Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 33


__ADS_3

Elena berjalan mengikuti mama Renata dan Emili sang model. Dari awal bertemu Emili memang bukanlah orang yang ramah dan selalu meremehkannya. Dan sekarang gadis itu ternyata sangat akrab dengan mertuanya.


Mereka masuk ke mobil, Elena duduk di depan bersama supir sedangkan Emili bersama mama Renata di belakang.


"Kamu kemana aja nggak pernah keliatan?" tanya Renata.


"Ada tante, aku di rumah,"


"Masih di dunia modeling?"


"Nggak tante, istirahat sejenak,"


"Kenapa? Kan sayang karir kamu,"


"Uhm... Aku harus beristirahat banyak. Karena kondisi fisik. Aku sedang hamil tante," ucapnya bahagia sambil menarik tangan Renata ke perutnya yang saat di pegang ternyata sudah sedikit buncit.


"Syukurlah... Tante ikut senang, oh ya kamu sendirian? Dimana suami kamu?" tanya Renata.


"Dia sedang ada pekerjaan, kemarin aku nemenin sehari dan hari ini aku pulang. Bosan rasanya di rumah saja tidak ada pekerjaan,"


"Ya dinikmati saja, toh kan ada suamimu," kata Renata. Emili hanya mengangguk melirik gadis di depannya.


"Dia siapa tante?" tanya Emili.


"Oh iya, tante lupa ngenalin kalian. Ini istri Adam, namanya Elena. Elena ini Emili," kedua gadis itu bersalaman lalu hening seketika.


"Tante, aku boleh main ke rumah tante?" tanya Emili. Renata terdiam sebentar lalu mengiyakan pertanyaan Emili.


Sesampainya di rumah sudah malam dan Elena segera bersih-bersih lalu berbaring sebentar menjelang makan malam. Sengaja ia berlama-lama di kamar karena enggan bertemu Emili.


Tak lama ART memanggilnya untuk makan malam. Elena berjalan keluar kamar dan bergabung bersama keluarga Kim dan Emili. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian santai memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit dari balik baju. Mama Renata berkali-kali melirik perut Emili. Ia tahu keluarga ini menginginkan penerus tapi masalahnya Elena dan Adam menyetujui bahwa mereka tidak memiliki anak dan bahkan tidak untuk berhubungan **** kecuali memang sama-sama menginginkannya.


Elena makan dengan perlahan dan mencoba menikmati obrolan mama Renata dan Emili. Sedikit rasa iri melihat Emili. Dulu dialah yang membayangkan akan menikah, hamil dan calon buah hati itu dinanti-nantikan oleh keluarga besarnya.

__ADS_1


"Iya kan Elen?" tanya mama Renata.


"Eeh... Ya, apa ma?" tanya Elena.


"Galau ya ditinggal suami sampe nggak fokus gitu. Abis makan kamu telepon suamimu, biar nggak banyak pikiran gitu," kata Renata, Elena hanya mengangguk.


"Tante, supir aku lagi nggak bisa jemput. Aku boleh nginep di sini?" tanya Emili yang membuat Elena menatapnya lalu kembali menunduk.


"Boleh, tapi sehari aja. Karena besok kami semua mau pergi," kata Renata yang melirik ke arah Elena. Elena menatap mama Renata dan mengerti kerlingan mata mertuanya. Elena melanjutkan makannya seolah tak peduli.


"Oh iya tante... Tapi tante mau kemana?" tanya Emili.


"Tante ada arisan dan Elena harus pergi ke suatu tempat,"


"Ohh begitu. Oke, hanya malam ini," janji Emili sambil tersenyum. Entah mengapa perasaan Elena menjadi tak enak.


Keesokan harinya, Elena dan mama Renata buru-buru pergi menjemput Adam ke bandara. Sedangkan Emili sedang morning sickness ditambah kelelahan jadi benar-benar istirahat sampai keadaannya membaik dan dia akan pulang.


Sesampainya di bandara, Adam tersenyum pada mama Renata dan juga Elena. Ia merangkul pundak Elena dan mengobrol santai dengan mereka berdua. Syukurlah, kemarahan Adam sudah reda. Dan kini dengan santai pria itu merangkul bahu Elena dan mengajak mereka berdua untuk makan.


