
Happy Reading 😊
Pagi harinya.
" Ma Andra berangkat." pamit Andra pada mamanya. Seragam yang jauh dari kata rapi, rambut acak-acakan, sepatu putih, dan jangan lupakan tindik di telinganya. Menambah kesan bad boy nya. Meskipun penampilan nya begitu tak mengurangi ketampanan seorang Andra.
Seperti biasa nya sebelum berangkat Andra menjemput sang pujaan hatinya terlebih dahulu.
" Manda udah bangun Bun?." tanya Andra pada Lisa yang sedang menyiapkan makanan dimeja makan.
" Astaga Andra ngagetin aja." kaget Lisa.
" Maaf."
" Bunda lupa ngabarin kamu kemarin. Manda hari ini ngga masuk sekolah. Demam dia." ucap Lisa.
" Andra ijin ke kamarnya ya Bun." setelah mendapat anggukan dari Lisa, Andra bergegas menuju kamar gadisnya.
Ceklek
Andra membuka pintu itu dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah gadisnya tengah tertidur dengan wajah pucatnya.
Andra mengulurkan tangannya menyentuh kening Manda, terasa hangat. Ia paling tidak bisa jika melihat gadisnya sakit seperti ini. Andra mengusap Surai Manda lembut.
Usapan Andra membuat gadis yang terlelap itu merasa terganggu. Manda perlahan membuka matanya.
" Kenapa ngga ngabarin aku kalau kamu sakit?." tanya Andra lembut. Ia sebenarnya ingin marah tapi ditahan karena tak tega melihat keadaan gadisnya.
" Maaf." lirih Manda.
" Hm lain kali kalau ada apa-apa langsung kabarin." ucap Andra tegas. Manda hanya mengangguk.
"Apa yang sakit?."
" Tenggorokan aku sakit."
Andra mengeryit heran, kemarin kan gadisnya ia suruh makan es cream nya satu saja jangan dihabiskan semua. Kenapa sekarang tenggorokan nya sakit? Kan ngga mungkin cuma makan satu es cream tenggorokannya langsung sakit.
" Kemarin makan berapa eskrim?".
" Semua." cicit Manda.
" Mulai ngga nurut ya kalau dibilangin. Mau jadi gadis pembangkang hah!! Mau aku hukum!!." Andra kini merutuki dirinya sendiri yang membelikan gadisnya es cream.
__ADS_1
" Hikss... maaf. Jangan hukum Manda." ucap Manda mulai menangis. Ia tidak mau dihukum.
Andra menghela nafas gusar. Lagi-lagi kesabarannya diuji oleh gadis itu. " Sekarang gimana, enak sakit?."
" Nggak enak. Tenggorokan nya buat nelen sakit." jawab Manda.
Tangan kekar itu terulur membawa gadisnya kepelukan nya. " Ini alasan aku nggak ngebolehin kamu makan eskrim banyak-banyak. Sekarang ngerti kan. Mulai sekarang nurut kalau dibilangin." ucap Andra tegas.
" Iya. Manda minta maaf." ucap Manda memeluk erat Andra.
*******
Andra sudah berada disekolah, sebenarnya ia berat meninggalkan gadisnya yang sedang sakit. Tapi apalah daya gadisnya mengancam tidak mau bertemu dengannya lagi jika ia tak pergi sekolah.
Pemuda bertindik itu berjalan dikoridor menuju kelasnya dengan pekikan heboh para gadis mengiringi langkahnya. Sesampainya dikelas Andra langsung duduk di kursinya.
" Kenapa?." tanya Reno yang menyadari kedatangan Andra dengan wajah kusutnya.
" Manda sakit." jawab Andra. Dia terus kepikiran gadisnya.
" Hah!. Sakit apa? bukannya kemarin masih sehat." tanya Derry menimpali.
" Demam." jawab Andra.
" Pulang sekolah kita jenguk Bu bos. Gimana?" ucap Bara mengusulkan.
" Gimana Dra?." tanya Derry meminta persetujuan Andra.
" Hm." Andra hanya berdehem.
