Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 26


__ADS_3

Lagi-lagi pemilik nomor itu mengirimkan pesan yang membuatnya kesal. Ia bukan cemburu tapi hanya terganggu. Ia aka menanyakan si pengirim nomor pada Adam nanti malam. Jika mereka memag memiliki masa lalu sebaiknya selesaikan berdua bukan malah melibatkan dirinya. Elena menarik napas pelan dan segera ke kamarnya.


Siapa kamu?


Lagi untuk kesekian kalinya Elena ingin memastikan siapa dia.


Aku seseorang dimasa lalu dan masa depan Adam balasnya.


Elena menelponnya dan gadis di ujung sana mengangkat teleponnya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Elena.


"Aku? Nanti kamu juga akan tahu,"


"Lalu kenapa terus mengabariku hal yang tak penting? Itu menganggu sekali," keluh Elena.


"Oh ya? Apa kau cemburu?" ia tertawa di ujung sana.


"Tentu saja tidak! Jika memang kalian masih ada hubungan, silahkan lanjutkan. Jangan libatkan aku. Oh ya, jika memang dia menginap di sana, aku akan sangat bersyukur dan malam ini aku akan tidur di tempat ternyaman. Setidaknya kita sama-sama nyaman. Dan jangan mengangguku terus!" bentak Elena lalu mematikan teleponnya dan membantingnya ke tempat tidur.


"Ada apa sih marah-marah?" tiba-tiba Feby, kakak ipar Elena masuk.


"Ehehehe temen doang, mana si kembar?" tanya Elena.


"Lagi main sama ibu," jawab Feby.


"Oooh...."


"Gimana suami kamu?" tanya Feby.

__ADS_1


"Yaaaa gitu deh, masih lama di sini kan mbak?" tanya Elena.


"Lusa udah pulang Len, di sana banyak kerjaan. Nanti kalau liburan baru bisa lama di sini. Eeeh kapan-kapan kalian yang main ke rumah yah," kata Feby.


"Siap mbak!" Elena tersenyum ke arah Feby. Tak banyak yang bisa dikerjakannya cuma membawa beberapa barang dan pakaiannya untuk nanti tinggal di apartemen yang dikatakan oleh Adam.


"Hei ladies! Yuk ke depan, pada ngumpul," kata Aldo yang muncul di pintu kamar Elena. Kedua wanita itu keluar dan keluarga mereka berkumpul. Berbagai macam nasehat untuk Elena dan Aldo diberikan oleh keluarga sambil bersenda gurau. Kedua ponakan Elena, si kembar duduk di samping kiri dan kanan Elena.


"Kak, nanti anterin aku ke hotel ya," pinta Elena sambil berbisik.


"Suami kamu?"


"Masih ada sedikit kerjaan, aku nggak mau kemaleman ke hotel, nungguin dia,"kata Elena. Aldo mengangguk tanda setuju.


***


"Suami kamu itu gimana sih? Pengantin baru loh, kamu disuruh pulang sendiri! Kakak aja sampe sekarang kalau bisa antar jemput mbak kamu terus. Kalau kenapa-kenapa kan tanggung jawab suami loh!" omelan Aldo sepanjang jalan membuat telinga Elena panas.


"Hmmmh... Kakak nggak ngerti dengan kalian berdua!" kata Aldo sambil geleng-geleng kepala.


Sebelum ke hotel dimana pasangan pengantin itu menginap, Aldo membelikan banyak cemilan untuk Elena. Ia tahu adiknya suka merasa lapar saat malam hari. Setelah itu mereka menuju hotel dan menunggu hingga Elena menghilang di balik lift yang membawanya ke atas, menuju kamarnya dan Aldo kembali pulang.


Elena meletakkan aneka cemilan ke atas meja dan membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Rasanya kembali sepi. Ia hanya seorang diri. Sedangkan kakaknya berkumpul bersama keluarga, sungguh ia sangat iri.


Elena segera mengganti pakaiannya dan membuat secangkir teh. Lalu membaca sebuah novel sambil menikmati cemilan. Ia sangat suka keheningan sambil membaca buku. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa dengan novel menutupi perutnya.


"Jika dilihat dia manis juga," gumam Adam yang kembali ke hotel lewat tengah malam. Ia terkejut saat melihat Elena tertidur di sofa memegang sebuah novel juga cemilan yang memenuhi meja kecil di depannya.


