Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 24


__ADS_3

Setelah melakukan fitting baju pengantin, Elena dan Aldo pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka membeli berbagai mainan untuk si kembar. Selain itu mereka juga menghabiskan waktu untuk bermain di area permainan.


"Udah lama rasanya nggak main beginian," kata Aldo.


"Iya, abisnya kakak jauh gitu," kata Elena.


"Ehehehe gimana lagi, kerjaan kakak di sana,"


"Iya deh, kakak ngobrol apa aja tadi sama Adam?" tanya Elena.


"Kepo kamu! kakak cuma nanya-nanya soal kalian aja," kata Aldo. Seketika Elena terdiam dan sedikit was-was. Takut Adam berbicara hal yang tak diinginkan.


"Terus?" tanya Elena menetralisir debar jantungnya.


"Ya gitu deh,"


"Apaan?"


"Kok kamu kayak takut gitu sih? Emang ada apa?" tanya Aldo.


"Siapa yang takut? Nggak kok!" jawab Elena.

__ADS_1


"Hmmh... Siapa tahu kan. Kakak cuma say hello aja kok. Kamu tenang aja," kata Aldo.


Mereka berbelanja dan pulang kembali ke rumah. Setelah ini mungkin hari-hari Elena akan sibuk. Akhirnya ia juga harus berhenti dari pekerjaannya dan akan belajar menjadi istri di keuarga Kim.


***


Hari itu akhirnya tiba, kini Elena dan Adam sudah bersanding dengan pesta super mewah bagi Elena. Ini adalah impiannya saat menjadi pengantin tapi tidak untuk calon suaminya. Bagaimanapun ia harus tetap tersenyum dan memperlihatkan kemesraan mereka di pelaminan meski dalam hati keduanya menolak.


Setelah acara resepsi yang melelahkan akhirnya Adam dan Elena kembali ke kamar hotel. Mereka menyelenggarakan pesta di salah satu hotel berbintang yang dihadiri banyak orang. Elena akhirnya mengenal Lee yang pendiam juga Vergie yang suka mengobrol beserta istri cantiknya yang ramah. Justru Elena merasa nyaman bersama mereka, bukan dengan suaminya.


Elena merasa hidupnya sungguh miris. Dibesarkan di keluarga sederhana dan harus puas dengan tamat sekolah hingga SMA. Lalu mengubur semetara mimpinya dengan bekerja keras agar uangnya cukup untuk masuk ke dunia perkuliahan. Namun, itu tidak cukup. Kini ia seolah menggadaikan dirinya sendiri hanya untuk kuliahnya. Betapa menyedihkan dirinya.


Pintu kamar mandi terbuka, Adam keluar dengan memakai pakaian santai. Kaus dan celana pendek. Aroma segar sabun memenuhi indera penciuman Elena. Elena berpaling saat Adam menatapnya melalui cermin.


Elena duduk di depan cermin, menyisir rambutnya dan mencoba mengabaikan tatapan Adam. Setelah itu ia mengisi baterai ponselnya dan merasa bingung harus tidur dimana. Karena Adam berbaring di sana.


"Kamu mau tidur? Aku akan tidur di sofa," katanya sambil turun dari tempat tidur.


"Hmmm... Oke," kata Elena, merasa tak enak sebenarnya tapi badanya yang lelah karena persiapan pernikahan sampai resepsi membuatnya ingin merebahkan diri di tempat yang nyaman.


Dalam sekejap Elena sudah tertidur dan sedikit mendengkur. Adam mendekat, membenarkan posisi tidur Elena dan memakaikan selimut. Elena cukup cantik dan terlihat manis dengan wajah polos yang jarang sekali tersentuh make up. Adam merasa pangling saat pertama kali bertemu dengan Elena saat resepsi. Ia sangat cantik dan anggun. Sesaat rasanya Adam bangga memiliki istri seperti Elena namun segera tersadar karena ia membutuhkan gadis itu untuk masa depannya.

__ADS_1


Adam meraih selimut dan berbaring di sofa menghadap ke televisi hingga ia tertidur. Resepsi dan persiapan segalanya membuat Adam kelelahan.


