Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 1


__ADS_3

"Terlambat lagi!"


"Maaf pak, ban motor saya tadi kempes, saya harus dorong motor sampai menemukan bengkel. Itu juga dia baru buka jadi... "


"Kamu lupa menyiapkan alasan yang lain, terlalu tidak kreatif! Minggu lalu juga alasanmu sama! Ayolah, kamu bisa memikirkan nenek-nenek nyebrang! Atau gajah melintas di traffic light!" pria yang menjadi penanggung jawab di restoran tempatnya bekerja menopang tangannya dan mereka masih berdiri di pintu masuk.


"Maaf pak, tapi tadi benar ada paku di ban... "


"Sudah! Anggap saya percaya soal motormu. Dan hari ini tugasmu di belakang. Jangan membantah!" pria itu mengibaskan tangannya saat Elena akan membuka mulutnya.


Gadis itu berlalu dari sana dan segera berganti pakaian yang ada di ruang gantinya. Ia memakai celemek dan segera ke bagian belakang. Ia mendapat tugas membersihkan peralatan masak dan termasuk piring-piring kotor. Ia menghela napas dan dengan semangat ia meraih sabun menuangkannya ke sebuah wadah dan memberi air. Lalu ia mulai mencuci piring dan alat masak dalam diam.


Sebenarnya Elena adalah gadis yang manis, senyumnya menawan cuma ia sedikit ceroboh. Mungkin karena ia adalah karyawan lama sehingga pengawas masih bisa mentolerir keterlambatan Elena. Meski ini bukanlah yang pertama tapi sering kali terjadi. Ia sangat sulit membuka mata di pagi hari apalagi bila malamnya ia masih menonton film kesukaannya hingga larut malam. Tak ada hiburan menyenangkan dan tanpa mengeluarkan banyak uang selain menonton film. Yang dibutuhkan hanyalah kuota ponselnya.


Elena menggelengkan kepala mengingat film yang ditontonnya. Tak lama peralatan masak yang kotor semakin sedikit, ia mempercepat pekerjaannya dan bisa sarapan sebentar.


"Kamu terlambat lagi?" tanya seorang gadis sambil membawa alat kebersihan alias kain pel dan pritilannya. Elena mengangguk dan menyeka keningnya.


"Hmmmh... Tadi aku tak bisa menjemputmu, maaf," ucap gadis itu sambil bertopang pada gagang pel.


"Tak apa, aku ngerti kamu harus mengantar adik-adikmu dulu," kata Elena.


"Tidak, tapi... "


"Kalian di sini bukan untuk ngobrol santai! Ayo selesaikan semua!" tiba-tiba suara si penanggung jawab kembali terdengar di belakang mereka. Ia berkata sambil menepuk tangan, membuat kedua gadis itu terlonjak kaget.

__ADS_1


Elena dan gadis yang bernama Hana itu segera menyibukkan diri. Mereka menyebut pria itu dengan sebutan si Galak. Mereka tak ingin mendapat tugas tambahan lainnya. Bagi mereka bekerja di sini sudah bersyukur, karena tak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini.


Elena adalah gadis tamatan SMA tapi belum bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Jadi ia akan bekerja sebaik mungkin sambil mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti. Sedangkan gadis tadi adalah sahabatnya namanya Hana, ia juga gadis sederhana yang tidak melanjutkan kuliah. Karena dia memiliki 3 orang adik yang semuanya sekolah. Jadi, ia ikut membantu orangtuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga.


Rasa perih di jari tangannya membuatnya tersadar, segera ia menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas mengeringkan tangan lalu beranjak ke lokernya dan mengeluarkan saleb yang ia beli di apotik. Ia mengoleskan pada ujung-ujung jari hingga punggung tangan.


"Kamu sudah selesai? Ini sarapanmu," kata Hana yang menghampirinya dengan sepiring nasi goreng.


