
Setelah mamanya kembali pulang, Adam menarik tangan Elena dengan kasar lalu menghempaskan gadis itu ke tempat tidur mereka. Adam menutup pintu dengan keras dan berbalik menatap Elena. Jantung Elena berdetak keras. Apalagi sekarang?
"Kau! Apa yang sudah kamu lakukan ke Mili?" tanya Adam. Napasnya menderu.
"Apa kamu juga bertanya hal yang sama padanya?"
"Tentu saja!"
"Apa kau yakin dia jujur?" tanya Elena.
"Ya, aku percaya padanya!" jawab Adam.
"Kalau kamu percaya dengannya, kenapa harus bertanya alasan padaku? Bukankah kamu tidak akan percaya? Tak perlu repot-repot menanyaiku, karena apapun alasannya, aku akan tetap salah!" jawab Elena, ia berdiri dan berniat keluar kamar. Ia merasa gerah satu ruangan dengan Adam. Adam menarik tangannya dan kembali menghempaskan tubuh Elena ke tempat tidur.
"Aku masih mau bicara! Apa yang kamu lakukan ke Emili? Dia sedang hamil!"
"Ya! Dia hamil anakmu kan? Lalu apa? Kamu berharap aku mengalah? Dengan senang hati, silahkan nikahi dia!" tantang Elena.
"Tidak semudah itu! Tak bisakah kalian akur sebentar? Ingat, kamu juga harus kuliah," ucapnya sedikit melunak.
"Bukankah selama ini aku sudah melunak terhadap kalian berdua, kurang apa lagi aku mengalah?" tanya Elena. Adam terdiam, seperti menimbang sesuatu.
"Ya sudah, aku minta maaf. Kamu tahu begitu ruwetnya pikiranku,"
"Aku ngerti, Dam. Tapi aku benar-benar merasa dirugikan di sini. Aku baru tahu ternyata kamu dan Emili belum mengakhiri hubungan kalian,"
"Terus kamu berharap aku menyudahinya? Sementara ada anakku di rahimnya?" tanya Adam.
"Apa benar itu anakmu?" tanya Elena. Sedetik kemudian Adam akan menamparnya tapi urung. Ia lalu berjalan keluar kamar dan membaringkan tubuhnya di sofa. Hampir saja ia kelepasan dan memukul Elena sekali lagi. Adam merasa kesal dengan dirinya yang mudah sekali tersulut emosi.
Sementara itu di kamar, Elena menangis dalam diam. Ia kesal tak bisa melakukan apapun. Ia benar-benar merasa terperangkap. Ia harusnya membenci Adam lalu meninggalkannya. Tapi lagi-lagi ia memikirkan kedua orangtuanya. Elena berbaring di tempat tidurnya, menarik selimut dan mencoba tidur. Meski air matanya masih saja mengalir. Akhirnya ia tertidur setelah puas menangis.
Adam yang terbangun di tengah malam, segera beranjak kekamar. Ia membasuh wajahnya dan kembali ke tempat tidurnya. Ia melihat Elena sekilas, lalu mengusap kepala gadis itu sebentar lalu naik ke tempat tidur.
__ADS_1
* * *
Hari ini Elena malas mau melakukan apapun, ia membiarkan Adam melakukan apapun di rumah. Ia berpura-pura tidur untuk menghindari Adam. Setelah Adam pergi bekerja, barulah Elena bergegas bangun dan buru-buru mandi untuk ke bimbel. Ia hampir terlambat.
Elena masuk ke kelasnya dan mengikuti kegiatan belajar hingga jam makan siang. Saat jam makan siang ia segera mengisi perutnya yang kosong lalu bingung harus kemana.
Adam menelponnya beberapa kali tapi ia mengabaikan. Ia lelah harus berdebat lagi. Elena menunggu taksi. Tak lama sebuah mobil yang dikenalnya berhenti tepat di depannya.
"Ayo masuk!" perintah Adam. Elena masuk dengan enggan.
"Gimana bimbelnya?" tanya Adam.
"Baik,"
"Kamu terlambat tadi?" tanyanya. Elena menatap ptia di sampingnya sambil mengernyit. Entah ada angin apa hingga Adam bisa sebaik itu, memperhatikannya.
"Tidak!" jawab Elena, lalu membuang pandangannya keluar jendela.
