Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Part 13


__ADS_3

Nadine mengerang dan mencoba membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan mata dan begitu sadar ia sedang berada si ruangan bosnya lalu cepat-cepat ia bangkit dan duduk. Membuat kepalanya sedikit berdenyut. Ia melihat sang asisten meliriknya tajam, juga si bos yang masih membelakanginya. Ia melirik pakaiannya masih utuh, hanya sepatunya yang telah lepas.


Sepertinya ia tertidur. Astaga ia tertidur di ruangan bosnya! Apakah ia akan di pecat? dimarahi habis-habisan? betapa malunya, pikiran itu menari-nari di kepalanya.


"Sudah bangun puteri tidur? kau bekerja disini, dan kami harus melihatmu ngorok?" tanya sang asisten.


"Maafkan aku, aku salah. Tapi tolong jangan pecat aku. Aku janji tak akan mengulangi ini lagi" Kata Nadine panik sambil berdiri.


"Sudahlah, kembali ketempatmu, ini sudah hampir jam makan siang" Jawab sang asisten dengan nada dingin. Nadine melongo, itu berarti ia tertidur dua jam. DUA JAM! Astagaaaa... lagi-lagi Nadine meminta maaf dan pamit keluar sambil memijit kepalanya yang berdenyut.


Ia kembali ke mejanya dan meraih ponselnya. Lalu mengirim pesan pada Vico agar menjemputnya. Sungguh hari terburuk dan Nadine ingin kabur sejenak dari suasana kantor yang membuatnya malu. Tak lama Vico menelponnya dan mengabarkan bahwa ia telah sampai di depan. Nadine memasukkan gawai ke dalam tas lalu bergegas keluar.


"Hai..." Kata Vico tersenyum disamping mobilnya. Nadine tersenyum senang.


"Haiii... maaf ya telat" Kata Nadine. Karena sebelum menemui Vico ia menyempatkan diri ke toilet


"Nggak apa-apa. Baru juga sampai,yuk" Ajaknya sambil membukakan pintu untuk Nadine. Nadine masuk lalu mereka keluar pekarangan kantor.


"Kamu sakit?" Tanya Vico saat melihat Nadine memijit pelipisnya.


"Agak pusing. Sedikit" Jawabnya. Vico menempelkan punggung tanga di dahi Nadine. Normal, tidak terlalu panas.


"Kenapa?" Tanya Vico.


"Kurang tidur, aku nemenin Sharen tadi malam. Tau nggak, Sharen mergokin cowoknya selingkuh. Dia kacau" Kata Nadine.


"Terus?"


"Ya itu, aku nemenin dia dari tadi malam. Cowoknya nelpon terus, aku matikan hp. Males banget. Sharen butuh waktu untuk nenangin diri"


"Kita sampai" Kata Vico membelokkan mobil ke pekarangan rumah makan lesehan.


Mereka turun, Vico meraih tangan Nadine dan menggandengnya. Membuat Nadine malu tapi merasa senang, terlebih aroma parfum Vico yang menyegarkan.


Mereka memesan makanan dan minuman. Vico terus menanyai Nadine tentang kejadian Sharen tadi malam.


"Lain kali, kalau ada apa-apa telpon aku aja. Kan aku bisa bantu, setidaknya biar dia nggak ganggu kalian" Katanya sambil melap mulutnya.


"Iya, aku bener-bener nggak kepikiran. Sharen nangis terus. Aku jadi bingung harus ngapain. Tapi sekarang kayaknya udah baikan" Kata Nadine.


"Baguslah" Jawab Vico singkat. "Kamu tahu betapa cemasnya aku tadi malam nggak ada kabar dari kamu" Vico meneruskan

__ADS_1


"Maaf sayang..."


"Apa?"


"Maaf sayang..." Nadine malu, pipinya memerah.


"Dimaafkan kalau gitu, tapi tetap ada hukumannya loh" Kata Vico, Nadine mengernyitkan dahi.


"Nanti juga tahu, ngomong-ngomong weekend ini habiskan waktu bersamaku yah" Pinta Vico. Nadine mengangguk. Mereka segera menyelesaikan makan siang lalu Vico mengantar Nadine kembali ke kantor.


Sementara itu, di lantai atas seseorang menatap Nadine yang baru keluar dari mobil setelah jam makan siang. Ia sungguh tak suka.


"Gadismu ternyata sudah ada pacar bos" Seseorang berbicara di belakangnya.


"Lalu? Memangnya aku peduli!" Jawabnya santai.


