
Mereka membelah jalanan di teriknya matahari. Hans tak merasakan hawa panas yang menembus jaketnya. Ia merasa nyaman dengan kedua tangan Elena melingkar di pinggangnya. Ia melirik tangan yang memerah itu lalu memutuskan menuju klinik salah satu temannya.
"Hans, kita mau kemana?"
"Sebentar, kita harus mengobati tanganmu,"
"Tidak apa-apa. Aku sudah ada obatnya. Ayo kembali," ajak Elena. Tapi Hans tetap ngotot dan memarkirkan motornya di halaman salah satu klinik.
"Ini harus diobati," kata Hans menarik tangan Elena.
"Tak apa, besok akan sembuh,"
"Ini muncul karena bekerja di tempat pamanku. Dan aku merasa harus ada kompensasinya,"
"Tapi aku memecahkan piring!"
"Dan penyebabnya karena ini. Kalau ini tidak muncul kamu tidak akan memecahkan piring. Ayo, kita obati dulu," Hans menarik pergelangan tangan Elena untuk masuk dan berhati-hati untuk tak menyentuh tangannya yang memerah. Ia takut Elena merasa kesakitan.
Setelah berobat Hans tidak langsung membawa Elena pulang, melainkan mengajaknya makan karena tadi di resto mereka belum sempat makan. Itulah tidak enaknya bekerja di resto. Saat jam makan mereka harus menahan lapar dan siap sedia untuk menghidangkan aneka makanan yang di pesan. Setelah sepi barulah mereka bisa istirahat dan makan.
"Setelah ini antarkan aku pulang," pinta Elena.
"Tidak, kamu harus menemaniku,"
"Hei ini namanya pemaksaan,"
"Tidak! Anggap saja mengganti jam libur kamu, 2 hari," jawab Hans menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Ini harusnya tidak masuk urusan pekerjaan,"
"Kata siapa? Ini termasuk urusan pekerjaan. Kamu harus ganti rugi rasa rinduku bila kamu libur. Itu tidak bisa di hargai," kata Hans mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan menggodaku Tuan Koki! Eh tapi aku bingung, kenapa aku diliburkan sampai 2 hari? Seharusnya aku nambah jam kerja,"
"Mungkin pamanku punya pertimbangan sendiri. Dan aku mohon, maafkan pamanku bila dia galak,"
"Tak apa, toh dia tak akan marah bila aku tak melakukan kesalahan. Aku yang harus memperbaiki jadwalku," kata Elena. Hans tersenyum menatapnya membuat Elena salah tingkah.
Setelah makan Hans memaksanya untuk menonton di bioskop. Mereka menikmati film komedi yang dipilih Hans.
"Rasanya aku ingin waktu berhenti sebentar," bisik Hans
"Kenapa?" tanya Elena.
"Aku mau kita terus seperti ini," kata Hans. Elena tak menanggapi dan tetap menonton layar di depannya.
Hans mengecup pipi Elena membuat gadis itu tersipu malu dan sedikit marah. Tapi kali ini dia memaafkan Hans karena mereka sedang di tempat umum.
Setelah menonton, Elena memaksa untuk pulang. Jujur saja ia mulai tak nyaman dengan Hans di sampingnya. Akhirnya Hans mengalah dan mengantar Elena pulang.
Jika ingin jujur Elena sebenarnya tak ada sedikitpun rasa untuk Hans. Ia menganggap Hans seperti kakaknya sendiri. Ia tahu Hans tidak sama seperti dirinya, Hans ada perasaan untuk Elena. Beberapa kali secara tak langsung ia mengatakannya tapi Elena pura-pura tidak tahu. Ia takut saat menolaknya mereka akan canggung.
Semakin lama Hans semakin menunjukkan perasaannya. Elena ingin menghindar tapi tak bisa. Ia masih membutuhkan pekerjaan di sana. Mungkin jika dia mendapatkan pekerjaan di tempat lain, ia akan berhenti dari resto pak Gala.
Sesampainya di rumah, Elena membersihkan dirinya. Lalu menemui ibunya di dapur. Wanita hebat itu sedang memasak untuk makan malam. Ia membantu memotong sayuran.
__ADS_1
"Tumben bantuin masak," goda ibunya.