"Tapi aku... "


"Ini Hans yang membuatnya untukmu,"


"Tapi... "


"Sudahlah, sarapan aja. Aku akan menemanimu sebentar, "


"Astaga... Alergimu... "


"Tak apa, ini akan sembuh," kata Elena sambil tersenyum. Lalu ia mengajak Hana ke halaman belakang dan ia menikmati sarapannya dalam diam. Ia bersyukur si Galak meskipun ia galak tapi tak pernah mengabaikan orang-orang atau karyawan seperti dirinya. Hanya pekerja rendahan, berbeda dengan Hans yang termasuk asisten koki. Dan ia tahu, Hans ada hati untuknya tapi Elena sadar ia bukanlah level Hans terlebih dia adalah ponakan dari si Galak. Elena berusaha menjaga sikapnya terhadap pria itu. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini. Untuk urusan percintaan dan pernikahan ia serahkan pada Tuhan. Bila waktunya menikah nanti ia akan menemukan jodohnya. Sekarang saatnya memenuhi kebutuhannya dan keluarganya dan berdoa semoga jodohnya adalah yang terbaik dan ia bisa mengangkat derajat keluarganya bila ia mendapatkan pekerjaan yang layak setelah ia kuliah nantinya. Semoga saja.


Elena makan dengan cepat saat Hana pamit membersihkan bagian luar resto. Resto ini tidaklah begitu besar tapi pengunjungnya lumayan ramai. Apalagi mereka juga buka dari pagi dengan menu-menu sarapan. Itulah sebabnya sejak pagi sudah banyak peralatan kotor yang menjadi tugas Elena.


"Hai... Boleh aku duduk?" tanya Hans berdiri di samping tempat duduknya sambil membawa segelas es kopi.


"Silahkan," jawab Elena pendek. Ia duduk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih," ia lalu menyeruput es kopinya.


"Aku yang berterimakasih, kamu menyempatkan membuat ini," kata Elena menunjuk piring yang isinya hampir habis.


"It's ok... Kamu suka?" tanyanya.


"Sangat, tapi lain kali biar aku makan roti saja," kata Elena.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku nggak enak dengan si Gal... Maksudku, pak Gala," kata Elena.


"Sudahlah, toh tak setiap hari aku membuatkanmu. Lagian om Gala tau kok," jawabnya sambil tersenyum. Elena membelalakkan matanya tak percaya.


"Dia... Dia tau?" tanya Elena. Hans mengangguk sambil tertawa lepas menampilkan barisan gigi putih dan rapinya.


"Kamu tahu, resto ini meskipun bukan resto besar tapi mereka masih mempekerjakan karyawannya dengan baik," kata Hans. Elena hanya tertawa miris.


"Iya, terimakasih," jawab Elena pendek. Ia segera meraih tisu dan membersihkan mulutnya.


"Tunggu! Tanganmu... " ia meraih tangan Elena. Elena segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik saku.


"Tidak ada apa-apa. Aku masuk dulu," Rlena segera pamit sambil membawa piring kotornya. Hans sudah begitu baik padanya, ia tak ingin Hans mengkhawatirkan hal sepele di dirinya. Ia takut nanti ia tak bisa bekerja lagi bila mereka tahu ia memiliki alergi terhadap jenis sabun tertentu. Dan ia juga khawatir bila Hans akan geli bila melihat bagaimana jarinya memerah, bentol-bentol dan bahkan saat menyentuh sabun telapak tangannya akan mengalami bolong-bolong halus. Bila melihatnya tentu ia merasa jijik. Ia lupa memakai sarung tangan saat menyentuh sabun tadi. Kini rasa perih, gatal dan panas mendera tangannya.


Hans memperhatikan Elena saat gadis itu masuk. Ia melihat tangan gadis itu memerah. Apakah alergi? Ia akan bertanya pada Hana. Ia tak tahu jika selama ini Elena memiliki riwayat alergi terhadap sesuatu. Sepintas ia melihat bagaimana tangan itu melepuh dan memerah. Apa penyebabnya? ia akan mencari tahu dan tak ingin gadis yang telah mengisi hatinya sejak lama itu mengalami sakit.

__ADS_1


Hans segera beranjak dan bergegas ke dalam resto menemui sahabat Elena. Hana. Gadis itu sedang membersihkan meja. Ia menunggu gadis itu selesai dan kembali ke belakang. Ia akan mencegatnya dan menanyainya.


Tapi sayang, sesaat gadis itu akan selesai. Ia dipanggil untuk menyiapkan beberapa makanan. Mungkin nanti saat istirahat ia akan menanyai Hana.


__ADS_2