"Tentu, kalau kau tak peduli tentu tatapanmu biasa saja. Bukan tatapan cemburu dan siap membunuh pacarnya"


"Vincent! Apa aku harus ganti asisten baru? Kau membuatku kesal" Jawab si bos. Ya asisten itu bernama Vincent, asisten sekaligus sahabat karib sang bos.


"Santai bos, aku hanya ingin tahu" Jawabnya sambil tersenyum. Si bos menatapnya penuh kekesalan lalu meninggalkan Vincent. Ia pergi menuju lift khusus dan menuju basement. Tak lama Vincent berlari menyusulnya. Mereka berlalu meninggalkan kantor.


***


"Kamu sudah makan?" Tanya Nadine.


"Sudah, aku sudah memutuskan untuk melupakan Devan, Nad. Meski nggak mudah ngelupain, tapi aku nggak mau dibohongi. Aku akan menemui Devan" Jawabnya mantap.


"Kamu yakin?" Sharen mengangguk cepat.


"Buat apa aku pertahanin dia"


"Nggak terlalu cepat kamu ambil keputusan? Nggak mau dengerin penjelasan dia?"


"Mau, tapi nanti setelah aku tenang. Aku sudah mengirimi dia pesan. Nanti kami akan bertemu. Dua atau tiga hari lagi. Atau seminggu lagi, saat aku siap untuk menemui dia"


"Good, semoga keputusan terbaik dan kamu nggak menyesalinya"


"Semoga, makasih banyak y Nad" Sharen berkata tulus.


"Its ok, itu gunanya temen. Malam ini kamu udah bisa ditinggal?"

__ADS_1


"Udah, nanti kakak ku nginep disini"


"Baguslah, aku tenang kalau gitu. Aku pulang dulu ya... maaf nggak bisa lama-lama. Vico mau jemput bentar lagi" Kata Nadine sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Terdengar suara klakson di depan rumah Sharen. Nadine bergegas pamit dan langsung keluar. Ternyata yang datang bukanlah Vico, melainkan Rehan. Cuma ia tak keluar dari mobilnya, Nadine mengenali mobil Rehan.


"Ada apa?" Tanya Nadine, mendekati mobil Rehan.


"Hanya memastikan anak gadis orang pulang, kamu tahu orangtuamu memberikan amanah padaku untuk menjagamu"


"Memangnya aku anak kecil?"


"Ya dan tidak!" Jawab Rehan jutek.


"Aku akan pulang, puas?" Kata Nadine, Rehan mengangguk.


"Ayo naik!" Perintahnya. Nadine menggeleng.


"Aku di jemput pacarku, oh ya sudah ada Vico yang akan jagain aku, jadi kamu nggak usah repot-repot jagain aku" Kata Nadine.


"Oh ya? Justru aku menjaga kamu dari orang-orang seperti Vico" Kata Rehan santai sambil membenagkan kacamata hitamnya.


"Memangnya ada yang salah dengan dia?" Tanya Nadine.


"Banyak, dan jangan sampai matamu dibutakan cinta oleh orang seperti Vico" Jawab Rehan.


"Tidak akan, dia nggak seperti yang kamu bayangkan" Kata Nadine


"Ya sudah, susah berdebat dengan orang yang kelewat bucin. Aku pergi!" Jawabnya lalu ia menstarter mobilnya ngebut meninggalkan Nadine.


"Siapa dia?" Tanya Sharen.


"Dia temen waktu sekolah dulu, selalu ngikutin aku terus. Tingkahnya nyebelin. Mana bapak sama ibu nyuruh dia buat ngawasin aku. Memangnya aku anak kecil!" Kata Nadine.


"Namanya orangtua, pasti khawatir anak gadisnya masih jomblo hahaha" Sharen tertawa lepas.


"Aaah kalian sama aja, aku kan dah nggak jomblo lagi" Kata Nadine.


"Iya deh, iya. Tuh pangeranmu dah jemput" Kata Sharen.


"Oh iya, aku pamit ya. Take care" Kata Nadine.

__ADS_1


"You too. Tapi Nad, tetap hati-hati ya. Aku nggak mau nanti kamu malah tersakiti kayak aku" Kata Sharen.


"Iya Ren, makasih. Semoga kami baik-baik aja. Jangan khawatirkan aku. Daaah" Nadine melambaikan tangan pada Sharen lalu menaiki mobil Vico dan mereka pun menghilang di sudut jalan.


__ADS_2