Kring kring kring
Bel masuk berbunyi. Tak lama seorang guru memasuki kelas diikuti oleh seorang pemuda dibelakangnya. Pekikan heboh para siswi mulai terdengar.
" Ada cogan baru nih."
" Astaga pangeran dari mana nih."
" Tolong gue mau pingsan."
" Ganteng banget."
" Kiw kiw ganteng pacaran yuk."
__ADS_1
" Diam!! Perhatikan! Kita kedatangan murid baru. Kamu silahkan memperkenalkan diri." ucap guru itu.
" Reza Wirzad pindahan dari London." ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Reza.
" Baik. Saya Bu Siska wali kelas sekaligus guru matematika kelas ini. Silahkan kamu duduk dikursi kosong di belakang Bara." ucap Bu Siska. Reza berjalan menuju kursi nya.
" Lo kok bisa pas masuk ke kelas ini?." tanya Bara berbisik.
" Mana gue tau. Kepala sekolah yang nentuin." jawab Reza.
" Itu yang dibelakang kalau masih ngobrol terus silahkan keluar." ucap Bu Siska memelototi Bara dan Reza.
" Hehehe maaf Bu." cengir Bara. Bu Siska hanya menghela nafas lalu melanjutkan pelajaran.
*****
Skip Istirahat.
Andra dkk sudah nangkring di kantin, Bara dan Derry begitu sampai langsung memesan makana, sementara Reza tengah pergi ke toilet.
Beberapa menit kemudian Nissa datang bersama seorang gadis blasteran berambut pirang sebahu. Keduanya berjalan menuju ke meja Andra. Nissa langsung duduk disebelah Reno, sedangkan gadis itu duduk disebelah Andra karena memang tinggal kursi itu yang tersisa. Dan Andra masih belum menyadarinya, pemuda itu sibuk dengan ponselnya.
" Kak Andra." ucap gadis itu membuat Andra menoleh.
" Laura." gumam Andra sedikit terkejut.
Gadis itu adalah Laura Fancy adik dari Reza Wirzad. Laura juga bersekolah di sini dan ia sekelas dengan Manda,Nissa.
" Aku kangen kakak." tanpa aba-aba Laura memeluk Andra membuat pemuda itu membeku sejenak lalu membalas pelukan Laura.
Nissa melotot melihat itu, ia syok berat. Ada apa ini? Apakah Laura mengenal Andra? Kenapa tiba-tiba gadis itu memeluk Andra? Dan lebih parahnya Andra juga membalas pelukannya. Mungkinkah Andra selingkuh? begitu banyak pertanyaan dan pemikiran negatif bersarang di otak gadis berlesung pipi itu.
" Kak." bisik Nissa pada Reno.
" Kenapa?." tanya Reno.
" Kak Andra kok kayak kenal sama Laura. Mana pakek peluk-peluk lagi. Laura itu selingkuhan nya kak Andra ya!! Awas aja kalau Kak Andra nyakitin Manda." cerocos Nissa menatap kedua sejoli yang sedang berpelukan itu dengan tatapan sinis.
" Laura itu adiknya Reza, temen aku sama Andra. Kamu ngga usah khawatir tenang saja. Andra cuma menganggap Laura sebagai adiknya ngga lebih. Andra itu cinta sama Manda, jadi ngga mungkin Andra nyakitin Manda." jelas Reno menenangkan.
Andra melepas pelukannya." Gimana kabar kamu? Betah di sana?." tanya Andra.
" Kabar aku baik. Iya betah di sana enak, tapi aku kangen sama suasana di Indonesia jadi nya aku balik lagi ke sini."jawab Laura.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Bara, Derry, dan Reza datang. Bara dan Derry terkejut melihat penampilan Laura yang sekarang. Bertahun-tahun diluar negeri membuat penampilannya semakin cantik. Membuat jiwa playboy keduanya berontak, tapi tak berani menggoda karena pawangnya galak.
Laura mengobrol akrab dengan Andra dkk. Meskipun lama tidak berjumpa tak membuat mereka canggung. Saat mereka asyik mengobrol Nissa hanya diam sambil memperhatikan Laura.