
Ting... Tong...
Bel berbunyi, Adam bermalasan dan tak ingin bangkit untuk membuka pintu. Ia merasa lelah.
"Biar aku yang membuka," kata Mili.
"Terimakasih," bisik Adam. Miki segera memakai pakaiannya dan berjalan keluar kamar bertepatan dengan dering ponsel Adam. Adam melihat.
Nyonya Kim Calling...
"Astaga! Halo ma?"
"...... "
"Di depan? Sebentar! Aish... Sial!" Adam membuang ponselnya dan bergegas memakai pakaiannya dan berlari keluar. Tapi terlambat. Nyonya Kim yang rapi berdiri di depan pintu menatap Mili dengan rambut berantakan dan pakaian kurang bahan. Adam mengumpat dalam hati dan mencoba beramah tamah dengan mamanya.
"Adam?" tanya Renata.
"Teman Adam ma, ayo masuk dulu," pinta Adam. Renata masuk ke dalam dan melihat pakaian mereka bertebaran dan berdua mereka merapikannya. Lalu Mili pergi ke dapur dan berdiam diri di sana.
"Jelaskan, Dam!"
"Iya ma, maaf. Tapi kami sudah dewasa dan itu wajar,"
Renata menampar pipi Adam membuat Adam mengaduh kesakitan. Tapi ia hanya diam. Ia tahu ia salah.
"Wajar menurutmu? Mama berikan kamu kebebasan untuk tinggal sendiri. Kamu bilang untuk menginap dengan Lee atau Vergie ternyata gadis itu yang kamu tiduri!"
"Ma... "
"Suruh dia kemari!"
"Ma... "
"Sekarang!" Renata berkata dengan tegas. Perlahan Adam bangkit dan menemui Mili dan mengajaknya menemui Renata. Mili duduk di seberang Renata.
"Jadi, dia wanita yang mau kamu kenalkan ke mama?" tanya Renata. Adam mengangguk.
"Kamu Emilia?" tanya Renata.
"Iya tante," jawab Mili singkat.
__ADS_1
"Begini, saya tidak mau terlibat dengan berita gosip. Kalian siapkan pesta pernikahan kalian, umumkan. Bulan depan pesta digelar,"
"Ma... "
"Jangan bantah mama Dam!"
Adam mengangguk dan melihat Mili yang tersenyum senang. Di luar dugaan Adam, ia mengira Mili akan membantah dengan berbagai alasan agar tidak menikah, tapi itu hanyalah bayangan Adam. Gadis itu terlihat sangat senang.
"Mama pulang dulu, sebenarnya mama baru saja pulang dari rumah sahabat mama. Tapi melihat kalian begini ya sudahlah... " Renata menarik napas lalu meninggalkan apartemen Adam dengan sedikit kesal. Tapi ia sebagai orangtua tak bisa mengatur kehidupan anaknya. Ia hanya bisa menasehati.
"Kita akan menikah, aku bahagia sekali. Ternyata kamu mau mengenalkanku pada mamamu. Kenapa kamu nggak bilang dari awal?" tanya Mili yang bergelayut manja di lengan Adam.
"Aku belum siap menikah. Mili, bagaimana jika kita sudahi semua ini?" tanya Adam. Seketika senyum bahagia di wajah Mili menghilang.
"Tidak! Apa-apaan kamu? Bukankah pesta harus di gelar bulan depan? Mamamu sudah menyuruh kita mempersiapkan semuanya!"
"Aku tidak bisa! Mili harusnya kamu tau kan, ini terlalu cepat. Beri aku waktu. Setidaknya hingga beberapa bulan ke depan,"
"Nanti kita bicarakan dengan mamamu,"
"Ok, terimakasih sayang. Ayo mandi. Aku harus ke kantor,"
Mereka bersiap menuju tempat kerja masing-masing.
"Benarkah kamu membawa wanita tidur apartemenmu?"
"Iya pa,"
"Jadi?"
"Jadi apanya?" tanya Adam bingung, saat sampai di kantor ia dipanggil ke ruangan Kim.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Kim.
"Tidak ada rencana apapun,"
"Tidak bisa begitu Adam. Bawa gadis itu ke rumah nanti malam. Kita makan malam bersama,"
"Tapi... "
"Keluarlah, papa mau pergi," ucap Kim sambil membenarkan pakaiannya lalu keluar ruangan. Adam mengumpat kesal. Ia segera ke ruangannya dan membuka jas. Tiba-tiba ia merasa gerah.
