Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 9


__ADS_3

"Tidak, ini justru membantu kami tentang kebenaran sesuatu,"


"Kebenaran? Apa itu...?"


"Begini, saya salah satu orang suruhan yang memata-mata mbak Emili. Bos saya adalah calon suaminya,"


"Loh? Bukannya dia yang tadi?"


"Bukan, itu orang lain. Tugas saya mencari tau siapa orang yang sering bersama mbak Emili,"


"Begitu, lalu apa yang bisa saya bantu?" tanya Elena.


"Biasanya, kalau di suatu tempat dia merasa nyaman, dia akan kembali lagi ke tempat itu. Apa dia menyebut akan kembali ke sini lagi?"


"Ya, dia bilang jika layanan bagus dan privasi aman dia akan kembali,"


"Bagus! Aku akan minta ijin untuk memasang kamera ini. Boleh aku menemui penanggung jawab resto ini?"


"Boleh, mari saya antarkan," Elena mempersilahkan laki-laki tersebut menemui pak Gala. Laki-laki itu menjelaskan hal yang sama. Hingga akhirnya Pak Gala mengizinkan dengan syarat tidak boleh memberitahukan atau nantinya menyalahkan pihak resto. Laki-laki itu menyanggupi dan segera memasang kamera mini di tempat tersembunyi.


Setelah laki-laki itu pergi, Elena ijin beristirahat sambil mengambil jatah makan siangnya. Ia berjalan menuju belakang resto dan duduk di meja yang disediakan untuk karyawan. Ia memijit kakinya yang pegal, lalu mulai memakan makanannya. Tak lama Hana menyusul dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan tentang laki-laki tadi. Elena hanya menjelaskan sedikit. Hana mengangguk paham.


"Jadi orang kaya itu nggak enak ya, apa-apa harus dipantau, kayak nggak percayaan," komentar Hana.


"Ya buktinya itu tadi, ternyata dia malah jalan ama laki-laki lain padahal udah mau nikah. Gimana coba kalo kamu ada di posisi calon suaminya?" tanya Elena.


"Iya juga sih, aku mungkin melakukan hal yang sama," kata Hana.


Setelah makan, mereka membereskan piring. Untunglah kali ini Elena bebas cuci piring, tangannya akan aman.


Saatnya pergantian shift. Resto mereka buka sampai malam. Karyawan shift sore sudah mulai berdatangan. Elena mengganti pakaiannya dan pulang membawa banyak uang tips untuk di tabung. Tak lupa sebelum pulang ia mengajak Hana membeli waffle dan minuman kekinian.


* * *


Sejak pertama kali Emili datang terakhir kali sampai seminggu kemudian ia belum kembali lagi. Barulah di awal bulan berikutnya ia datang bersama laki-laki yang memakai masker. Laki-laki yang sama. Ia meminta ruangan khusus seperti biasanya.


Lalu minggu berikutnya ia juga kembali lagi. Dan setelah ia pulang datang, pria suruhan calon suami Emili yang bernama Dion datang untuk mengambil kamera tersebut dan memberikan sedikit uang untuk Elena dan pihak resto.


"Kira-kira calon suaminya sekaya apa ya? Mereka sampe bisa melakukan hal kayak gini?" tanya Hana saat pria itu berlalu membawa kamera mini.


"Pasti tajir banget Han, orang kayak kita rasanya tidak mungkin dapat yang kayak gitu," kata Elena.


"Kalau misalkan kamu dapat yang tajir begitu, apa keinginan kamu?" tanya Hana.


"Aku berhenti bekerja, memulai kuliah dan membuka usaha jahitan," kata Elena.

__ADS_1


"Hehehe... Oke juga, kalau aku ya jadi istri yang baik dan penurut aja. Duit masuk terus, ngapain capek-capek kerja lagi,"


"Dasar!"


"Kan berandai-andai boleh,"


"Iya deh nyonya tajir,"


"Aamiin" Hana mengamini ucapan Elena.


"Ngomong-ngomong sudah lama Hans nggak ke resto, kamu tau dia dimana?" tanya Elena.


"Nggak tahu, dia nggak ada bilang apa-apa. Kamu kangen yaaaa?"


"Yeee... Mau tau aja!"


"Tapi aku sempat dengar kabar kalau dia bakal keluar negeri, nggak tau deh bener atau nggak," kata Hana.