"Wah sudah pulang! Selamat datang!" senyum Emili saat ketiganya terdiam di depan pintu.


"Loh Emili? Nggak jadi pulang?" tanya Renata. Emili menggeleng.


"Rencananya sore ini tante, tadi kena morning sickness dan aku baru aja bisa bangun. Nggak apa-apa kan?" pintanya.


"Ya sudah, sampai sore. Segera telepon supirnya. Bukannya tante mengusir, tapi tidak baik saat ada Adam di sini," ucap mama Renata.


"Baik, tante tidak usah khawatir," kata Emili sambil tersenyum. "Hai Adam," ia melambai pada Adam dan mengabaikan Elena yang berdiri di sana, padahal statusnya adalah istri Adam. Adam mengangguk.


Elena segera mengambil koper dan jas Adam lalu membawanya ke kamar. Ada sedikit rasa kesal karena dirinya diabaikan dan Adam tidak berusaha untuk membantunya. Elena menggantung jas milik Adam lalu membawa pakaian kotor ke tempat cuci.


Rasanya Elena malas untuk kembali, apalagi melihat bagaimana akrabnya Adam dan Emili. Bukannya ia cemburu tapi pasti akan diabaikan. Itu jauh menyakitkan sementara semua orang tahu dirinya adalah istri Adam. Tapi Elena penasaran apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.

__ADS_1


Perlahan Elena berjalan keluar menuju ruang tamu dimana wajah Adam terlihat tegang dan sedikit marah duduk dihadapan Emili yang santai menikmati minumannya. Elena tak ingin mencuri dengar tapi telinganya menangkap ucapan Emili yang menyebut dirinya.


"Jadi, itu istrimu? Elena? Aku merasa tak asing dengan wajahnya yang biasa-biasa itu,"


"Jaga ucapanmu! Kenapa kamu tak kembali ke rumah? Dan malah menginap di sini?" tanya Adam.


"Aku hanya ingin melihat seperti apa istrimu dan melihat rumah mantan mertua oooh apakah akan tetap menjadi mertuaku sementara..."


"Hentikan!" Adam memotong pembicaraan Emili.


"Kamu takut mereka akan tahu? Sewaktu-waktu mereka akan tahu,"


"Tidak untuk sekarang!"


"Ya... Ya... Aku mengerti. Tenangkan dirimu, aku akan segera berkemas dan pulang setelah melihatmu kembali. Sampai bertemu lagi," kata Emili sambil mengusap wajah Adam. Emili akan menuju ke kamarnya dan pasti akan melewati tempat dimana Elena berdiri bersembunyi dan mencuri dengar.


Elena segera berlari menuju dapur dengan debar jantung yang sangat cepat. Ia meraih gelas, mengisinya penuh dan menanggaknya sekaligus. Ternyata apa yang dilakukannya dilihat oleh mama Renata.


"Loh? Kamu kenapa sayang? Kayak abis liat hantu aja," ucap mama Renata. Elena membelalakkan matanya karena kaget. Ia memutar otak agar menemukan alasan yang benar.


"Oooh tadi habis ke tempat cuci, mengisi airnya. Jadi Elena sedikit haus,"


"Kan ada selang pengisi air,"


"Oohh... Oh iya ma," Elena melatakkan gelasnya dan berbalik. Ternyata ada Emili dibelakangnya.


"Hai... Apa airnya membuatmu kehausan?" tanya Emili. Elena hanya mengangguk. Emili tersenyum mengejek. Dan ia berlalu meninggalkan Elena.


"Tante, aku pamit mau pulang karena Adam sudah di rumah,"


"Baiklah, hati-hati ya,"


Emili berjalan meninggalkan Elena dan mama Renata.

__ADS_1


"Elena, kamu tidak membantu Adam?" tanyanya pada Elena.


"Ha? Adam? Oh iya... Permisi tante," Elena gelagapan dan bergegas meninggalkan mama Renata. Ia mencari Adam di ruang tamu tapi pria itu tidak ada. Ia akan kembali ke kamar tapi pintu kamar Emili sedikit terbuka menampilkan adegan yang membuat Elena sesak napas seketika. Dia....


__ADS_2