__ADS_1
"Lee, bisa bertemu?" tanya Adam melalui ponselnya.
"Bisa, tapi kamu ke kantorku,"
"Aku jalan!" Adam mematikan ponsel dan meraih jasnya lalu berlari ke lift. Ia ke basement lalu menstater mobilnya. Ia bergegas menuju kantor Lee. Ia sedikit terburu-buru dan tak melihat jika di depannya seorang gadis akan menyebrang. Dan mobilnya menabrak gadis itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Adam.
"Tidak," jawabnya pelan sambil mengibaskan roknya dan berdiri.
"Maaf, aku terburu-buru tadi. Oh kamu terluka. Ayo kita ke rumah sakit," ajak Adam. Gadis itu tertawa. Tawa renyahnya membuat Adam menatapnya senang.
"Tidak.. Tidak perlu. Ini hanya sedikit lecet. Aku hanya perlu plester luka,"
"Aku punya, tunggu sebentar!" Adam kembali ke mobilnya dan membawa 5 bungkus plester luka. Gadis itu kembali tertawa.
"Aku hanya butuh dua, terimakasih. Lain kali hati-hati. Aku sudah terlambat, terimakasih. Aku pergi dulu," Gadis itu menyebrang jalan dan memasuki area perbelanjaan. Adam segera masuk ke mobilnya dan menemui Lee.
"Jadi? Ada apa sampai kamu menemuiku?" tanya Lee saat Adam memasuki kantornya. Pria itu sedang berada di depan komputernya mengetik sesuatu.
Adam menceritakan semuanya, juga tentang pesta pernikahannya yang akan dilangsungkan bulan depan. Ia juga bercerita bahwa ia tidak siap dengan itu semua.
"Bukankah dari awal aku sudah memperingatkanmu? Sekarang aku tak bisa menasehatimu selain mengikuti apa keinginan tante Renata. Bukankah kemarin kamu berteriak akan memberikan cucu untuk om Kim?" kata Lee sambil tersenyum.
"Tapi tidak begini!" Adam nyaris putus asa.
"Sudahlah, sekarang kamu ikuti saja keinginan orangtuamu. Kasihan juga gadis itu,"
"Seharusnya aku yang dikasihani,"
"Gila!" komentar Lee singkat.
"Lee, bantu aku,"
"Males! Udah ah, kalo udah selesai pamer tentang pesta pernikahanmu ayo kita keluar. Aku lapar!" Lee mematikan komputernya dan berjalan keluar.
Adam mengumpat di belakangnya tapi tetap mengikuti pria itu keluar. Lee memang terkadang suka cuek atau bisa juga sangat baik. Tapi tak pernah mengabaikan kedua sahabatnya Adam dan Vergie meski sebrengsek apapun sikap keduanya.
Setelah dipikir-pikir ia juga tak bisa menolak. Adam akan membawa Mili menemui keluarganya. Mili sangat senang dengan kabar tersebut. Ia berencana akan ke salon setelah jadwal syutingnya selesai. Ia akan mempercantik dirinya sebelum bertemu keluarga Adam.
Adam berharap ia bisa menunda pesta pernikahan itu hingga tahun depan. Ia mau menikmati hidupnya sebagai lajang. Jika pesta pernikahan di gelar ia tak lagi bisa bebas seperti sekarang. Ia akan membujuk orangtuanya untuk memundurkan waktu. Pesta pernikahan di tahun depan akan membuatnya lebih baik.
__ADS_1
Ia akan membujuk Mili untuk mengikuti rencananya. Tapi berkali-kali Adam menelpon Mili tak mengangkat ponselnya. Apakah gadis itu sedang bekerja sehingga tak bisa menjawab telepon darinya? Setelah makan siang, Adam memutuskan untuk mencari Mili di rumahnya. Dan setelah bertanya pada satpam, ternyata Mili tak ada di rumah. Adam semakin kesal lalu meninggalkan kediaman Mili. Bagaimanapun caranya ia harus bicara dengan gadis itu.
Tanpa Adam ketahui saat ini Mili sedang bersama mantan kekasihnya. Setelah sekian lama tak bertemu kini mereka justru bertemu di lokasi syuting. Hingga membuat Mili melupakan Adam sejenak. Pesona sang mantan masih membuatnya melayang dan ia ikut pulang bersama sang mantan. Mengulang kisah masa lalu mereka. Tanpa disadari oleh Mili bahwa disinilah karirnya dipertaruhkan.