"Aku minta maaf..." ucap Adam. Elena menatap Adam. Benarkah pria itu meminta maaf? Apakah dia menyesal?
"Aku sungguh-sungguh Len, aku tahu aku terlalu emosi tadi malam. Pikiranku ruwet. Hubunganku dan Mili belum selesai,"
"Lalu kamu menyalahkanku?" tanya Elena.
"Tidak, aku.. Entahlah. Aku bingung harus bersikap bagaimana, kamu tahukan aku tidak bisa meninggalkan dia selama bayi yang dia kandung belum dilahirkan," ucap Adam.
Elena tersenyum sinis. Lagi-lagi dia harus mengerti kondisi Adam. Ia harus mengalah kembali dan membiarkan Adam dan Emili melakukan apa yang mereka suka tanpa memikirkan perasaannya. Mending jika Emili tidak mengusik hidupnya. Justru Emili selalu mengganggunya dan menerornya hampir setiap hari.
"Apa kamu keberatan?" tanya Adam. Elena menggeleng, malas untuk berdebat jika ujung-ujungnya dia yang memang harus mengerti.
"Dam, aku ada permintaan,"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Aku sudah mengikuti bimbel, mungkin lima sampai enam bulan kedepan atau setahun kedepan aku akan kuliah. Aku tidak mau direcoki hubungan kalian. Kamu tahu maksudku kan?" tanya Elena.
"Aku mengerti, bukankah dari awal kita harusnya mengurus hidup masing-masing sesuai kesepakatan?" tanya Adam. Elena mengangguk.
"Maka dari itu, aku mohon. Jika kamu punya masalah dengan Emili, tolong jangan bawa pulang. Aku lelah," kata Elena.
"Oke! Aku tidak pernah membawa hal Emili ke rumah,"
"Deal!" kata Elena.
"Maafkan aku, next kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Sesuai kesepakatan. Dan ngomong-ngomong kamu mau kemana?" tanya Adam.
"Aku mau pulang, aku capek dan ngantuk," kata Elena.
"Oke, aku antar kamu. Nanti malam aku makan di rumah," ucapnya. Elena hanya mengangguk.
Sekarang mungkin Adam berkata begitu. Entah jika malam nanti Emili merajuk dan meminta ini itu pada Adam, tentu Adam lebih menurutinya. Elena tidak akan bisa melarang atau apapun terhadap Adam. Ia sudah tahu taktik dari Emili untuk menguasai Adam.
Elena malas meladeni Emili yang terlalu kekanakan. Menerornya dengan kata-kata juga mengirimnya foto-foto kemesraan dirinya dan Adam. Sungguh dia tidak peduli hal itu. Fokusnya saat ini adalah melanjutkan perkuliahan dan belajar kembali. Ia harus bisa mencapai impiannya.
Tak terasa mobil mereka sudah memasuki pelataran parkir. Adam keluar membantu membukakan pintu untuk Elena.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Elena.
"Tidak, aku harus menemui Leo. Ada sedikit urusan,"
"Ooh oke," jawab Elena. Adam pamit pergi, Elena segera menaiki lift menuju unitnya. Hari pertama belajar membuatnya sedikit lelah ditambah mata yang mengantuk karena tadi malam ia sulit tidur setelah terbangun lewat malam.
Siang itu ia mau mengistirahatkan dirinya. Elena bergegas masuk ke unitnya dan menghempaskan tubuhnya d ranjang. Terasa sepi. Elena memejamkan matanya dan ia tertidur lelap. Bahkan beberapa kali ponselnya berbunyi, ia tak menyadarinya.
Sorenya ia terbangun karena ada suara gemericik air dari dapur. Elena membuka matanya dan berjalan menuju sumber suara. Ternyata Adam sudah pulang dan ia mencuci gelas dan piring yang tak sempat Elena kerjakan tadi pagi.
Elena bersandar di pintu memperhatikan Adam yang telah selesai mencuci. Andai tidak ada Emili diantara mereka, andai hubungan mereka selayaknya suami istri, andai mereka tidak dihantui bayang-bayang Emili tentu semua ini terlihat manis.
__ADS_1
Elena menguap dan berjalan menuju kamar mandi. Mengabaikan Adam yang menatapnya heran.