Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 37


__ADS_3

Elena memasuki unitnya dan meletakkan belanjaannya di samping kulkas. Ia segera meraih handuk kecil dan air hangat untuk mencuci luka di siku dan lengannya. Tidak terlalu besar tapi terlihat dalam dan dari luka itu terlihat darah yang mulai mengering.


Baru saja ia akan mencuci lukanya, mama Renata datang dan terkejut melihat luka di tangan Elena.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Renata.


"Tidak apa-apa ma, ini hanya luka kecil," jawab Elena.


"Sini mama bantu bersihkan! Ini kenapa bisa begini?" tanyanya sambil mengelap luka Elena.


"Terimkasih ma, ini tadi Elena kesenggol mobil waktu nyeberang. Luka sedikit,"


"Terus? Orangnya nyamperin?" tanyanya.


"Nggak ma, kabur dia. Tapi untunglah tadi Elena ditarik seseorang. Kalau telat aja pasti Elena ketabrak,"


"Kok bisa sih? Kamu kemana emangnya? Kok nggak naik mobil atau minta anter Adam?"


"Di market seberang aja ma, Elena mau belanja makanan sedikit. Eeeh kejadian gini!"


"Lagian Adam itu gimana sih! Bukannya penuhi kebutuhan kamu,"


"Nggak apa ma, Adam kan sibuk. Ke depan doang nggak apa. Ini juga luka kecil aja,"


"Tapi kan bahaya,"


"Udah nggak apa ma, kan jarang-jarang juga belanja ke sana,"


"Lain kali ajak Adam!" perintah Renata.


"Iya ma, mama sudah makan? Tadi rencana Elen mau bikinin makanan buat mama,"


"Nggak usah, kamu lagi luka gitu. Udah nanti kita beli aja. Kamu sibuk hari ini?" tanya Renata.

__ADS_1


"Nggak ma, ada apa?"


"Mama mau ngajak kamu ke salon, tapi kondisi kamu begini. Besok aja ya,"


"Baik ma," jawab Elena. Sebenarnya ia juga sedang malas keluar dan hanya ingin di rumah saja. Kejadian tadi masih membekas di kapalanya dan ada sedikit rasa takut untuk keluar. Entah siapa yang menabraknya.


Karena Elena ingin istirahat, rencana untuk ke salon ditunda Renata. Jadi sebelum jam makan siang ia pulang dan memastikan Elena baik-baik saja. Ia juga menelpon Adam agar pulang makan siang menemani Elena.


"Kamu di tabrak?" tanya Adam tanpa salam saat masuk ke kamar. Elena mengangguk.


"Cuma kesenggol sedikit," kata Elena saat Adam melihat luka di lengan sebelah kanan Elena.


"Mau berobat?" tanyanya ragu. Elena tertawa sambil menggeleng.


"Nggak perlu, cuma luka sedikit gini. Besok juga udah oke," kata Elena. Adam mengangguk dan segera ke dapur. Ia melihat sudah ada masakan tersaji.


"Ayo temani aku makan," kata Adam dari pintu kamar. Elena beranjak dari ranjang lalu ke dapur mengambilkan makan untuk mereka berdua. Mood Adam membaik siang ini, meskipun masih irit bicara tapi ia berusaha mengajak Elena ngobrol.


Tapi ditengah suasana hangat, dering ponsel Adam membuat mereka terdiam. Adam melirik sekilas ke arah Elena dan beranjak menjauh menerima telepon. Sedangkan Elena melanjutkan makannya.


Elena menyelesaikan makan siangnya dan membersihkan bekas makan mereka. Bahkan Adam baru makan setengah dari porsinya tapi sudah pergi. Elena hanya menarik napas, membuang sisa makanan lalu melanjutkan membersihkan piring-piring bekas makan mereka.


Setelah membersihkan dapur, Elena berniat membuat puding. Sambil menyiapkan bahan, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


Adam berlari meninggalkanmu hanya untuk makan siang denganku


Bunyi pesan dari Emili disertai beberapa unggahn foto mereka yang sedang makan. Elena menarik napas lalu mengetik balasan.


Tak masalah, aku tidak mau bersaing apalagi bertengkar hanya untuk merebut seseorang yang sudah sah milikku.


