
Malam perlahan mulai turun. Elena sedang membuat menu makan malam. Sebenarnya ia lelah harus masak saat ingin makan tapi jika tidak begitu ia malah bingung harus ngapain di rumah. Pekerjaan rumah sudah selesai dibersihkan.
Setelah memasak menu sederhana, Elena duduk di depan televisi sambil menunggu kepulangan Adam. Takutnya seperti siang tadi ia datang dan ingin makan bersama. Namun sampai jam menunjukkan pukul 20.00 Adam belum juga pulang dan mengabarinya. Jadi Elena memutuskan untuk makan seorang diri.
Setelah makan, ia membaca beberapa buku yang di belinya. Bukan bacaan berat, hanya novel. Tak terasa hingga jam menunjukkan pukul 21.55. Adam belum juga pulang. Elena sedikit cemas tapi ia tak mau terlalu peduli dengan Adam dan melibatkan dirinya terlalu banyak di kehidupan Adam.
Elena menutup bukunya, baru saja akan berbaring ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Buru-buru ia membuka pesan dengan nomor baru.
Kamu menunggunya? Dia tidak akan pulang malam ini. Dia milikku.
Meskipun tanpa nama, Elena bisa menebak bahwa ini pasti nomor Emili dan Adam ada di sana. Dia tidak pulang malam ini. Elena sangat yakin itu adalah Emili mengingat bagaimana ia melihat Emili dan Adam saling merangkul saat di rumah mama Renata.
Elena mengabaikan pesan itu. Toh tak ada pengaruh baginya. Mau Adam tidur dimanapun ia tak peduli. Apalagi saat ini ia di apartemen, ia tak perlu repot-repot mencari alasan mengapa Adam tak pulang setelah bekerja. Elena menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya. Tapi berkali-kali getaran ponselnya mengganggu.
Elena bangun dan segera menonaktifkan ponselnya lalu ia tidur. Emili benar-benar mengganggunya. Jika memang Adam mau di sana mengapa harus mengganggunya? Apakah Emili berharap Elena akan cemburu? Elena tersenyum miring.
***
Adam sedang mandi saat Elena bangun. Dia segera menyiapkan sarapan untuk mereka. Entah Adam pulang jam berapa, Elena tertidur pulas. Selesai mandi dan berpakaian, Adam menemui Elena yang sedang memasak.
"Aku tidak sarapan," ucapnya sambil meminum air hangat.
"Tidak masalah, ini untukku," jawab Elena.
"Kamu tidak menungguku kan tadi malam?" tanyanya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
"Buat apa aku menunggu orang yang sudah tertidur di kamar seseorang," jawab Elena menghadap ke arah Adam.
"Baguslah!" ucapnya sambil berlalu. Elena merasa marah, seolah ia tak dihargai.
__ADS_1
"Terserah!" jawab Elena yang kembali memasak. Hari ini sikap dingin Adam kembali keluar. Elena bingung sendiri dengan sikap Adam yang sebentar baik, sebentar manja kemudian bersikap dingin. Memang banyak sekali pengaruh Emili terhadapnya. Elena hanya berdoa semoga ia sabar menghadapi sikap Adam.
Setelah memasak, Adam berpamitan untuk bekerja. Sementara itu Elena segera mandi dan sarapan. Setelah sarapan, Elena mengecek e-mail yang dikirimkan untuk Hans. Semua sudah terbaca tapi tidak satupun yang dibalas. Elena ingin sekali mendengar kabar pria itu, memastikan bahwa dia baik-baik saja di sana.
Tak banyak yang bisa dilakukn Elena di unitnya. Bosan di dalam, ia menuju balkon. Setidaknya di balkon ia bisa melihat pemandangan pagi juga sinar matahari yang hangat membelai kulitnya. Ia merindukan teman-temannya terutama Hans. Pikirannya selalu tertuju pada Hans.
Ia baru ingat ponselnya yang dinonaktifkan. Elena beranjak ke dalam dan meraih ponselnya. Lalu menghidupkannya. Setelah kondisi ponsel menyala banyak pesan beruntun yang masuk. Salah satunya dari mertuanya, mama Renata yang menanyakan dirinya.
