
"Nad, menikahlah denganku!" pinta Rehan, membuat Nadine terkejut dan menjatuhkan sendok dari tangannya. Untuk beberapa saat mereka terdiam, masing-masing dengan pikirannya sendiri.
"Kamu bercanda!" Akhirnya Nadine tersadar dan cengengesan lalu kembali duduk.
"Aku serius" jawab Rehan meraih tangan Nadine yang masih tergenggam lalu mengecupnya pelan. Nadine ternganga. Ini seperti mimpi baginya. Tidak. Ini tidak mungkin. Nadine menggeleng lalu menarik tangannya.
"Jangan bercanda soal hati Re, kamu tahu aku dan Vico sudah ada hubungan. Aku tak mungkin mengkhianatinya. Maafkan aku" jawab Nadine, ia lalu mengambil piringnya lalu membawanya ke westafel. Itu hanya alasannya saja, entah kenapa jantungnya berdegup kencang saat dekat dengan Rehan. Terlebih Rehan mengecup tangannya, membuat pipinya kembali bersemu merah. Ia menggeleng lalu melanjutkan mencuci.
Ia akan kembali ke kamar tapi pasti akan melewati ruang makan dimana Rehan duduk menikmati pancake buatannya. Jujur saja, ia merasa malu entah untuk alasan apa. Belum lagi ia juga merasa tak enak karena ia dan Rehan sudah sangat dekat. Ia takut semua akan berubah menjadi kaku dan serba tak enak.
Memang dulu Rehan adalah cinta pertama Nadine. Tapi itu dulu, hanya cinta monyet yang tak mungkin bisa dilanjutkan. Apa iya cinta monyet itu bersemi kembali dan menyapanya disaat Vico telah mengisi hatinya?
Nadine mengintip, tak ada Rehan di ruang makan. Apa ia marah lalu meninggalkannya tanpa pamit? Apa ia kecewa? Berbagai pertanyaan menghampirinya. Nadine celingak-celinguk seperti maling yang takut ketahuan mencuri. Ia berjalan perlahan menuju kamarnya.
"Nad?" Tanya Rehan. Nadine terlonjak kaget lalu memegang jantungnya. Ia sungguh kaget dan segera bersandar ke dinding. Rehan tiba-tiba muncul dari arah kamar mandi. Membuat Nadine kesal.
"Ngageti aja!" Gumam Nadine.
"Apa?" Tanya Rehan. Nadine menggeleng lalu melanjutkan berjalan ke kamar.
"Nggak ada apa-apa. Kamu ngagetin" Kata Nadine sambil lalu tanpa melihat Rehan. Ia terhenti di tengah jalan. Rehan meraih tangannya memaksanya berhenti.
"Aku salah sama kamu?" Tanya Rehan
"Nggak, nggak ada yang salah Re. Bisakah kita istirahat? Besok kita kerja"Pinta Nadine
"Kamu...."
__ADS_1
"Aku lelah" Nadine menjawab lemah.
"Tatap aku saat berbicara!" Rehan berkata dengan tegas. Tapi Nadine malah semakin menunduk. menetralisir bunyi degupan jantungnya antara takut dan... entahlah. Perasaan aneh itu muncul. Nadine tak mampu menafsir hatinya sendiri.
"Kubilang tatap aku!" Bentak Rehan meraih dagu Nadine dan memaksanya agar menatap Rehan. Nadine menatap Rehan takut-takut. Ini bukanlah Rehan yang ia kenal.
Dengan cepat Rehan malah mengecup bibir Nadine. Lembut dan perlahan. Nadine tak mampu menolak. Ia hanya terdiam tak mampu bergerak. Ia memejamkan mata lalu setetes bening air matanya mengalir.
"Sial...!" Bentak Rehan, ia lalu berbalik dan keluar menuju teras. Nadine menangis entah karena apa. Ia juga tak mengerti. Apakah ia merasa bersalah pada Vico karena ia diam saja saat Rehan menyentuh bibirnya? Nadine segera menggeleng lalu berlari masuk ke kamarnya. Ia mengunci kamarnya dan duduk bersandar pada pintu.
Ia tahu, pasti rasa bersalahnya pada Vico semakin besar. Tapi ia tak mampu menolak Rehan. Entah apa yang diinginkannya. Satu sisi ia merasa bersalah tapi disisi lain ada sedikit menginginkan Rehan. Astagaaa... apakah ia sama seperti Fika teman sekantornya yang memiliki kekasih lebih dari satu? Tidak! Nadine memggeleng lalu segera meraih bantal dan mencoba untuk tidur.
