Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 22


__ADS_3

Elena terbangun saat ponselnya berdering, ternyata malam sudah berganti pagi. Elena bangun kesiangan! Ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata itu Adam.


"Ya?" tanya Elena malas berbasa-basi bila mengingat kejadian kemarin saat Adam membentaknya.


"Nanti aku jemput ya, hari ini kita fitting baju," jawabnya ramah yang membuat Elena mual.


"Tumbenan ramah amat, kesambet apa?" kata Elena.


"Nggak ada apa-apa, nanti aku jemput yaaaa,"


"Aku kerja!" Elena segera mematikan ponselnya. Malas mendengar suara Adam yang sok ramah, padahal selama ini ia sangat ketus dan terkesan dingin.


Setelah itu Elena segera mandi untuk mendinginkan kepalanya. Mood paginya berantakan gara-gara Adam. Setelah mandi Elena sarapan bersama ibunya, sedangkan ayahnya sudah pergi kerja lebih dulu. Hari ini Elena bisa bersantai karena ia bekerja shift sore.


"Mau jadi pengantin jam segini baru bangun, ckckck," komentar seseorang yang datang dari dapur membawa cemilan.


"Kakak? Dihhh... Datang nggak bilang-bilang, kapan kesininya? Kok aku nggak tau?" tanya Elena yang memeluk kakaknya Aldo.


"Hmmh... mentang-mentang sibuk ngurus pernikahan, nggak inget sama kakak, nggak tau kakaknya pulang tadi malam," komentar Aldo.


"Ehehehe maaf, kakak sendiri aja?" tanya Elena.


"Iya, anak-anak sekolah. Kalau mbak ya tau sendiri sibuk ngurus anak-anak. Paling nanti udah dekat hari H baru kesini rombongan,"


"Yaaah aku kangen sama si kembar," kata Elena


"Jadi nggak kangen sama kakak?" protes Aldo.


"Ya kangen dong," kata Elena. Aldo adalah anak tertua di keluarga Elena. Mereka hanya dua bersaudara. Aldo sudah menikah dan mempunyai anak kembar bernama Sella dan Selli. Mereka berumur dua tahun.


"Abis makan temenin kaka belanja titipan si kembar yah,"


"Oke, tapiiii tadi Adam nelpon,"


"Adam calon kamu itu? Bagus, kamu temenin kakak dulu nanti kakak temenin kamu ketemu dia. Kakak pengen tau laki-laki kayak apa yang bisa naklukin kamu,"


"Ihhh kakak apaan sih!"


"Dah cepat makannya, kakak tunggu,"


"Siap pak bos!" Elena segera makan dan berganti pakaian. Lalu berjalan keluar setelah berpamitan pada ibunya.


"Kita mau nyari apaan buat si kembar?"

__ADS_1


"Apa aja deh, eeeh ya mereka nitip ransel sisanya ntar belikan mainan sama makanan aja,"


"Ok deh,"


Berkali-kali Adam menelpon, diabaikan oleh Elena.


"Siapa yang nelpon? Kok dimatiin?" tanya Aldo.


"Adam," jawab Elena.


"Adam itu calon suami kamu kan?" tanya Aldo, Elena mengangguk.


"Iya, cuma aku mau sama kakak dulu," kata Elena.


"Nggak apa-apa emangnya? Ajak aja dia bareng kita kalau dia mau," kata Aldo.


"Nggak ah,"


"Aneh banget, dimana-mana kalo orang pacaran, mau nikah, apa-apa tuh maunya bareng aja,"


"Ehehehe... Kan orang lain," jawab Elena.


"Tapi serius deh Len, gimana ceritanya kamu bisa memutuskan untuk nikah? Setahu kakak kamu mau kuliah dulu,"


"Yaaa... Manusia itu kan bisa berubah kapan aja,"


"Nanyanya gitu banget sih,"


"Lah iya, nikah itu bukan soal main-main. Bukan cuma i love you, you love me, hidup serumah and than happy ending. Nggak Len! Nikah itu kita nyatuin semua perbedaan, nyatuin dua keluarga, melengkapi kekurangan. Jangan sampai nanti salah langkah, kamu yang nyesel," kata Aldo.


Elena terdiam mendengar penjelasan kakaknya. Semua kata-kata Aldo benar dan menohok hatinya. Elena tak ingin salah langkah tapi mengingat perjanjiannya, Elena lebih memilih menutup mulut.


