Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 14


__ADS_3

Hari ini Adam pergi ke kantor seperti biasanya bedanya hari ini ia sedikit siang karena ia menemui Emili dan terpaksa tidur di sana karena gadis itu mabuk parah dan ia berjaga semalaman.


Adam pamit setelah memastikan Emili sudah lebih baik. Adam menuju ke kantornya dan memulai aktifitasnya seperti biasa dan sedikit terganggu karena saat jam makan siang mama Renata berkunjung dan mengoreksi semua yang ada di kantornya. Padahal semua barang di kantornya tak ada yang berubah.


"Ma, ada apa sih?" tanya Adam yang kesal saat Renata mengomentari bunga di sudut ruangan yang mengganggu padahal yang meletakkan di sana juga atas saran Renata. Mendengar pertanyaan Adam membuat Renata semangat dan duduk di hadapan Adam.


"Mama itu kesepian di rumah Dam, kapan kamu setuju menikah?" tanya Renata.


"Itu lagi! Ma, Adam belum mau nikah. Adam... "


"Iya mama ngerti kamu masih sakit hati dengan gosip mantan kamu sebelumnya, tapu kan nggak ada salahnya kamu coba membuka hati dengan yang baru. Kamu terlalu fokus bekerja dan lihat kamu sekarang, semakin tua nanti kamu... "


"Iya maaaa, iyaaa... Mama maunya Adam gimana?" tanya Adam yang telinganya memerah dan panas dengan ocehan mamanya setiap hari.


"Menikah, kamu tahu kan pilihan mama dan papa yang... "


"Temen mama yang mau dijodohkan sama aku bahkan dari kami kecil," Adam meneruskan perkataan Renata yang sampai membuatnya hapal dengan kalimat itu.


"Iya, kamu tu sibuk kerja aja. Sudah saatnya kamu berumah tangga, kamu mikirin apa lagi sih!"


"Ma, nikah kan nggak semudah itu. Dan aku belum tentu bisa cinta sama dia,"


"Dicoba dulu ya sayang, ketemu dulu,"


"Iyaaaa... Tapi setelah itu jangan ganggu Adam lagi ya," kata Adam akhirnya luluh. Renata hanya tersenyum jahil.


"Ayo makan siang, kamu jemput dia!" Renata menarik tangan Adam.


"Apa? Sekarang?"


"Iya sana! Cepat!"


"Tapi dimana?"


"Sudah nanti mama share lokasinya dimana, jemput ya... Mama tunggu di resto,"


"Kok nggak bareng aja jemputnya?"


"Mama ada perlu, cepet yaaaa!" teriak Renata saat mereka berpisah di parkiran. Adam menarik napas lalu mengeluarkan mobilnya dan meluncur keluar gedung kantornya. Ia memeriksa ponselnya dan melihat dimana ia menjemput gadis pilihan mamanya.


Rupanya di sebuah restoran sederhana dan tidak begitu terkenal. Rasanya Adam tak asing dengan resto ini tapi Adam tak biaa memgingatnya lebih jauh.

__ADS_1


Adam menunggu gadis itu keluar. Gadis yang membuat mamanya sedikit memaksa memgenalkan mereka. Apakah ia pemilik resto ini? Seperti apa wajahnya? Apakah ia secantik Emili?


Entah kenapa ia malah membandingkan gadis itu dengan Emili. Emili memang cantik dan Emili memang tipenya. Meski akhirnya Emili selingkuh. Adam sakit hati tapi ia tak bisa meninggalkan Emili begitu saja.


Tak lama seorang gadis keluar dari resto dan melihat ke sekitarnya. Sepertinya itu gadis yang dimaksud mamanya. Adam sengaja membiarkan gadis itu menunggu beberapa saat. Ia menilai gadis itu tidak begitu cantik meski selera fashionnya lumayan oke. Entah di butik mana ia membeli pakaian yang dikenakannya. Sederhana tapi terlihat elegan dan sangat cocok di tubuhnya. Gadis itu menyibakkan rambutnya dan menelpon seseorang.


Adam segera keluar dari mobil dan berlari menemuinya.


"Kamu Elena?" tanya Adam saat sampai ke hadapan gadis itu. Ia mengangguk.


"Ya, dan kamu Adam?" tanya Elena. Adam mengangguk dan mengajak Elena ke mobilnya tanpa basa-basi. Selama perjalanan mereka diam seribu bahasa. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan.