Disaat ia ingin melupakan kejadian tadi dering ponselnya berbunyi. Nadine segera mengangkat, dari Sharen.
"Ada apa Ren?" Tanya Nadine.
"Suara kamu kenapa? Kamu nangis?" Tanya Sharen.
"Iya, dia kerumah dan maksa tidur di teras. Dia mau balikan. Aku masih bingun Nad. Aku hatus gimana?" Tanya Sharen.
"Udah cuekin aja dulu. Minta kasih waktu buat berpikir. Jangan sampai kamu malah tertekan. Santai girl. Akan ada waktunya kamu siap nerima penjelasan dari dia. Minta sedikit waktu buat berpikir. Oke?"
"Oke Nad, makasih banyak yah"
"Sama-sama. Dah ah... Tidur. Aku ngantuk"
"Yeee dasar kebo!"
__ADS_1
"Biarin weeee"
Nyatanya Nadine tak bisa tidur sampai lewat tengah malam. Ia hanya berguling ke kana dan ke kiri. Pikirannya bercabang. Ia bingung harus bersikap bagaimana bila esok bertemu dengan Rehan. Pasti terasa canggung sekali. Dulu ia tak ingin mereka pacaran, cukup.menjadi teman dekat dan apa adanya tanpa ikatan. Agar tak canggung. Tapi kini Rehan malah berulah dan menyatakan semuanya membuat Nadine canggung, malu, kesal tapi satu sisi hati yang paling dalam ada sedikit rasa senang. Aaah... ia lagi-lagi merasa bersalah pada Vico.
***
Alarm Nadine berbunyi. Subuh yang dingin, matanya sangat berat untuk dibuka akibat baru bisa tidur lewat tengah malam dan kini subuh ia harus bangun menunaikan kewajibannya. Perlahan ia bangkit dan mengintip. Rehan tak ada di ruangan manapun. Mungkin masih di kamarnya. Nadine segera ke kamar mandi fan melanjutkan kewajibannya.
Namun, ia malah tertidur setelah melaksanakan solatnya. Ia terbangun sudah pukul 06.00. Bergegas ia mandi dan bersiap kerja. Untuk sarapan sepertinya ia tak sempat.
Nadine keluar kamar dan mencari Rehan. Mau tak mau ia membutuhkan Rehan untuk mengantarnya ke kantor. Tapi dipanggil dan di cari sosok Rehan tak di temukannya. Ia membuka kamar tamu. Kosong. Bahkan kamar itu telah rapi. Artinya Rehan telah pergi sebelum Nadine bangun. Sepertinya ia akan naik taksi online.
Tiin... Tin...
Suara klakson membuatnya kaget. Ia keluar dan melihat taksi online baru saja tiba.
"Ibu Nadine?"
"Iya saya"
"Ibu memesan taksi saya melalui bapak Rehan. Mari silahkan masuk!" Ujar supir itu ramah. Ternyata Rehan telah memesankan taksi online untuknya.
"Sebentar, saya kunci pintu dulu!" Kata Nadine lalu ia kembali masuk ke rumah. Memastikan semuanya aman. Ia menemukan sebuah surat diatas meja ruang tamu. Tak ada pengirim tapi penerimanya jelas untuk Nadine.
Nadine memasukkan amplop beserta surat itu ke tasnya. Ia akan membacanya saat di mobil. Dengan cepat ia menutup dan mengunci pintu. Lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Dan Nadine bernapas lega. Setidaknya ia tak terlambat hari ini.
Ia mengirim pesan pada pegawai kantin. Memesan menu sarapan untuknya. Jadi saat sampai di kantor ia bisa langsung menyantapnya. Lalu ia meraih amplop yang ditemukan diatas meja. Sepertinya dari Rehan. Nadine membolak-balik amplop tersebut lalu membukanya dan meraih secarik bukan tetapi ada dua lembar kertas di dalamnya. Dasar. Rehan memang sedikit kuno. Ia masih saja mengirim surat. Apa salahnya ia mengirim pesan melalui salah satu aplikasi di ponselnya. Lebih mudah dan bisa langsung di baca. Bukannya sok misterius seperti ini. Nadine menggeleng dan tersenyum lalu membuka kertas tersebut. Lama-lama matanya membulat besar. Tak menyangka.
__ADS_1
Apakah isi surat itu?
Tentukan jawabannya di episode selanjutnya