Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 32


__ADS_3

Elena menimang ponselnya yang masih berdering. Diangkat nggak ya? Ponselnya mati karena tak kunjung diangkat Elena. Tak lama ponselnya kembali berdering, Elena menarik napas terlebih dahulu baru menggeser tombol hijau, lalu meletakkannya di telinga kanan.


"Halo?" kata Elena.


"Kamu baik-baik saja? Mama mengabariku kamu sakit," kata Adam si seberang sana. Elena merasa senang Adam mengkhawatirkan dirinya. Tapi ia masih gengsi untuk mengakuinya.


"Baik, aku cuma sakit perut,"


"Ada obat di kamar, kalau kamu membutuhkannya. Kalau masih sakit minta antar supir ke dokter segera,"


"Oke, tapi aku sudah enakan," kata Elena.


"Oke, aku tutup. Dan maaf tadi siang aku terlalu emosi,"


"Nggak apa-apa. Nanti setelah kamu pulang kita bicara,"


"Oke, malam,"


"Malam," Elena mematikan ponselnya dan menarik napas. Terlalu kaku tapi Elena senang karena kemarahan Adam sudah reda. Tinggal mempersiapkan diri untuk bicara dengan Adam setelah ia pulang dari luar kota.


Malam itu Elena tidur dengan nyenyak dan besok ia ingin berkunjung ke rumah orangtuanya. Elena merasa rindu pada ibu dan ayahnya.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali ia sudah sampai di rumah orangtuanya diantar oleh supir keluarga Kim, ayah mertuanya. Elena berlari masuk ke dalam rumah. Kedua orangtuanya tidak menyangka Elena datang pagi itu.


"Kamu sama Adam?" tanya ibunya.


"Sedang tugas keluar kota bu, di rumah sendirian Elena bosan," jawabnya.


"Tidur di sini malam ini ya, kami juga rindu dengan kamu," kata ibunya.


"Iya bu, ini ada sedikit titipan oleh-oleh dari mama mertua," kata Elena meyerahkan dua kantong besar untuk ibunya.


"Repot-repot mertuamu itu," kata ayahnya.


"Mama titip salam dan minta maaf karena tidak bisa ikut ke sini karena ada acara," kata Elena


"Iya, tidak apa-apa. Ya sudah ayo masuk, kamu sudah makan? ibu masak kangkung terasi,"


"Wuaaah mau bu," mata Elena berbinar mendengar masakan ibunya. Ia sangat menyukai sayur kangkung.


"Jadi, gimana pernikahan kamu?" tanya ibunya sambil menemani anaknya makan.

__ADS_1


"Baik bu," kata Elena dengan mulut penuh makanan.


"Kamu bahagia? Gimana dengan keluarga di sana? Apa mereka baik?" tanya ibunya. Seketika Elena menghentikan kunyahannya dan menatap ibunya.


"Keluarga baik semua bu, Elena seneng di sana,"


"Berarti di sini nggak seneng?"


"Bu, kok malah nanya begitu ke anaknya. Ayah percaya dimanapun keluarga kita berkumpul, Elena harus bahagia,"


"Makasih ayah," Elena tersenyum ke arah ayahnya.


Pagi itu Elena menghabiskan waktunya di dapur bersama ibu membuat aneka kue pesanan tetangganya. Dari dulu mereka memang menerima pesanan kue, meski tidak terlalu besar tapi hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menghabiskan waktu.


Setelah membuat kue, Elena menawarkan diri untuk mengantar pesanan ke langganan ibunya. Setelah itu ia beristirahat di kamar yang sangat dirindukannya. Elena memeriksa ponselnya dan tidak ada apa-apa di sana. Elena sadar, memangnya apa yang diharapkannya? Sekali lagi ia mengingatkan diri bahwa dirinya dan Adam tidaklah ada hubungan yang spesial.


Malam itu, ayah ibu dan Elena pergi jalan-jalan mencari udara segar dan memanjakan orangtuanya. Mereka pergi makan malam di salh satu restoran juga membeli beberapa helai baju untuk ayah dan ibunya. Tapi semua itu Elena keluarkan dari gaji terakhirnya di restorannya dulu. Ia takut menggunakan uang Adam berlebihan. Ia harus menyiapkan perkuliahan dan bimbelnya.