Telak. Mungkin disana Emili sedang kesal. Ia mengetik sangat lama, dan pesannya berisi hujatan yang membuat Elena muak. Elena meletakkan ponselnya dan membiarkan ponselnya dipenuhi segala macam pesan dari Emili. Elena melanjutkan memasak.


Untunglah mood Elena membaik karena Hana akan berkunjung ke apartemennya yang disambut Elena dengan senang hati. Benar saja setelah lewat tengah hari dia datang dengan membawa beberapa buah dan kue.

__ADS_1


"Katanya kamu dicium mobil ya?" tanyanya sambil tersenyum.


"Begitulah,ayo duduk sini!" Elena mengajaknya duduk. Mereka bercerita banyak hal, tentang pekerjaan, teman-teman di cafe hingga menyinggung permasalahan rumah tangga Elena.


"Jadi, urusan suami kamu dengan masa lalunya belum kelar?" tanya Hana. Elena menggeleng.


"Aku nggak ngerti juga. Emili sedang hamil dan sepertinya dia bahagia dengan keluarganya tapi entah kenapa dia selalu ingin Adam di sampingnya selalu," kata Elena.


"Tegasin aja say, gimana ya bilangnya. Egois sih menurutku. Harusnya dia itu tegas, pilih salah satu biar nggak ada yang sakit hati,"


"Yaaa gimana ya bilangnya... Kami sama-sama saing membutuhkan," kata Elena.


"Ya justru itu, kalo saling membutuhkan dia tegas dong ke Emili. Lagian tu cewek udah punya semuanya masih juga serakah!"


"Nggak gitu Han, tapi gini..." Elena mencerirakan tentang pernikahan mereka hanya status dan dia juga menjelaskan tentang perjanjian pra nikah yang hanya mereka berdua yang tau.


Setelah bercerita panjang lebar, Hana hanya bisa menggeleng. Tidak menyangka sahabatnya itu nekat menikah dengan alasan yang nggak masuk akal baginya.


"Cuma karena pengen kuliah kamu gadai cinta?" tanya Hana.


"Yeee nggak gitu juga,"


"Lah terus? Kuliah itu sebenarnya bisa disambi dengan kerja. Kenapa malah nikah sih?" tanya Hana. Elena menggaruk kepalanya, kalau dipikir-pikir benar juga, tapi terlanjur mau gimana?


"Terus gimana?" tanya Elena.


"Kok nanya aku? Ya udah jalanin aja, tapi inget! Jangan keganjenan ntar kalo udah kuliah. Dah punya lakik!" ujarnya sambil tertawa, Elena pun ikut tertawa.


"Nggak akan! Kecuali ada yang lebih baik," kata Elena sambil tertawa. Mereka bercerita banyak hal hingga lupa waktu. Hana bisa membuat Elena melupakan kesedihannya sejenak. Srmpat ia berpikir bahwa dia telah salah mengambil keputusan tapi semua sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. Dan sekarang ia harus jalani semuanya meski ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Mengingat keluarga besar mereka, tapi dengan cepat Elena menepis semua pikiran buruk itu.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Awalnya dia ingin masuk tapi mengurungkan niat karena kedua gadis itu sedang asyik bercerita. Ya, dia adalah Adam. Entah kenapa rasanya Adam sangat kesal mendengar cerita mereka.


Dengan cepat dan sedikit keras Adam mebanting pintu lau berjalan keluar. Kedua gadis itu terlonjak dan terdiam. Hingga beberapa detik kemudian akhirnya Elena tersadar.

__ADS_1


"Duh, gimana ini? Apa Adam mendengar semuanya?" tanya Elena.


"Maaf..." kata Hana memelas. Akhirnya tak banyak yang bisa mereka lakukan dan Hana segera pamitan pulang meski hatinya benar-benar merasa tidak enak. Ia takut jika Adam kesal dan memarahi Elena. Apalagi kalau Adam marah dan mencarinya. Hana bergidik ngeri dan cepat-cepat pergi dari apartemen Elena. Mungkin suatu saat jika ia ada kebranian akan meminta maaf pada Adam. Tapi entah kapan.


__ADS_2