Adam mengganti pakaiannya, menggendong Elena dan membaringkan gadis itu di kasur empuk. Membereskan sisa cemilan dan tidur di sofa. Ia sangat lelah sekali menempuh perjalanan dan juga mengurus keperluan Emili. Ya, ia tadi menemui Emili tanpa sepengetahuan Elena. Ia tak mau Elena tahu tentang Emili dan kehamilannya juga tanggung jawabnya untuk calon bayi itu. Tapi suatu saat bila sudah waktunya, ia akan berkata jujur pada Elena. Toh mereka menikah dengan perjanjian, menurutnya Elena tak akan mmpermasalahkan tentang anaknya yang diluar nikah. Ia yakin itu. Perlahan mata Adam terpejam dan ia tertidur pulas.

__ADS_1


Sinar matahari pagi menembus ke dalam ruangan. Sinarnya menyilaukan. Elena menguap dan meraih ponsel di sampingnya. Tapi tidak ada. Ia meraih kesana kemari tapi tak juga ditemukan. Ternyata ponselnya ada diatas meja kecil di sofa. Elena baru teringat! Bukankah ia tadi malam tertidur di sofa?


Elena berjalan menuju sofa dan dilihatnya Adam masih tertidur nyenyak tanpa mengganti pakaiannya. Lengan bajunya tergulung hingga ke siku. Elena melihat sampah sisa cemilannya kini sudah tak ada. Adam membereskannya. Sebenarnya Adam tidak begitu menyebalkan. Ia ingat bagaimana Adam selalu berkata kasar dan membentaknya sebelum menikah. Kini Adam lebih lembut meski sifat dinginnya masih dominan.


Elena meraih ponselnya dan melihat pesan disana. Ia membelalak saat melihat potongan foto. Ia tahu itu foto Adam hanya dari melihat foto yang hanya memperlihatkan bagian tangan hingga siku. Jadi benar pria dihadapannya ini menemui kekasihnya?


Elena membiarkan foto itu. Ia bergegas mandi dan bersiap sarapan. Ia membiarkan Adam tidur lebih lama. Ia tahu pasti melelahkan menjaga perasaan pacarnya, menyembunyikannya dari keluarga besar dan terpaksa menikahi Elena. Setelah mandi, Adam belum juga bangun. Jadi Elena memutuskan untuk sarapan sendiri.


Elena menikmati sarapannya seorang diri. Hidupnya setelah pernikahan bukannya semakin membaik, justru sebaliknya. Biasanya ada ibunya yang mengomelinya setiap pagi, ada ayahnya yang diam-diam membelanya, ada Hans yang selau membuatkannya sarapan enak, juga Hana yang selalu ceria. Dia rindu momen bersama orang-orang yang disayanginya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Adam sambil duduk dihadapannya.


"Sudah! Sepertinya tadi malam cukup melelahkan. Jadi aku memutuskan sarapan sendiri dan membiarkan suamiku tidur lebih lama," jawab Elena.


"Begitu? Tentu saja melelahkan! Karena ada seseorang yang membuat sampah di kamar hotel dan aku juga harus menggendong seseorang ke ranjangnya," kata Adam santai.


"Benarkah begitu?" tanya Elena.


"Menurutmu?"


"Ya terserah! Salahmu tidak membangunkanku. Kalau membangunkan aku pasti aku pinda sendiri. Tak perlu merepotkanmu!"


"Oh begitu? Aku sudah sangat lama membangunkanmu. Sedikitpun kamu tidak tahu, apalagi mendengarkan. Sudahlah! Sebagai hukumannya ambilkan aku sarapan!"


"Bukankah kamu bisa ambil sendiri?"


"Siapkan sarapan suamimu!" kata Adam. Elena meletakkan sendok dan garpu lalu berdiri menuju meja makanan. Tak lama ia kembali lagi dengan wajah cemberut.


"Kamu mau makan apa?"

__ADS_1


"Omelet dan roti bakar, juga kopi panas sedikit gula," kata Adam tanpa memandangnya. Elena beranjak dan menyiapkan makanan untuk Adam.


upload yang kemalaman, maafkan bila lama sekali up nya. Karena fokus pada kesehatan. semua readers juga jaga kesehatan yaaa🥰


__ADS_2