Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 27


__ADS_3

Mereka sarapan dalam diam. Elena merasa sedikit menjaga jarak dan obrolan dengan Adam. Dan Adam pun tidak berusaha untuk membuka obrolan panjang. Mereka benar-benar dua orang asing yang dipaksa makan dalam satu meja yang sama.


Setelah sarapan, Adam segera mengajaknya pulang ke apartemen dengan membawa pakaian dan barang milik Elena yang lumayan banyak.


Sampai di apartemen, segera Elena membereskan pakaiannya dan Elena merasa bersyukur Adam mau membantunya membereskan lemari. Hingga kini pakaian mereka tertata rapi dalam satu lemari yang sama. Lalu Adam menunjuk tumpukan kado pernikahan di pojok ruang tamu. Elena hanya menghela napas dan malah berbaring di atas kasur. Diikuti Adam.


"Maaf ya, aku jadi menyeretmu dalam situasi ini," kata Adam.


"Aku yang merasa memanfaatkanmu, terutama untuk kuliahku," kata Elena.


"Tidak, kita sama-sama diuntungkan karena ambisi kedua orangtua kita. Aku harap kamu bisa bertahan dalam rumah tangga kita," kata Adam. Seketika Elena duduk dan teringat hubungan Adam dan pacarnya. Elena merasa dirinya sebagai perusak hubungan orang.


"Aku mengerti dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik selama kita mencapai tujuan kita," kata Elena.


"Bagus!" kata Adam tersenyum sambil mengangguk.


"Uhmmm tapi satu lagi boleh aku meminta?" tanya Elena.


"Apa?" tanya Adam.


"Jangan membentak atau memarahiku karena sesuatu yang tidak aku pahami," kata Elena.


"Baik, akan aku usahakan untuk tetap tenang," kata Adam.


"Thanks," ucap Elena tulus. Adam tersenyum.


"Uhm... Bisakah masakkan sesuatu untuk kita makan siang?" tanya Adam.


"Hahaha.. Oke, kita lihat ada apa di dapurmu," kata Elena.


Mereka berjalan menuju dapur dan ternyata isi kulkasnya dipenuhi makanan instan dan buah, serta berbagai minuman kaleng. Elena menarik napas.


"Kenapa?" tanya Adam yang ikut melihat isi kulkasnya.


"Kamu laper banget?" tanya Elena.


"Tidak terlalu sih,"

__ADS_1


"Ya sudah, aku buatkan sesuatu lalu kita belanja," kata Elena menarik sebungkus mie instan.


"Tidak usah, kita belanja saja. Nanti beli cemilan," kata Adam. Elena mengangguk. Seketika ia melihat kehidupan rumah tangga yang normal selama pembicaraan mereka. Tapi Elena sadar, ini hanyalah lingkar kehidupan sederhana mereka yang saling ketergantungan. Tak ubahnya gaya pacaran orang masa kini yang hidup serumah. Bedanya mereka tanpa ikatan tapi penuh cinta. Sedangkan yang Elena jalani, ikatan sah namun tanpa cinta di dalamnya. Entah mana yang lebih miris. Yang penting jalani saja. Life must go on.


Mereka berbelanja berbagai kebutuhan sekalian untuk stok makanan. Elena tersenyum melihat Adam menemaninya ke lorong market untuk membeli berbagai kebutuhan mereka. Bila dipikir, Adam bukanlah sosok yang menyebalkan dan dingin. Mungkin benar kata mama Renata bahwa sebenarnya anaknya adalah sosok yang baik.


Setelah belanja, Elena segera memasak dan menyiapkan semuanya diatas meja makan. Sementara itu Adam asyik di depan laptopnya, mungkin mengerjakan pekerjaannya. Elena memanggil untuk makan siang. Mereka makan dalam diam. Suasana yang membuat Elena canggung tapi juga seketika merasa senang karena Adam makan lahap dan minta tambah. Berarti Elena memang bisa masak sesuai dengan selera Adam. Padahal ia tak tahu apa kesukaan suaminya itu.


Sore harinya, mama Renata dan papa Kim datang untuk melihat Elena dan Adam. Mereka senang karena Elena dan Adam menunjukkan keromantisan meski terlihat masih canggung dan malu-malu.


