Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 5


__ADS_3

"Besok aku ada janji bertemu dengan Shela dan setelahnya aku ke kantor ya," pinta Renata.


"Silahkan Nyonya Kim, dan bawakan aku bekal makan siang. Kita makan siang berdua di suatu tempat," kata Kim saat malam itu mereka mengobrol sambil menonton siaran televisi. Kim sengaja menyisihkan waktunya diantara jam sibuk untuk menemani istrinya ngobrol.


Tak lama Adam masuk dan menyapa keduanya orangtuanya.


"Adam tadi menggoda wanita di kantorku," lapor Kim pada istrinya.


"Adam, tak bisakah kamu sedikit serius?" tanya Renata pada anaknya yang sibuk membalas beberapa pesan ponselnya.


"Tenang ma, nanti aku bakal serius. Aku kenalin dengan mama dan papa," jawabnya sambil ikut duduk di sofa.


"Benarkah?" tanya Renata penuh semangat.


"Benar dan aku mau menggunakan salah satu apartemen tak jauh dari kantor untuk tempat tinggal,"


"Mendadak sekali, apa kamu mau memasukkan perempuan?" tanya Renata penuh selidik.


"Maaaa... Tidak begitu. Aku hanya ingin lebih dekat dari kantor. Lee sudah kembali ke negara ini dan sebentar lagi Vergie. Rasanya lebih nyaman bila sesekali mereka menginap,"


"Boleh saja, tapi ingat. Jangan ceroboh!" Kim menengahi.


"Siap pa, makasih ya. Aku beberes dulu. Mungkin kalau besok ada pekerjaan ke lapangan aku langsung pulang ke apartemen,"


"Baik dan ingat perjanjian kita, Dam!" Kim mengingatkan putranya.


"Aku ingat pa, selamat malam semuanya," ucapnya lalu berlari ke lantai atas, menuju kamarnya.


Adam tak bisa tidur. Tadi ia berbicara banyak dengan Lee dan ibunya. Ibunya banyak menasehatinya. Adam berpikir mungkin ia harus cepat menikah. Apalagi melihat bagaimana papanya yang super sibuk menyempatkan diri menyisihkan waktunya untuk mamanya. Bila ia menikah dan perusahaan akan dialihkan padanya tentu kedua orangtuanya akan lebih banyak waktu berdua.

__ADS_1


Adam duduk dan menatap jendela kamarnya. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. Ia tersenyum dan besok ia akan menceritakan hal itu pada Lee.


* * *


"Aku tidak setuju dengan rencanamu!" jawab Lee santai setelah Adam menceritakan keinginannya.


"Apa salahnya? Aku bisa mendapatkan perusahaan, mama papa memiliki banyak waktu dan aku memberikan mereka menantu sekaligus cucu. Itu sempurna Lee,"


"Kamu terlalu menganggap sepele. Dan soal masa depan jangan pertaruhkan perusahaan,"


"Jadi aku harus gimana?"


"Jalani aja dulu. Sambil kamu memilih siapa yang kira-kira pantas kamu dekati dan bisa menjadi pendampingmu. Ini bukan hanya soal kalian menikah tapi juga keluarga Kim dan perusahaan," jawab Lee bijak. Memang diantara mereka bertiga Lee adalah tipe pemikir dan penuh pertimbangan.


"Oke, toh masih ada waktu sampai akhir tahun ini," jawab Adam santai.


"Iya, santai aja. Masih dua bulan ini," jawab Adam.


"Ini sih gila. Kamu nggak akan bisa menemukan pasangan hanya dalam dua bulan. DUA BULAN!" kata Lee.


"Bisa. Kamu menyepelekan seorang Adam,"


"Terserah!" jawab Lee malas.


Pagi itu setelah mereka membahas soal proyek, mereka akan melihat beberapa iklan properti untuk perusahaan sebelum diangkat ke media.


Mereka sedang dalam perjalanan dan saat sampai pihak media sedang menunggu mereka. Lalu mulailah mereka menampilkan beberapa contoh untuk dipilih.


Akhirnya setelah mencapai kesepakatan, pihak media mengajak mereka makan siang. Di sanalah Adam terpesona dengan kecantikan seorang model dan kini mulai merambah ke dunia bintang iklan dan film.

__ADS_1


Gadis itu bernama Mili, namanya Emilia. Ia lebih senang dipanggil Mili. Gadis itu sedang makan siang bersama beberapa model. Gadis tinggi nan ramping itu sedang tertawa bersama temannya. Adam terpesona.