Tengah malam Elena terbangun, ia merasa haus. Ia terbangun dan segera mengambil air minum dan meminumnya hingga habis. Lalu melirik Adam yang kedinginan sementara itu selimutnya terjatuh ke lantai. Dengan perlahan Elena mendekat, menyelimuti tubuh Adam. Saat Elena akan kembali ke tempat tidur, tangan Adam meraih pergelangan tangannya.


"Tidak Emili... Jangan!" Adam mengigau. Matanya terpejam dan berulang kali menyebut nama Emili. Tentu saja ia menyebut nama gadis itu. Emili adalah mantan pacarnya. Elena tahu itu dan ia sungguh merasa kasihan dengan Adam. Pria itu begitu mencintai Emili tapi karena keinginan orangtua mereka, ia harus mengorbankan perasaannya.


Elena menarik napas dalam dan perlahan melepaskan genggaman tangan Adam. Ia meraih ponselnya dan melihat banyak sekali ucapan selamat untuknya dan Adam. Ia hanya membuka dan tak berniat membalas karena ini sudah jam larut malam.


Elena tak bisa memejamkan kembali matanya. Ia mengirim e-mail pada Hans dan menceritakan tentang pernikahannya. Lalu Elena keluar menuju balkon. Menghirup udara dingin dan menikmati secangkir susu coklat panas. Pikirannya melayang. Hans kembali memenuhi isi kepalanya. Ia merindukan Hans.


Elena menyesap susu coklat hangatnya. Mengaliri tenggorokannya dan memberikan rasa hangat di sela dinginnya malam. Ia teringat Hans, pria itu sering memberikannya susu coklat hangat dikala ia sedih atau bingung. Lalu Hans akan menemaninya sambil bercerita tentang banyak hal hingga Elena merasa nyaman dan melupakan kesedihannya. Aaah bagaimana kabar pria itu? Meski rasanya tak pantas memikirkan Hans, tapi sulit sekali bagi Elena untuk melupakan Hans begitu saja. Apalagi kini tak ada teman bercerita. Semua ia pendam, tentang semua hal dibalik pernikahannya dengan Adam. Tak ada yang tahu. Hanya dia dan Adam yang tahu. Bahkan Hana sang sahabat, Elena tak memberitahukan hal itu. Karena Hana akan memarahinya dan terus-terusan membicarakan sikap mereka berdua.


Elena melirik Adam yang masih tertidur pulas dan tertawa miris. Beginikah malam pengantinnya? Sangat jauh dari bayangannya. Apakah ia berharap Adam akan tidur di sampingnya? Tidak. Ia tak menginginkan itu. Ia sungguh kasihan dengan dirinya sendiri. Tak bisa menikmati bercerita dan tertawa bersama suaminya. Tak bisa melayani suaminya. Karena biar bagaimanapun, ia tak bisa melakukannya karena tak ada sedikitpun rasa cintanya untuk Adam. Semua ini murni masalah bisnis mereka.


Ia iri dengan Hana yang dengan segala keterbatasannya tapi masih bisa melalui semua dengan senyuman. Hans pun membuatnya iri. Ia bisa bebas melangkah dan menggapai semua keinginannya. Mereka benar-benar orang beruntung. Sedangkan dirinya? Kini terjebakdi kamar hotel dengan suaminya. Melewati malam yang dingin berteman sepi. Tak ada sahabat. Tak ada teman. Yang ada hanya kesunyian. Menyesalkah ia menikah? Entahlah, ia masih menunggu janji Adam. Akankah pria itu ingat perjanjian mereka? Dan menepati janjinya untuk membiayai kuliah Elena? Elena pun tak bisa menentukan. Bila ternyata nanti Adam melupakan janjinya, Elena mungkin akan menjadi janda dalam beberapa hari kedepan.


Tring!


Ponselnya berbunyi tanda ada pesan. Elena beranjak ke dalam dan meraih ponselnya berharap ada balasan pesan dari Hans. Mata Elena melebar saat membaca pesan di ponselnya.


Bagaimana malam pengantinmu? Sebaiknya memang kalian tidur terpisah, karena Adam masih menjadi miikku

__ADS_1


Sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalnya. Siapa dia? Dan bagaimana dia tahu nomor ponsel Elena?


__ADS_2