
Siang itu Elena sedang bekerja, tepat di jam makan siang Renata mampir untuk bertemu dengan Elena. Elena menemani Renata makan siang.
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja Elen, kalian sebentar lagi akan menikah. Jangan membuat tubuh kamu kelelahan," saran Renata.
"Maaf tante, sepertinya Elena masih harus bekerja sampai akhir bulan ini. Toh pernikahannya bulan depan,"
"Baiklah, hanya sampai akhir bulan ini. Ngomong-ngomong kamu ada nelpon Adam?" tanya Renata.
"Nggak ada tante,"
"Nggak? Kemana anak itu,"
"Ada apa memangnya tante?" tanya Elena.
"Anak itu tadi malam tidak pulang sesudah mengantar kamu, tante pikir ia ke apartemennya ternyata tidak ada dan sampai sekarang tante belum tahu dia dimana,"
"Jangan cemas tante, nanti Elena telpon dia," kata Elena.
"Kamu tahu dia dimana?" tanya Renata. Elena menggeleng pelan, memang Elena tidak tahu.
"Sabar ya tante, coba Elena telpon," Elena mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Adam. Tidak dijawab. Elena tidak putus asa, ia mencoba lagi dan akhirnya diangkat.
"Halo... "
"Elena! Ada apa sih kamu nelpon? Mengganggu!" bentak Adam diujung sana. Dan sayangnya volume suara ponsel Elena memang agak keras, ia lupa mengecilkan volumenya saat menelpon Hana. Dan tentu saja terdengat oleh Renata, membuat mata Renata menyipit.
"Permisi sebentar tan.. "
"Tidak! Berikan ponselnya!" Renata memaksa meminta ponselnya. Elena memberikan ponselnya pada Renata.
"Bagus! Sekarang pulang! Papa mencarimu! hari ini ada meeting tapi kamu abaikan! Ada masalah apa sih kamu?"
"....... "
"Pulang sekarang Adam! Mama tidak menerima alasan apapun! Dan mama tidak menjamin soal perusahaan,"
__ADS_1
"..... "
"Mama tunggu!" Renata segera mematikan ponselnya dan menyerahkan kembali ke Elena.
"Hmmh... Kalian sedang ada masalah?" tanya Renata.
"Ha? Nggak tante,"
"Jangan bohong! Tante tahu anak tante itu agak nakal, kalau dia nyakitin kamu kasih tau tante, biar tante kasih pelajaran,"
"Eeh... Nggak kok tante, nggak,"
"Ya sudah, ayo ikut tante, biar nanti Adam nyusul,"
"Tapi Elen masih kerja," kata Elena.
"Oh iya, tapi satu jam lagi kamu selesai kan? Tante ada perlu, nanti kita ketemu di luar aja satu jam lagi, oke?"
"Siap tante," Elena tersenyum dan mengantar tante Renata keluar.
"Iya,"
"Baik banget, mana cantik lagi. Nggak kebayang anaknya secakep apa," kata Hana.
"Cakep tapi kalo kelakuan minus juga rada-rada,"
"Rada-rada juga manut aja buat nikah hehehehe," goda Hana.
"Hmmmh..." Elena mencibir.
Mereka segera melanjutkan pekerjaan karena sudah dipantau dari jauh oleh pak Gala. Mereka mengambil pekerjaan masing-masing. Hingga satu jam kemudian Elena sudah bersiap menuju tempat dimana Renata menunggu. Tidak jauh dari tempat kerjanya.
Elena memasuki sebuah cafe bernuansa sendu, ruangannya dipenuhi lampu berwarna kuning. Tante Renata selalu bisa memilih tempat yang nyaman. Ia duduk seorang diri sambil menikmati latte hangat.
"Maaf Elena kelamaan tante, tante sudah lama?" tanya Elena.
__ADS_1
"Belum kok, ini pesanan tante juga baru datang, ayo duduk! Tante nelpon Adam tapi nggak diangkat terus, coba kamu juga telpon dia!" kata Renata. Elena kembali mengeluarkan ponselnya dan menelpon Adam.
"Apaan sih?" suara Adam kembali terdengar nyaring di suasana hening cafe, membuat mata Renata memicing
"Uhm... Kamu dimana?" tanya Elena melirik tante Renata.