"Aku mau nomor ponselnya," bisik Adam pada seseorang.


Tak lama, gadis itu sudah duduk semeja dengan Adam. Dan Lee harus pamit karena pekerjaannya. Dan menepuk bahu sahabatnya sejenak sebelum pamit berlalu.


"Mili, jujur saja. Aku tak suka berbasa-basi. Apa saat ini kamu ada menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Adam. Mili menggeleng sambil tersenyum.


"Jadwalku sedikit padat dan aku belum ada waktu untuk memikirkannya," jawab Mili sambil menatap Adam. Adam bersorak dalam hati. Mili sepertinya sama dengan Adam. Masalah hati dan nikah adalah hal rumit. Mungkin mereka bisa bekerja sama. Bila menikah mereka masih bisa bebas melakukan kegiatan masing-masing. Dan bukan hanya soal rumah tangga dan segala dramanya.


Sejak pertemuan itu beberapa kali mereka bertemu diam-diam dan melakukan kencan beberapa kali. Dan beberapa kali Mili menginap di apartemen Adam. Sepertinya Mili sangat cocok bersanding dengan Adam. Seorang model dan bintang iklan menggandeng lengan seorang pebisnis. Mereka setara.


Untunglah kencan mereka belum terlihat oleh media. Itu karena ada Adam dibalik semuanya. Jadi mereka bebas gosip dan pemberitaan. Semua terlihat aman dan terkendali sesuai keinginan Adam.


Malam itu kembali Mili menginap di apartemen Adam setelah Adam menjemputnya di lokasi syuting. Mengajaknya makan malam dan berakhir di apartemen Adam. Mereka sudah sangat dekat dan sudah sering tidur bersama. Mili benar-benar partner dan pelengkap hidup Adam. Adam seperti menemukan permainan baru dalam hidupnya. Sangat menyenangkan bila tanpa bersusah payah ia bisa mendapatkan semuanya. Dan sebentar lagi, perusahaan, Mili dan orangtuanya semua akan terkendali. Semua dalam genggaman rencananya.


Adam dan Mili merayakan berdua dan menikmati malam bersama di kamar Adam. Adam benar-benar terbuai dan merasa puas dengan Mili. Gadis mandiri, tak menuntut apapun dan tentu saja sangat pandai menyenangkan Adam meski Adam bukanlah orang pertama yang mendapatkan mahkotanya. Tapi Adam tak peduli yang penting Mili bisa menyenangkan hatinya juga menghangatkan ranjangnya.


Setelah pesta semalaman bersama Mili. Pagi ini, Adam memaksa bangun pagi sekali sebelum ke kantor. Ia akan mengerjai Mili sekali lagi. Gadis itu masih tidur nyenyak disampingnya berselimut dan meringkuk. Adam mencium keningnya, hidung, pipi dan seluruh wajah gadis itu. Menuntut.


Mili terbangun dan melihat Adam sudah dalam keadaan meminta. Mili tersenyum dan membalas kecupan Adam di bibirnya. Ia menyukai Adam dan tergila-gila pada pria itu meski pria itu belum ada menyatakan cinta. Semua itu mengalir apa adanya.


Keduanya sedang penuh semangat dan saling berbalas kecupan dan bergiliran menaiki. Suara jeritan dan ******* Mili memenuhi apartemen Adam pagi itu. Membuat Adam semakin bersemangat. Ia memutar tubuh Mili dan memasukkannya dari belakang.


Keringat membasahi tubuh keduanya sampai akhirnya Mili menyerah dan berteriak puas disusul Adam tak lama kemudian. Lalu mereka terbaring lemas dan membiarkan bagian Adam masih di dalam tubuh Mili. Mereka berbaring sambil terengah-engah dan tersenyum puas.


"Love you," bisik Mili. Adam tersenyum merapikan rambut Mili dan akan mengatakan sesuatu. Ia menatap Mili dalam. Mili berharap Adam akan membalas ucapannya dan memujinya. Tapi sampai lama Adam masih berdiam diri. Ia membuka mulutnya dan akan mengatakan sesuatu. Tapi....


Hai... Hai... Hai... Mohon maaf bila masih bingung. Ikuti dan tetap lanjutkan membaca kisah mereka ya😊 jangan lupa beri author semangat dengan vote dan hadiah. Biar rajin update. Love yaaaa

__ADS_1


__ADS_2