"Oh gitu," Elena menganggukkan kepalanya.


"Elena! Ke ruangan saya sekarang!" kata Gala saat menemukan Elena di belakang bersama Hana.


"Baik pak!" jawab Elena. Gala segera berlalu dan menutup pintu di belakangnya dengan keras.


"Duh! Galak bener. Kamu ada bikin kesalahan apa lagi?" tanya Hana.


"Ya udah sana dulu gih! Sebelum dia teriak manggil kamu yang nggak datang-datang,"


"Oke, aku kesana dulu," kata Elena.


Tok... Tok... Tok


"Masuk!"


"Ada apa pak?" tanya Elena setelah dipersilahkan duduk oleh Gala.


"Kamu ada hubungan apa dengan keponakan saya?" tanyanya.


"Maksudnya Hans?" tanya Elena.


"Iya,"


"Hanya teman dekat pak," Elena menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Gala.

__ADS_1


"Benar, ada apa memangnya pak? Apa sesuatu terjadi pada Hans?" tanya Elena.


"Tidak! Saya hanya mau tau. Beberapa minggu terakhir ini dia seperti orang yang tidak ingin hidup. Saya kira kalian berpacaran lalu setelah dia memutuskan untuk keluar negeri kalian putus,"


"Hans keluar negeri? tidak pak, kami hanya berteman. Kapan dia keluar negeri?" tanya Elena.


"Satu jam lagi," jawabnya.


"Kalau begitu saja ijin pulang duluan pak, saya akan ke bandara. Dia berhutang penjelasan ke saya," kata Elena. Tanpa mendapatkan persetujuan, Elena segera berlari keluar.


Ia menyetop taksi lalu meminta diantarkan ke bandara.


"Cepat sedikit pak," pintanya pada supir.


"Iya mbak, ini agak macet. Di depan ada kecelakaan,"


"Waduh...!"


"Sabar ya mbak," perlahan taksi mulai bergerak.


Sesampainya di bandara waktu hanya meninggalkan dua puluh menit. Elena menelpon Hans tapi ponselnya tidak aktif. Ia menelpon Gala dan menanyakan dimana keberangkatan Hans.


Akhirnya Elena berlari ke lantai atas dan melihat Hans sedang mengantri untuk check-in.


"Hans!" Elena berteriak membuat orang di sekitarnya memperhatikan gadis itu.


"Hans! Hans!" Elena berteriak keras. Hans berbalik dan melihat Elena berteriak sambil melompat-lompat. Ia keluar barisan antri dan menemui Elena.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ada apa? Kamu mau keluar negeri tanpa memberitahu ku, kamu jahat! Jahat! Jahat!" Elena memukul-mukul dada Hans. Hans menangkap kedua tangan Elena dan memeluknya.


"Maaf,Maaf... Elen, dengar. Aku harus ke sana. Aku ada rencana dan mau mengembangkan resto keluargaku menjadi yang terbaik dan terenak, itu impianku,"


"Tapi kenapa jauh sekali?"


"Lalu kenapa? Hei... Apa kamu sudah membuka hatimu?" tanya Hans. Elena terdiam. Hans tersenyum.


"Tak apa jika kamu belum mengakuinya. Aku harap saat nanti aku pulang kamu akan lebih jujur,"


"Hans... "


"Sudah panggilan, aku harus masuk. Jaga dirimu di sini. Jangan terlambat makan. Dan jangan mengabaikan alergimu, aku pergi dulu. Daah," Hans melambai sambil berjalan menjauhi Elena. Elena melambai sambil menghapus air matanya.


"Jaga kesehatan," bisik Elena. Hans mengangguk dari jauh, mengerti ucapan Elena.

__ADS_1


Sedih yang Elena rasakan saat Hans pergi tanpa memberitahunya. Elena sadar ia bukan siapa-siapa bagi Hans tapi mereka saling menyukai.


Sejak kepergian Hans mereka hanya berkomunikasi beberapa kali itu juga via email. Selebihnya semua email Elena diabaikan oleh Hans. Apakah Hans sengaja membuatnya rindu? Atau Hans sengaja membuatnya menyukai pria itu lalu mengabaikan dirinya seperti ia mengabaikan perasaan Hans?


__ADS_2