"Ehehehe... pengen bantu aja, bu, "
"Ada apa?" tanya ibunya sambil mengaduk isi kuali.
Elena menceritakan semua yang terjadi di tempat kerjanya juga tentang Hans yang mengajaknya ke klinik.
"Elen, kamu itu sudah dewasa. Ibu nggak masalah kalau kamu mulai dekat dengan laki-laki,"
"Tapi bu, Elen belum siap. Elen pengen kuliah dulu,"
"Kuliah itu bisa kapan aja, kalau nikah dan punya anak itu ada masa kadaluarsanya. Tapi ibu nggak maksa kamu untuk cepat-cepat. Perkenalan aja dulu juga gak apa, untuk saling mengenal,"
"Nanti ajalah bu, kalau udah jodohnya juga bakalan datang sendiri, " jawab Elena.
Malam hari setelah makan, Elena masuk ke kamarnya. Kamar sempit yang hanya muat sebuah lemari pakaian, ranjang dan meja belajar kecil itu adalah tempat ternyaman. Elena pandai mengatur barang meski di tempat sempit bisa tertata rapi dan terlihat menarik.
Di kamar yang sempit ini, pikirannya bisa menembus kemana pun. Banyak hal yang dipikirkannya. Tentang kehidupannya, pekerjaannya dan masa lalunya. Elena memikirkan masa lalunya. Ia pernah berpacaran dengan seorang teman sekolahnya. Namanya Eldric. Orangnya sangat berbakat. Mereka dipertemukan saat perpisahan, berlanjut setelah lulus. Dan akhirnya Eldric mengenalkannya pada orangtuanya dan di sanalah Elena mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Lalu Elena meminta mereka untuk jalan masing-masing. Keluarga Eldric adalah keluarga kaya dan terpandang, sangat jauh berbeda dengan keluarganya yang sederhana.
Beberapa saat setelah mereka putus, Eldric masih mencoba menghubunginya namun Elena sengaja mengabaikannya. Dan akhirnya Eldric menyerah dan mereka tak lagi berkomunikasi meski Elena masih dapat melihat status whattsap Eldric. Sejauh ini belum terlihat apakah Eldric sudah memiliki pacar. Bukannya GR tapi di dalam hati Elena merasa senang bila Eldric masih mencintainya.
Saat tersadar, Elena menggelengkan kepalanya. Sosok seperti Eldric sangat mudah mendapatkan pacar. Memiliki wajah tampan, berkulit bersih dan dari keluarga yang kaya dan terpandang. Keluarga pebisnis. Bahkan Eldric bisa saja menggandeng wanita sekelas model bahkan artis.
Sedangkan Elena? Entahlah, bagaimana kehidupannya kelak. Laki-laki seperti apa yang akan mendampinginya kelak. Yang terpenting laki-laki itu baik, bertanggung jawab dan setia itu sudah menjadi kriterianya. Mengharap orang seperti Eldric mendampinginya rasanya itu tidak mungkin.
Tak lama Hana menelponnya, mereka asyik bercerita tentang banyak hal membuat Elena kembali ceria dan tertawa. Hana adalah sahabat terbaiknya. Sahabat yang mengerti dirinya. Sahabat yang selalu ada di saat Elena sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Setelah Hana menelpon, beberapa kali Hans mengiriminya pesan yang diabaikan oleh Elena. Ia sedang mempertahankan hatinya untuk tidak terlalu nyaman dengan kebaikan pria itu. Ia tak ingin kejadian masa lalu kembali terulang bersama Hans. Hans cukup menjadi seseorang selayaknya kakak, tempatnya bercerita hanya tentang pekerjaan. Selebihnya ia lebih memilih Hana. Ia tak ingin menjadi seseorang yang memberi harapan pada Hans. Hans layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dan setara dengannya. Elena akan bahagia bila Hans segera menemukan tambatan hati dan menikah.
Elena tersenyum tapi setetes air matanya meluncur dari sudut matanya. Entah apa yang membuat air matanya keluar. Ia meyakinkan hatinya agar tak jatuh dalam pesona Hans. Ia menekan dadanya dengan kuat sambil memeluk guling. Lalu memejamkan matanya dan berharap segera tertidur.