu hubunga Lo sama adek kelas itu." mohon gadis itu ketakutan.


Andra tak menjawab omongan gadis itu, ia sibuk memilih pisau mana yang cocok untuk menyiksa Amel.


" Seperti ini cocok berkilau dan tajam." ucap Andra memainkan pisau berukuran sedang ditanganya. Amel bergetar ketakutan, ia tak mau mati sekarang.


" Enggak dra. Lo mau ngapain?. Lepasin gue. " berontak gadis itu.


" Gue udah kasih peringatan tapi Lo tetep berulah. Sekarang terima akibatnya." ucap Andra dingin.


" Gue minta maaf. Tolong lepasin gue." ucap Amel yang sudah menangis ketakutan.


" Air mata Lo gak akan bikin gue kasian." ucap Andra.


" Enaknya mulai dari mana dulu. Hm baiklah mulai dari tangan. Tangan ini sudah berani menampar gadisku." ucap Andra menekan pisau dan mengoreskannya sehingga menghasilkan luka gores dalam dan panjang membuat darah segar mengalir deras.

__ADS_1


" Akh...sakit berhenti brengsek." teriak Amel kesakitan. Andra tak menghiraukannya, ia asyik dengan kegiatannya menyayat tangan gadis itu. Setelah puas dengan tangan sebelah kanan, kini pemuda itu berpindah ke tangan sebelah kiri.


Amel berusaha berontak, ini sangat menyakitkan. Ia sekarang menyesal telah berurusan dengan laki-laki ini. Andra yang geram karena gadis itu terus bergerak langsung menancapkan pisaunya ditangan gadis itu.


" Akh.... sa kit. Le-pasin gu e Dra." lirih gadis itu.


" Gue belum puas. Ini belum sebanding dengan apa yang lo lakuin ke cewek gue." ucap Andra meneruskan kegiatannya. Amel sudah mulai lemas kehilangan banyak darah dan mata gadis itu mulai sayu.


" Jangan mati dulu gue belum puas."


" Lo pembunuh Dra. Gue nyesel pernah suka sama Lo." ucap gadis itu.


" Gue gak peduli."


" Brengsek."


" Bacot." ucap Andra tajam. Lalu menusuk perut gadis itu. Amel membelalakkan matanya dan darah keluar dari mulutnya. Andra bangkit dan berjalan keluar. Biarlah gadis itu mati kehabisan darah. Laki-laki itu tak peduli.


" Bereskan." perintah Andra pada kedua bodyguard nya. Sebelum pulang ia akan membersihkan darah yang ada di tubuhnya terlebih dahulu.


Drt..drt..drt


Andra memeriksa ponselnya ternyata ada panggilan dari papanya.


...📞 Papa...


^^^^^^Hallo pa^^^^^^


Boy, kau membunuh orang lagi?


^^^Hm. Dia mengganggu gadisku.^^^


Huft. Segera bereskan dan jangan sampai mamamu mengetahuinya.

__ADS_1


^^^Hm^^^


Panggilan terputus. Pemuda itu menyimpan ponselnya. Melajukan motornya pulang ke rumah.


__ADS_2