Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 17


__ADS_3

Elena menarik napasnya dan meng-klik pesan masuk. Elena menutup matanya sejenak lalu membaca balasan dari Hans. Semakin lama matanya semakin membelalak. Hans hanya mengucapkan selamat untuknya dan berharap pernikahan Elena dan Adam langgeng dan... Elena merasa marah. Ia menutup layar komputernya dan berbaring di kasurnya yang empuk.


Memangnya apa yang diharapkannya? Tentu saja Hans akan mengucapkan selamat. Ia jauh disana. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Elena dari pernikahan tanpa cinta ini. Hubungannya dengan Hans juga hanya sebatas teman. Apakah ini hanya berlaku bagi Hans? Apakah Elena telah jatuh cinta pada Hans tanpa ia sadari? Elena menangis dalam diam. Ia merasa bodoh berharap pada Hans.


Elena mengusap air matanya. Ia harus bercerita pada siapa lagi? Sepertinya ia harus memutuskan semua sendiri. Apakah ia menerima pernikahan ini atau menolaknya? Besok ia harus menemui Adam. Pria itu sudah tak sabar untuk mengetahui apakah Elena menerima pernikahan itu atau tidak.


Elena berharap waktu berhenti sejenak. Pikirannya buntu saat ini. Semoga keputusannya tepat dan tidak merugikannya. Akhirnya lewat tengah malam Elena tertidur.


Keesokan harinya, Elena menemui Adam di sebuah resto tak jauh dari kantor Adam. Saat Elena datang, Adam sedang menikmati es kopi di mejanya.


"Gimana?" tanya Adam.


"Aku terima dengan beberapa poin yang aku tambahkan di sana," Elena menyerahkan kertas yang sudah diberi map. Adam membacanya dan mengangguk. Tak ada yang memberatkannya. Adam segera menandatangani begitu juga dengan Elena.


"Kamu simpan satu, aku juga. Aku harap kamu bisa memainkan peranmu di depan orangtua kita," kata Adam.


"Tak masalah, yang penting penuhi janjimu," kata Elena lalu ia segera pergi. Ia memang tak menyukai Adam, begitu juga sebaliknya. Mereka hanya saling memanfaatkan tapi entah apa keuntungan Adam menikahi Elena. Tak ada yang bisa diambil dari seorang Elena yang hanya seorang gadis sederhana.


Elena berlari saat bus yang menuju ke tempat kerjanya berhenti di halte. Ia berlari dan masuk. Sepanjang perjalanan kepalanya masih dipenuhi oleh keputusannya. Entah benar atau salah ia akan menjalaninya. Ia harus meraih cita-citanya. Jika nanti ia sudah menyelesaikan semuanya, terserah pada Adam. Apakah mereka akan bercerai atau tidak. Pernikahan ini seperti permainan. Semoga saja semua berjalan lancar.


Elena sampai di restonya. Ia segera mengambil alih beberapa pekerjaan. Hana hanya menatapnya dari jauh, ia tahu Hana ingin sekali bertanya tentang kebenaran pernikahannya tapi resto sedang ramai. Ia akan mengobrol sepulang kerja.


"Jadi keputusan kamu beneran mau nikah?" tanya Hana saat jam pulang kerja.

__ADS_1


"Iya," Elena menyandang tasnya dan menunggu Hana selesai dan mereka keluar resto.


"Kamu yakin? Ini nikah loh,"


"Yakin,"


"Nggak bisa sembarangan loh, kalau kenapa-kenapa gimana?" tanya Hana.


"Ya doain aja yang baik-baik Han,"


"Kenapa sih kamu nekat banget Len, ini nggak bisa untuk mainan loh,"


"Aku tahu, namanya juga di jodohin,"


"Nggak semudah itu Han, seandainya bisa aku juga mau," kata Elena.


"Terus kenapa kamu malah setuju aja?"


"Ada banyak pertimbangan,"


"Misalnya?"


"Aku nggak bisa cerita, tapi nanti aku bakal cerita semuanya," kata Elena.

__ADS_1


"Oke deh, aku nggak maksa yang penting kamu bahagia aku ikut seneng," kata Hana.


"Thanks Han," kata Elena.


Mereka berjalan beriringan menuju halte bus dan menunggu. Tak lama kemudian datang bus yang mereka tunggu. Elena dan Hana segera masuk.