Sesampainya di parkiran salah satu resto yang di pesan mama Renata dan Elena segera membuka pintu mobil.


"Tunggu!" pinta Adam memegang lengan gadis itu. Elena mengurungkan niatnya membuka pintu dan berbalik menatap Adam.


"Bisa lepaskan?" tanya Elena.


"Oh maaf, ada beberapa hal yang harus kita bicarakan sebelum menemui mamaku," kata Adam. Elena kembali menutup pintu.


"Ada apa?"


"Aneh! Lalu apa lagi?" tanya Elena.


"Aku tak mau terikat, apapun yang dikatakan mama tentang masa depan kita, aku harap kamu menolaknya,"


"Masa depan kita?" Elena tersenyum lebar terlihat manis.


"Iya, apapun itu,"


"Pembicaraan yang aneh, sudahlah, apapun itu aku tidak terlalu memikirkannya. Ayo turun, kasihan tante Renata menunggu,"


"Tapi... "


Elena tak mendengarkan Adam dan segera keluar mobil dan berjalan menuju lift.


"Gadis seperti ini pilihan mama, hadeh!" Adam geleng-geleng kepala dan menyusul gadis itu menuju lift.


"Ingat perkataanku,"


"Aku belum pikun," jawab Elena.

__ADS_1


"Oke, jangan berharap lebih," kata Adam. Elena hanya memgangkat bahunya, malas meladeni Adam. Pria itu menyebalkan tidak seperti tante Renata yang hangat dan murah senyum.


Pria yang berdiri disampingnya ini sikapnya sangat menyebalkan, terlihat arogan dan semaunya. Meski sebenarnya pria ini ganteng dan menawan tapi Elena tak mau terjebak dengan wajahnya.


Mereka sampai di lantai atas dan menuju resto tempat mereka bertemu. Saat masuk tante Renata sudah menunggu pasangan itu. Ia tersenyum senang dan mengajak duduk dan memesan makanan.


"Kalian terlihat serasi, rasanya sudah tak sabar," ucap Renata.


"Ma, please... " pinta Adam. Renata hanya menatapnya sekilas dan mengajak Elena ngobrol.


"Lama nggak tadi Adam jemput?" tanya Renata.


"Nggak kok tante, tante udah lama?" tanya Elena.


"Nggak, tante baru nyampe. Ayo dimakan," Renata mulai menyuap makanannya diikuti Elena dan Adam.


Mereka bertukar cerita tepatnya Renata dan Elena, sedangkan Adam hanya diam dan terlihat sedikit bosan. Elena tak peduli toh dari awal Adam tidak menunjukkan sikap yang baik maka Elena juga tak ingin berbaik hati mengajaknya bicara.


Sampai akhirnya Renata mengajak mereka liburan bersama pergi ke suatu tempat. Mulanya Elena menolak karena alasan pekerjaan tapi dengan mudah Renata mengajaknya. Dan dengan terpaksa Adam mengangguk karena dilihatnya mama Renata mengancam lewat tatapan matanya dan tendangan di kakinya.


Adam segera bangkit saat mereka selesai makan dan akan kembali ke kantor.


"Tunggu Adam!" ucap Renata saat Adam akan melesat pergi.


"Ada apa ma?"


"Kalian jalan-jalan dulu gih atau nonton,"


"What?!?"


"Nonton kek atau apa gitu," kata Renata


"Nggak apa tante, Elen pulang aja,"


"Tuh mama denger sendirikan," kata Adam


"Iiih Adaaaam, anterin Elena pulang! Sekarang!"


"Iya iya... " Adam mengalah dan mengajak Elena pulang ke rumah. Lagi-lagi di mobil mereka saling diam sampai akhirnya Adam menurunkan gadis itu di salah satu halte dan menyuruhnya untuk langsung pulang.


Elena kesal karena Adam menurunkannya di halte yang salah. Akibatnya ia harus memutar balik dan menemukan halte yang benar untuk pulang. Ini membuat Elena semakin kesal dan tak suka dengan sikap Adam. Sikapnya sangat berbanding terbalik dengan ibunya. Dengan kesal Elena menaiki bus dan mencoba untuk tidur menjelang sampai ke rumahnya. Menelan rasa dongkol di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2