Elena segera menelpon Renata.
"Halo? Kamu baik-baik saja?" tanya mama Renata.
"Baik ma, ada apa ma?" tanya Elena.
"Tidak ada, mama hanya ingin memastikan kamu dan Adam. Oh ya, apa tadi malam Adam pulang?" tanyanya.
"Pulang ma, jangan khawatir,"
"Nggak apa ma, kan Adam sedang banyak kerjaan," jawab Elena.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bercerita pada mama ya,"
"Iya ma, terimakasih sudah mau peduli dengan Elena,"
"Tentu saja mama peduli, udah ya, mama mau pergi. Nanti kalau sempat mama mampir,"
"Baik ma, hati-hati di jalan,"
"Pasti, dah!" Elena menggeser tombol merah lalu melihat pesan masuk lainnya. Dominan adalah nomirbaru milik Emili yang mengirim berbagai gambar. Sebenarnya Elena malas membuka tapi karena penasaran, Elena membukanya. Lalu ia mendekap mulutnya. Tak menyangka bahwa Emili seberani itu mengirimkan foto-foto mesra dirinya dan Adam. Bahkan saat mereka tidur bersama. Elena merasa jijik dan segera keluar dari aplikasi chat tersebut.
__ADS_1
Elena merasa sedikit pusing. Emili benar-benar keterlaluan. Entah untuk apa ia mengirimkan semua foto mereka ke Elena. Padahal sudah dijelaskan bahwa ia tak peduli dengan Adam. Atau apakah Emili marah bahwa akhirnya dirinya yang dinikahi Adam lalu berniat membuat hidup Elena tidak nyaman?
Elena memutuskan untuk berbelanja ke market tak jauh dari apartemennya. Daripada memikirkan kelakuan minus suaminya dan Emili, lebih baik berbelanja dan memasak sesuatu untuk mama mertuanya. Elena menunggu lalu lalang kendaraan sepi, ia akan menyeberang.
Saat sepi, Elena menyeberang jalan tapi saat akan sampai ke seberang sebuah mobil mengebut ke arahnya dan nyaris menabraknya. Mobil yang melaju itu mengenggol sedikit lengannya hingga memerah dan Elena terjatuh ke trotoar jalan dengan seseorang yang memeluknya. Sementara mobil yang menabrak melarikan diri.
Elena segera memisahkan diri saat menyadari bahwa wajah mereka sangat dekat sekali.
"Maafkan aku... Aku tidak sengaja..."
"Tidak apa, terima kasih sudah menolongku," kata Elena sambil mengibaskan pakaiannya dari debu.
"Ini dompetmu?" tanyanya.
"Oh ya... Terimakasih," kata Elena. Beberapa pejalan kaki dan pengendara lain yang melihat kejadian ikut menepi. Mereka melihat keadaan Elena, saat dirasa Elena baik-baik saja mereka segera membubarkan diri.
Elena segera berjalan ke market terdekat dan membeli makanan instan, ia juga membeli beberapa roti dan cemilan. Setelah membayar, Elena berjalan menuju apartemennya.
Elena berdiri di trotoar menunggu menyeberang jalan. Tak lama seseorang berdiri di sampingnya.
"Lukamu lumayan, aku tak bisa mengobati tapi ini akan berguna," ia menyodorkan serenceng plester luka.
"Terima kasih tapi ini terlalu banyak," kata Elena saat menyadari orang tersebut adalah pria yang menolongnya tadi.
"Ambil saja semua, sisanya di simpan. Kamu mau meyeberang lagi?" tanyanya.
"Ya," jawab Elena pendek sambil menyimpan plester dari pria itu di sakunya.
"Ayo, aku juga akan menyeberang. Aku tinggal di belakang sana," tunjuknya ke arah apartemen Elena.
__ADS_1
"Hmmm oke," Elena mengangguk lalu mereka menyeberang bersama. Selama perjalanan mereka saling diam hingga tiba di gang yang memisahkan mereka. Pria itu masuk ke sebuah gang, menuju ke rumahnya. Sedangkan Elena meneruskan perjalanan ke arah apartemennya.