Setelah sampai di rumah, Elena segera mandi dan bersiap untuk diajak ke rumah Adam. Pria itu akan menjemputnya tepat pukul tujuh. Elena memakai dress sederhana berwarna coklat susu dengan belt di pinggangnya. Tak lupa tas mungil berisi dompet dan ponsel. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai dan dipermanis dengan bando berwarna senada. Elena swafoto dan mengirimkannya kepada Hana.


'Calon mantu idaman' balas Hana. Elena memberinya emoticon jempol. Sebenarnya ia tak percaya diri dengan dandanan sederhananya. Tapi ia berusaha menepis semua pikiran buruknya tentang Adam yang pasti akan mengejeknya. Elena meraih sepatu flatnya yang berwarna hitam, lalu berpamitan pada ayah dan ibunya saat mobil Adam memasuki halaman rumahnya.


Setelah bertegur sapa dan saling memberi salam, Adam dan Elena pamit untuk segera pergi. Mereka melambaikan tangan ke arah mobil Adam saat mereka keluar halaman.


"Ingat perjanjian kita, berusahalah untuk akting sebagus mungkin," ucap Adam sambil memperhatikan jalanan.


"Ya," jawab Elena singkat. Boro-boro mengejeknya, bahkan Adam tak melihat bagaimana penampilannya. Padahal ia sudah berusaha untuk tampil maksimal.


'Ngapain juga aku mikirin tanggapan dia, berharap di puji? ya minimal apa kek, senyum kek, basa-basi,' batin Elena berbicara. Elena sadar, mereka hanya dijodohkan, seharusnya ia tak berharap lebih mendapatkan sedikit perhatian Adam dengan memujinya atau menghargai apa yang sudah dia lakukan untuk bertemu keluarganya.


Elena menghela napas dan membuang pandangannya keluar. Apa seperti ini rumah tangga yang akan ia jalani? Tidak ada obrolan, tidak ada candaan apalagi pelukan. Padahal Elena berharap ketika ia menikah dengan orang pilihannya ia akan bercerita banyak tentang kesehariannya, betapa pak Gala itu memang Galak, pekerjaannya yang melelahkan atau bercerita tentang teman-teman di resto. Bahkan ia ingin bercerita tentang hal tak penting lainnya, bercanda, mengeluhkan pekerjaan rumah yang akhirnya bisa menyelesaikannya berdua dengan suami. Menonton hingga larut dan berjalan-jalan di malam hari bergandengan tangan dan menceritakan keseharian tetangga. Receh memang tapi bukankah menyenangkan bila dilakukan bersama orang yang dicintai. Sedangkan Adam? Pria dingin itu jarang mengajaknya ngobrol, tersenyum saja jarang.


Lagi-lagi Elena menghela napasnya. Sungguh bosan rasanya. Semoga saja nanti ia bisa kuliah dan menghabiskan waktunya di luar rumah, menemukan kesibukannya dan teman-teman barunya. Pasti menyenangkan bertemu dengan orang-orang baru. Janji Adam untuk membiayai kuliahnya membuat Elena senang dan tak menuntut apapun dari pria itu. Bahkan soal nafkah yang diberikan suami nantinya. Ia bekerja untuk kebutuhannya sendiri. Ia tak akan memanfaatkan Adam untuk hal lainnya, ia yakin ada keuntungan lain yang lebih besar didapatkan oleh Adam bila menikahinya. Yang penting ia akan menggapai impiannya untuk kuliah dan menyelesaikannya semua. Bila selesai kuliah, ia akan membuat toko baju dengan uang yang ia kumpulkan selama ini saat bekerja di resto.


Memikirkan itu semua membuat Elena tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Adam hanya meliriknya sekilas dan tak peduli. Ia berpikir pasti Elena senang dengab surat perjanjian yang mereka setujui. Yang penting gadis itu tak mencampuri urusan pribadinya nanti setelah menikah. Mereka akan bebas seperti sekarang dan tidak terkekang oleh ikatan pernikahan. Mereka bisa menyibukkan diri dan yang paling penting, ia akan mendapatkan perusahaan yang diinginkannya. Adam tersenyum tipis membayangkannya.

__ADS_1


__ADS_2