Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 8


__ADS_3

Hari ini hari kedua libur yang diberikan oleh Pak Gala. Setelah seharian kemarin ia menemani tante Renata belanja, ia memutuskan untuk di rumah saja seharian. Tapi ternyata menjelang siang, Hans datang. Hans mengajaknya jalan.


"Kamu nggak kerja?" tanya Elena saat mereka sedang minum es krim di salah satu sudut jalan. Cuaca yang panas membuat keduanya memutuskan membeli es krim.


"Nggak, hari ini aku menemui papaku,"


"Ooh, begitu," Elena menyendokkan es krim dan memakannya dengan lahap.


"Kamu suka?" tanya Hans. Elena mengangguk senang. Siapa yang tak suka jajanan manis nan lembut ini.


"Elen, aku mau bertanya sekali lagi. Apa kamu belum bisa membuka hatimu untukku?" tanya Hans. Seketika Elena merasa tak lagi berselera dengan es krim di hadapannya.


"Hans, kamu tahu kan aku masih mau kuliah, bekerja dan aku belum mau menjalin hubungan dengan siapapun,"


"Benarkah? Bukan karena ada pria lain?" tanya Hans.


"Tidak! Tentu saja tidak ada, aku mau meraih cita-citaku dulu. Maaf Hans tapi aku ingin fokus ke kehidupanku dulu,"


"Iya, aku mengerti. Aku akan menunggumu,"


"Tidak Hans, jangan begitu. Aku tak bisa menjanjikan apapun padamu. Aku tak mau salah satu diantara kita nanti kecewa, biarkan semua mengalir apa adanya,"


"Pahami hatiku Len, sedikit saja,"


"Mohon ngertiin aku," pinta Elena.


"Oke, aku tak akan menanyakan hal itu lagi. Tapi suatu saat aku akan menemuimu kembali," kata Hans.


"Apa kamu mau pergi ke suatu tempat?" tanya Elena.


"Tidak tahu, aku masih mempertimbangkan beberapa hal. Tapi Elena, dimanapun aku, aku akan menunggumu,"


"Hans... "


"Sst... Sudahlah, aku hanya mengatakan apa yang aku rasa. Kamu menerima atau menolak adalah keputusanmu,"


"Maaf... "


"Kamu tak salah Elena. Oh ya besok kamu masuk?" tanya Hans.


"Ya, kalau tidak nanti pak Gala akan memecatku,"


"Hehehe... tidak mungkin. Bagaimana tanganmu?" tanya Hans.


"Sudah lebih baik, obat kemarin memang bagus,"


"Syukurlah..., "


Seharian mereka berjalan-jalan, membeli beberapa jenis makanan, menonton, naik motor melewati beberapa tempat.

__ADS_1


Sore hari, Hans mengantar Elena pulang. Elena memasuki kamarnya setelah membersihkan diri. Ia malah kepikiran Hans. Apa akhirnya ia jatuh cinta pada pria itu? Tapi tidak, ia bertekad untuk kuliah dahulu. Jika memang Hans benar menyukainya ia akan menerima keputusan Elena.


Elena menekan dadanya. Perih. Ia menyukai Hans tapi ia tak mau membuat rencananya berantakan. Ia mau kuliah. Bekerja dengan rajin, menabung sedikit demi sedikit. Lalu nanti akan memulai kisah cintanya.


* * *


Keesokan harinya, Elena kembali bekerja seperti biasa. Rutinitas yang terkadang membuatnya bosan dan lelah. Sampai di tempat kerjanya, ia segera mengganti pakaiannya. Hari ini ia kembali melayani pelanggan di bagian depan. Sampai beranjak siang ia belum bertemu Hans. Entah kemana perginya pria itu.


Elena tak bisa berlama-lama memikirkan pria itu, karena menjelang siang resto mereka mendadak banyak suara kasak-kusuk. Ternyata seorang model dan pasangannya sedang memesan tempat tertutup untuk makan siang. Dan itu adalah tugas Elena.


Setelah mendapatkan tempat dan memesan makanan, Elena berlalu dari sana dan memberikan pada chef di belakang.


"Benarkah dia Emili?" tanya Hana.


"Benar," jawab Elena.


"Wuah... Bisa minta foto bareng ini. By the way, dia bareng siapa ya? Pake topi, maskeran, pake kacamata lagi. G keliatan mukanya,"


"Nggak tau,"


"Di dalam dia nggak buka maskernya?" tanya Hana. Elena menggeleng.