"Kakak nggak mau nanti endingnya nggak enak Len,"


"Kakak doain yang nggak enak nih?"


"Yah nggak gitu, buat adik kesayangan kakak nggak mungkin doain yang buruk. Kamu udah dewasa, pikirkanlah baik-baik. Dan kakak ngerasa ini terlalu cepat. Kamu nggak lagi hamil kan?" tanya Aldo curiga menatap perut Elena.


"Sembarangan!" Elena memukul lengan Aldo. Aldo tertawa lebar.


"Elena memang memilih jalan ini kak,"


"Bukannya kamu mau kuliah dulu? Kalau mau, tinggal aja di rumah kakak. Nanti kakak bantu setengah uang semester kamu," kata Aldo, seketika Elena tergiur dan memang tak seharusnya ia menikah dengan alasan konyol karena ingin kuliah. Kesannya ia memanfaatkan situasi dan kekayaan Adam.

__ADS_1


"Sebenarnya Elena juga nggak mau kak, tapi kakak tahu kan gimana ibu. Elena dijodohkan sama orang gak Elena kenal. Sebenernya Elena sudah menolak berkali-kali tapi pihak keluarga laki-laki benar-benar memohon. Bahkan sampai membujuk ibu dan ayah, bagi Elena apapun pilihan ayah dan ibu pasti terbaik untuk anaknya,"


"Meski kamu nggak cinta?" tanya Aldo.


"Ya,"


"Apa nggak ada orang yang kamu cintai? Alasan untuk membatalkan? Kakak kok rasanya ragu,"


"Nggak ada kak, orangnya udah pergi ninggalin Elen,"


"Astagaaaa... Kamu nggak cerita ke kakak?"


"Nggak apa-apa kak, life must go on... Buat apa juga aku ngejar orang yang sama sekali nggak mau, capek!" kata Elena.


"Ternyata kamu lebih dewasa dari perkiraan kakak, dan soal pernikahan kamu kakak berharap kamu bahagia. Meski bukan pilihan kamu,"


"Amiiin, makasih kak!" Elena tersenyum.


Akhirnya pagi itu mereka fitting baju, karena beberapa toko mainan masih belum buka. Mereka bertemu di salah satu tempat penyewaan pakaian pengantin. Adam belum datang, jadi Elena masuk bersama Aldo.


"Mbak Elena! Ayo masuk! Wah... Calonnya yang ini?" sang pemilik menunjuk Aldo.


"Bukan, ini kakak saya yang nemenin,"


"Ehehehe kirain, ayo ikut saya untuk pilih model dan masnya bisa di ruang tunggu," ia menjelaskan sambil mengajak Elena ke ruang penyimpanan pakaian pengantin.


Saat Elena memilih pakaian yang disukainya, Adam masuk dan memeluk pinggangnya. Elena melotot tapi Adam hanya tersenyum sekilas.


"Maaf kalau aku terlambat, jangan manyun gitu dong," godanya sambil menoel hidung Elena. Elena hanya tertawa garing.


"Masnya mau ikut milih warna dan model sekalian? Siapa tahu ada masukan," kata mbak pemiliknya.


"Oh boleh, saya mau yang bahu terbuka," jawabnya enteng.


"Nggak! Yang model biasa aja tapi cukup elegan," Elena membantah.


"Iya deh, kita coba beberapa aja biar aku tahu cocok atau nggak, gimana?" tanya Adam.


"Terserah!"


"Mbak, coba rekom yang kira-kira cocok," pinta Adam.


Elena mengikuti mbaknya menuju belakang dan mencoba beberapa pakaian untuk acara akad dan resepsi. Juga hanbok pengantin atas permintaan Kim.

__ADS_1


Cukup melelahkan, akhirnya Adam duduk bersandar di sofa sambil menunggu Elena fitting baju. Ia tak mau keluar dari ruang ganti saat mencoba pakaian pengantinnya. Membuat mood Adam memburuk karena kesal. Biar bagaimanapun ia juga berhak menentukan pilihan. Ia tak mau nanti terlihat biasa saja dan terkesan sangat sederhana. Seseorang menepuk bahunya saat ia sedang mengangkat telepon dari Emili. Adam kaget dan melihat ke belakang ternyata....


Akhirnya.... Terima kasih yang masih setia nunggu tiap part nya, dan makasih yang udah mau baca. Mohon maaf kalau sedikit slow... Semoga suka yaaaaa....


__ADS_2