
Happy Reading 😊
"Siapa Der?." tanya Bara.
" Si bos." jawab Derry.
" Kenapa?." kali ini Reno yang bertanya.
" Nanti pas pulang sekolah suruh bawa Manda ke mobilnya diparkiran." Jawab Derry.
" Kenapa? Bukannya si bos lagi diskors.?" ucap Bara.
" Mana gue tau. Mungkin lagi ada masalah kali sama ceweknya." ucap Derry.
" Perasaan gue nggak enak." Ucap Reno tiba-tiba.
" Gue juga." ucap Bara. Ketiganya saling pandang.
" Semoga nggak akan terjadi apa-apa." batin ketiganya.
Dikelas Manda.
" Man, Lo pulang sama siapa?." tanya Nissa sembari membereskan bukunya. Sekolah sengaja dipulangkan lebih awal karena guru-guru akan melayat ke rumah Amel.
" Naik taxi." jawab Manda. Dirinya terpaksa naik taxi karena ayahnya tidak bisa menjemput nya dan supir keluarga nya sedang tidak bekerja. Ponsel gadis itu masih dinonaktifkan, Manda tidak mau berhubungan dengan laki-laki itu lagi.
" Bareng gue aja. Dari pada nunggu taxi lama." ajak Nissa.
" Aku takut ngerepotin." Ucap Manda.
" Enggak ngerepotin kayak sama siapa aja Lo. Ayok." Nissa menggandeng tangan Manda keluar kelas menuju parkiran.
Ditengah perjalanan kedua gadis itu berpapasan dengan Bara,Dery,dan Reno.
" Eh ada dedek gemes." Ucap Bara dengan mengedipkan sebelah matanya pada Manda.
Plak.
" Anjng...Lo ada masalah apa sih der. Main pukul aja. Ntar kalau gue amnesi Lo mau tanggung jawab HAH." emosi Bara tak terima kepalanya dipukul.
" Lebay Lo. Lagian Lo genit amat. Ntar pawang nya tau mampus Lo." Ucap Dery. Saat Bara dan Dery masih berdebat Reno justru terus menatap ke arah Nissa. Sementara yang ditatap menunduk malu.
Manda menatap bergantian Reno dan Nissa. Kemudian tersenyum kecil menyadari tingkah keduanya . Dengan sengaja ia menyenggol Nissa.
" Cie dilihatin sama kak Reno." Ledek Manda.
" Diem." bisik Nissa.
Kembali lagi kepada dua manusia yang tidak bisa akur ini.
" Kan gue cuma bercanda dodol." Ucap Bara. Dery hanya mendengus kemudian menatap Manda.
__ADS_1
" Man, gue boleh minta tolong gak.?" tanya Dery memulai aksinya.
" Boleh. Minta tolong apa kak?."
" Adek sepupu gue ulang tahun. Bisa bantu nemenin gue cari kado gak. Gue gak tau selera perempuan." ucap Derry berbohong.
" Bisa kak. Emang kapan nyarinya?." tanya Manda
" Sekarang. Bisa kan."
" Iya kak bisa."
" Nissa maaf ya aku nggak jadi pulang bareng kamu." ucap Manda pada Nissa.
" Oke gapapa. Lo hati-hati ya." ucap Nissa.
" Kak jagain bestie gue. Kalau sampai kenapa-napa habis Lo sama gue." ancam Nissa pada Dery.
" Buset serem amat. Jadi cewek jangan galak-galak Napa ntar nggak ada yang suka sama Lo." Ucap Derry bergidik ngeri.
Setelah perkenalan Nissa dengan Andra dkk, Nissa sudah mulai akrab dengan Dery. Sedangkan dengan Reno dan Bara ia masih canggung. Dibalik keakraban keduanya ada yang menatap tak suka. Orang itu adalah Reno, lelaki itu mengepalkan tangannya kuat dengan masih menatap Nissa.
Bara menyadari gelagat aneh Reno, ia mengikuti arah pandangan Reno.
" Nih anak kenapa? aneh banget. Ngeliat Nissa ngobrol sama Dery kayak marah gitu." batin Bara heran.