"Yaaah, sayang kita nggak tau,"


"Udah ah, dia mau privasi. Nggak usah bikin risih,"


Elena mengantar makanan ke ruangan si model. Meletakkan beberapa makanan dan melirik pasangannya.


"Kenapa liat-liat? Kamu naksir sama cowok saya?" bentaknya.


"Ti... Tidak. Saya mau nanya apa ada pesanan lainnya? Nanti... "


"Tidak! Nanti kalau mau pesan kami memanggilmu. Jangan bilang apapun di luar sana. Nanti aku akan memberikan tip untukmu," katanya. Elena menggangguk lalu keluar ruangan.


"Huft...! Cantik, terkenal tapi galak!" gumam Elena sambil meninggalkan ruangan khusus VIP yang biasanya di booking orang-orang tertentu.


Elena masih disibukkan oleh pesanan-pesanan lainnya. Apalagi menjelang siang semakin ramai. Elena sangat sibuk dan melupakan model di ruangan khusus. Tapi sampai lewat jam makan siang mereka belum juga selesai dan tidak meminta menu tambahan.


"Nona, sebentar!" pinta seorang laki-laki berrkumis tipis dan kacamata hitam.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Elena.


"Setengah jam lagi bisa menemui saya di depan sana?" ia menunjuk parkiran.


"Ada apa? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Elena curiga.


"Saya butuh bantuan nona, sedikit bantuan. Kalau boleh,"


"Bantuan apa?"

__ADS_1


"Nanti akan saya ceritakan detilnya. Mohon temui saya," pintanya.


"Jika tidak ramai saya akan menemui anda,"


"Terimakasih!" ucapnya.


Elena ragu untuk menemui laki-laki itu. Ia takut laki-laki itu ada niat buruk tapi karena laki-laki itu minta meenmuinya di lapangan parkir akan ia sanggupi. Karena jalanan ramai dan ada CCTV di sana. Ia penasaran siapa laki-laki itu dan mau minta bantuan apa dia dari seorang pelayan resto seperti dirinya.


Setelah jam makan siang, perlahan resto semakin sepi. Elena melintas ke ruangan khusus dan kebetulan pasangan si model baru akan keluar. Ia meminta bill, Elena segera masuk dan melihat catatannya.


Saat masuk ia melihat si model sedang merapikan rambutnya yang basah dan segera melihat ke atas dinding pada AC yang masih berfungsi dengan baik. Lalu mengapa wanita itu justru berkeringat.


Elena memberikan catatan pembayaran dan pria itu memberikan sejumlah uang.


"Kembaliannya untukmu," katanya. Elena mengangguk dan berterima kasih.


"Dan ini untukmu! Jangan bilang pada siapapun kalau aku pernah kesini. Jika di sini aman seperti sekarang, aku akan berlangganan," Ia meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah ke saku baju Elena.


"Baik, terimakasih," kata Elena senang mendapatkan uang tambahan berlebih hari ini.


Lalu pasangan itu keluar terburu-buru. Elena membereskan ruangan itu dan merapikan kembali seperti sedia kala. Juga menyemprot ruangan itu agar kembali segar.


Ia segera keluar dan menyerahkan nota serta uang ke kasir. Lalu ia segera ke belakang tapi langkahnya terhenti saat seseorang melambaikan tangannya. Tadinya ia mau kabur tapi Pak Gala menatapnya dari jauh. Mau tak mau ia mendekat ke laki-laki tadi, yang meminta bantuannya.


Ia mendekat dan bertanya pada laki-laki itu.


"Saya akan bicara di luar, bisa sekarang?" tanyanya.


Elena melihat ke sekitarnya yang sudah sepi. Ia mengangguk lalu mengikuti laki-laki itu keluar menuju parkiran.


"Ada apa pak?" tanyanya.


"Saya mau minta tolong, untuk memasang ini," ia menunjukkan mini kamera di tangannya.


"Untuk apa?"


"Untuk memata-matai seseorang,"


"Siapa? Tapi maaf saya takut terlibat,"


"Tidak, ini justru membantu kami tentang kebenaran sesuatu,"


"Kebenaran? Apa itu...?"


"Begini.... "


Cieeee... Nungguin ya? 🤭


ikutin terus kisahnya ya, jangan lupa recehannya dan votenya. Terimakasih😊🥰

__ADS_1


__ADS_2