"Lagi di jalan, jangan menelponku terus!" bentak Adam lalu ia memutuskan sambungan. Elena menarik napas dan kembali duduk di hadapan Renata.
Tak lama Adam datang dengan wajah yang sulit diartikan. Antara marah dan kesal. Ia membanting tubuhnya dan bersandar. Terlihat kelelahan, Elena tak berani menegurnya lebih dahulu.
"Darimana kamu?" tanya Renata.
"Sedang ada pekerjaan di luar,"
"Mama sudah bilang, kamu itu mau menikah. Jangan kerja yang jauh-jauh. Persiapan sebulan itu bener-bener bikin mama pusing. Kalian harus bantu mama," ucap Renata panjang lebar membuat Elena sedikit takut.
"Iya mamaaaa... Jangan cemberut lagi, nanti Adam selalu ada di sini. Jadi, kita mau kemana dulu?" tanya Adam melunak.
"Kita ke percetakan dan MUA, kalau katering mama sudah nelpon kemarin. Menu yang sama dan hanya mengubah jadwal aja," kata Renata.
"Oke, aku makan dulu ya," kata Adam melirik Elena sambil tersenyum, membuat Elena duduk dengan kaku.
Mereka menunggu Adam selesai makan lalu bersama-sama menuju ke percetakan. Mereka meminta ganti model undangan. Elena lebih menyukai yang simpel dan berwarna lembut. Setelah dari sana mereka menuju tempat MUA sekalian memilih beberapa pakaian yang akan dipakai saat akad dan juga pesta. Sayangnya mereka hanya bisa menentukan ukuran pakaian dan menentukan model saja.
Selama itu, Adam lebih senang menghindar dan hanya berkomentar secukupnya. Ada rasa sedih menyelusup di hati Elena saat melihat calon suaminya tidak begitu antusias. Ia pernah memimpikan seperti apa repotnya mengurus acara pernikahannya sendiri, tapi semua dilakukan sepenuh hati dan perasaan bahagia. Yang terlihat bahagia justru tante Renata.
Selesai sebagian perlengkapan pernikahan mereka pulang . Sesampainya di rumah Elena sangat lelah. Lelah fisik dan juga batin. Ingin menyerah tapi ia butuh. Ditambah lagi Adam yang bersikap dingin dan terkadang sangat menyebalkan. Suka marah dan moodnya gampang berubah. Elena takut dan semakin mendekati hari pernikahannya ia merasa semakin bersalah dan sedih. Tidak hanya itu terkadang ada perasaan benci. Sedikitpun tidak ada rasa bahagia di hatinya.
Elena segera membuka komputernya dan merasa hatinya sedikit terhibur. Hans mengiriminya pesan. Bertanya kabar dan juga tentang pesta pernikahannya. Dia bercerita tentang musim di sana dan kegiatannya. Dan dia akan lama membalas email karena sedang menyukai kegiatan mendaki gunung bersama teman-temannya.
Elena iri dengan kegiatan yang bebas dilakukan Hans. Ia juga ingin begitu, ia hanya perlu bersabar sampai acara pernikahan selesai. Setelah itu ia akan bebas mengikuti kegiatan apapun di kampusnya. Belajar yang disukainya dan yang pasti ia tak perlu lagi bersusah payah memikirkan bagaimana membayar biaya kuliahnya.
Elena membalas pesan Hans dan mengatakan bahwa ia merindukan pria itu. Terlihat seperti murahan tapi sedikit ada rasa di hatinya untuk Hans. Ia menyukai pribadi pria itu, selalu ceria dan seolah tak ada masalah apapun dalam hidupnya. Dan ia bebas mau bekerja apa dan kuliah apa dan dimana. Tidak terlalu memikirkan tentang uang kuliah dan kebutuhannya.
Elena mematikan komputernya dan beranjak tidur. Hari-hari berat menantinya. Ia akan memperjuangkan cita-citanya. Ia tahu ayah dan ibunya memang tidak begitu menyukai pilihannya tentang kuliah tapi suatu saat ia akan membuktikan pada orangtuanya bahwa apa yang dicita-citakannya tidaklah seburuk yang mereka pikirkan.
__ADS_1
Elena memejamkan matanya lalu berharap hari esok tidaklah berat. Ia akan mampu melewati ini semua. Demi kuliahnya.