" Ren, Lo kenapa?." tanya Bara menyadarkan Reno membuat Reno segera menormalkan ekspresi nya. Dery, Manda ,dan Nissa memandang tanya kepada Reno.
" Nggak." ucap Reno singkat.
Membuat mereka menatap heran Reno.
" Ayo kak, katanya mau nyari kado." ajak Manda. Mereka berempat berjalan bersama menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran mereka berpisah ke kendaraan masing-masing. Bara menuju motornya, Nissa menuju mobilnya, Derry dan Manda menuju mobil Andra.
" Kok kayak kenal mobil ini." batin Manda merasa tak asing dengan mobil tersebut. Tapi ia langsung menepis kecurigaannya. Tak mungkin pabriknya hanya membuat satu kan mobil seperti ini.
" Ini mobil kak Derry." tanya Manda.
" iya, kenapa?." tanya Derry masih terlihat santai.
" Nggak. nggak papa."
" Aduh handphone gue ketinggalan di kelas." akting Derry.
" Kok bisa kak."
" Tadi gue taro laci."
" Lo masuk mobil dulu. Gue mau ambil handphone bentar." ucap Derry kemudian berlari masuk ke sekolah lagi.
__ADS_1
Manda hanya menurut ia masuk kemobil dan duduk di kursi samping kemudi. Ia masih belum menyadari ada orang lain dalam mobil.
" Tadi di chat ngomong apa, hemm?." tanya Andra.
Tubuh Manda membeku dengan gerakan lambat ia menoleh ke kursi kemudi. Manda membelalakkan matanya.
" Bagaimana laki-laki itu bisa ada disini?."
" Apa yang sedang terjadi sekarang?."
"Apakah ia sedang di jebak." batin Manda bertanya-tanya.
Manda berusaha membuka pintu dan keluar tapi sayang pintunya telah terkunci.
" Jawab Manda!!!." sentak Andra karna tak mendapat jawaban.
" AKU MAU PUTUS!."
" AKU BENCI KAK ANDRA.!!"
" KAK ANDRA JAHAT.!!" teriak Manda terengah-engah mengeluarkan emosinya.
" Sayangnya aku gak mau."
" Terserah. Aku gak peduli. Aku tetep mau putus."
Andra langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
" Aku gak mau. Lepas. Aku mau putus. Kakak udah janji gak akan bunuh orang lagi. Tapi apa kakak ngingkari janji itu." ucap Manda berontak berusaha lepas dari pelukan Andra.
" Aku lakuin itu demi kamu. Dia udah nyakitin kamu."
" Tapi gak gini caranya kak. Aku tau dia salah dia jahat, tapi jangan bunuh dia. Aku gk mau nantinya kakak kena masalah gara-gara aku. Sekarang aja kakak diskors karena aku ." lirih gadis itu mulai menangis.
Andra membawa Manda duduk dipangkuan nya memeluk erat gadis itu.
" I'm sorry." bisik Andra. Manda tak menjawab gadis itu masih terus menangis.
" Aku minta maaf."
" Kamu gak salah. Disini aku yang salah."
" Jangan nangis lagi. Aku sakit lihatnya."
" Aku janji gak akan lakuin itu lagi."
" Aku sayang sama kamu."
" Jangan minta putus lagi ya. Aku gak bisa kalau tanpa kamu." ucap Andra beruntut.
Beberapa detik keduanya terdiam. Andra masih setia mengelus punggung gadis itu. Tak lama terdengar nafas teratur dari gadisnya. Ternyata gadisnya tertidur, mungkin karena lelah menangis. Andra mengusap pipi Manda lembut membersihkan sisa air mata yang ada disana. Kemudian mengecup lama kening gadisnya menyalurkan rasa sayang dan cintanya.
__ADS_1
Andra menghidupkan mobil dan mengemudikannya dengan Manda yang masih berada di pangkuannya.
Ia tak memindahkan nya karena tak mau mengganggu tidur gadisnya. Andra mengemudi dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya menahan tubuh Manda. Agak sulit memang ditambah luka ditangannya masih belum terlalu kering dan masih sedikit nyeri , tapi tak apa demi kenyamanan gadisnya akan ia lakukan.