"Malam ini gimana?" tanya Elena saat ia mau tidur dan kedua orangtua Adam sudah kembali pulang.


"Ooh itu, kamu tidur aja disana. Aku tidur di depan. Ada sedikit pekerjaan yang mau diselesaikan!" kata Adam, Elena mengangguk dan pamit tidur.


Sebenarnya tubuh Adam terasa sakit harus tidurG di sofa. Tapi ia takut kalau tidur di ranjang yang sama dengan Elena nanti akan berakibat buruk. Mereka tidak ada merencanakan anak dimasa depan. Hanya sampai keinginan mereka berdua tercapai maka selesai juga kisah pernikahan mereka.


Tengah malam Adam terbangun karena ada aroma coklat. Ia duduk dan melihat Elena membawa cangkir menuju balkon. Adam berjalan menuju pintu tapi urung mendekati Elena karena gadis itu tengah mengusap air matanya sambil menatap langit. Entah apa yang dipikirkannya.


Tak lama gadis itu menyesap minuman coklatnya dan duduk dalam diam diantara pekatnya malam. Adam merasa ingin buang air, maka ia menuju toilet dan kali ini ia keluar menemui Elena yang masih menatap langit.


"Kamu tidak tidur?" tanya Adam.


"Aku terbangun karena panggilan alam. Wuah kamu membuat susu hangat, boleh buatkan aku juga?" pinta Adam. Gadis itu mengangguk dan masuk ke dalam membuatkan minuman. Tak lama ia keluar dengan setoples roti dan coklat panas.


"Minumlah!" kata Elena.


"Terimakasih!"


Mereka duduk dalam diam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Semua ini terasa canggung.


"Len!"


"Dam!"


"Kamu duluan!"


"No, lady first!"

__ADS_1


"Nggak jadi," kata Elena sambil tersenyum.


"Ooh... Uhm aku cuma mau minta tidur di kamar," kata Adam.


"Haaa?"


"Rasanya badanku sakit berhari-hari tidur di sofa," kata Adam sambil menggaruk kepalanya.


"Ini bukan modus kan?" tanya Elena curiga.


"Modus apa lagi nih? Wuah ternyata kamu dipenuhi pikiran negatif!"


"Ya wajar kan? Aku kan takut kamu..."


"Nggaaak! Sorry nih ya, kamu bukan tipeku,"


"Tetap aku harus jaga-jaga,"


"Ayolah, aku nggak bisa tidur lagi di sofa,"


"Kita cari jalan tengahnya!" kata Elena.


Akhirnya mereka ke kamar dan Elena mencari beberapa badcover lalu menyatukannya. Dilapisi lagi dengan selimut lembut. Lumayan empuk meski tak setebal kasur di ranjang.


"Mau coba?" tanya Elena.


"Kenapa nggak kamu aja?" tanya Adam. Elena menarik napas sambil mendekap tubuhnya. Lalu tiba-tiba Adam melompat ke atas ranjang dan bergulung di selimutnya.


"Sudah lama aku merindukan kasur dan selimut ini, gantian ya. Awas jangan macam-macam denganku,"


"Siapa juga yang mau macam-macam! Ogah banget! Lagian aneh, dimana-mana tu cowok ngalah!"


"Yeee udah kebanyakan ngalah! Udah gantian. Tidur!" Kata Adam.


Mau tak mau Elena segera meraih selimut dan menarik bantal dari ranjang Adam lalu ia berbaring. Aneh rasanya. Tapi lebih baik dibandingkan di sofa. Elena segera tertidur karena ia sedikit lelah. Dan setelah mendengar dengkur halus Elena. Adam bangun dan menatap Elena yang tidur disamping bawah ranjangnya.


"Maaf ya, besok kita cari kasur tambahan. Aku mau tidur nyenyak," bisik Adam. Lalu ia tidur kembali.

__ADS_1


Malam itu mereka tidur berdekatan meski tidak di ranjang yang sama. Satu hal yang akhirnya Elena pahami, bahwa Adam tidaklah seperti yang selama ini ia bayangkan. Dan Adam juga memahami bahwa Elena adalah gadis yang manis juga sangat sabar. Entah bagaimana hubungan mereka akhirnya nanti. Kita hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja dan memiliki akhir yang bahagia. Tapi tidak tahu bagaimana takdir menuntun kita.


__ADS_2