Paginya Elena harus berpamitan untuk kembali ke rumah mertuanya. Ia juga harus menjemput suaminya sore ini yang kembali dari luar kota begitu arahan yang diberikan mertuanya. Jadi setelah sarapan, Elena pergi dengan supir jemputannya. Ada rasa sedih saat meninggalkan kedua orangtuanya tapi ia senang sedikit rasa rindunya sudah terobati. Sekarang saatnya kembali lagi ke dunia pernikahannya yang rumit.


Elena sampai di rumah mertuanya dan menyerahkan sedikit titipan orangtuanya. Tapi sayang, mama Renata belum pulang. Elena segera memasukkan beberapa makanan ke dalam kulkas lalu ikut ART memasak di dapur. Tidak ada kegiatan membuatnya jenuh.


Semua ART di sana sangat menyukai Elena, selain anaknya yang ramah ia mau membantu memasak juga membuat minuman segar. Tak terasa ternyata mertuanya sudah datang.


"Nggak apa ma, Elena bosan nggak ada kegiatan," kata Elena.


"Ya sudah, ini udah mau sore. Kamu siap-siap, kita jemput Adam," kata mama Renata.


"Iya ma," Elena bergegas ke kamarnya berganti pakaian. Lalu ia keluar dengan dress selutut berwarna krem dan tas selempang hitam mungil.


"Cantik sekali yang mau jemput suami," goda mama Renata. Elena tersenyum malu. Mereka berdua segera meluncur ke bandara. Bukan tanpa alasan Renata mengajak Elena menjemput Adam. Ia mau keduanya kembali akur dan rumah tangga mereka kembali baik.


Sesampainya di bandara, pesawat baru saja turun. Elena dan mama Renata menunggu penumpang turun satu per satu. Ia tak sabar melihat keterkejutan anaknya saat melihat istrinya menjemput. Penumpang sudah melewati pintu keluar tapi sosok Adam belum terlihat.


Renata melihat ponselnya dan menelpon Adam. Pada dering kedua Adam mengangkat teleponnya.


"Ya ma? Ada apa?" tanya Adam.


"Ada apa? Kamu dimana? Kenapa belum keluar?" tanya Renata.


"Oh, apa mama menjemputku?" tanya Adam.

__ADS_1


"Juga istrimu," jawab Renata.


"Elena? Ma, maaf kepulangan Adam diundur sampai besok. Ternyata proyek di sini bermasalah. Banyak komplain dari warga sekitar,"


"Jadi? Kamu masih di sana?" tanya Renata.


"Iya ma, maaf. Adam lupa mengabari mama dan Elena,"


"Hmmh... baiklah, kalau gitu mama pulang saja,"


"Iya ma, maaf,"


Renata segera mematikan ponselnya. Ia kesal dengan anaknya, ia merasa Elena pasti akan kecewa bila tahu Adam tidak jadi pulang.


"Kenapa ma?" tanya Elena.


"Adam tidak jadi pulang hari ini. Ternyata proyek di sana bermasalah, mungkin besok atau lusa dia pulang," kata Renata.


"Hmm begitu, ya udah kita pulang aja," kata Elena. Renata mengangguk dan mereka berjalan ke arah parkiran.


Di saat mereka berjalan, tiba-tiba Elena tertabrak seorang wanita yang berjalan terburu-buru keluar.


"Jalan yang bener dong!" omelnya


"Maaf tapi mbaknya yang menabrak," kata Elena. Renata berhenti dan melihat mereka berdua.


"Kamu jalannya kelamaan! Jangan menuduh sembarangan!" ujarnya.


"Tapi..."


"Tapi tapi... Minggir! Aku mau lewat!" Ia mendorong bahu Elena. Elena terdorong mundur dan menabrak Renata.


"Loh? Tante?" tanya wanita itu lalu ia membuka kacamata hitam dan maskernya sebentar.


"Wah... Emili? Kebetulan sekali, kamu dari mana?" tanya Renata.


"Baru dari luar kota tante tapi aku terburu-buru. Ada wartawan di pesawat yang sama. Dia mencari berita," kata Emili.


"Begitu? Ya sudah kami juga buru-buru,"


"Eeeh tante, bolehkah aku ikut?"

__ADS_1


"Ya sudah, ayo!" Emili berjalan di samping Renata dan mengabaikan Elena.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2