
Pagi yang cerah, tapi tak mampu membendung kesedihan di wajah Sharen. Ia mencoba kuat dan tersenyum meski Nadine tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, Sharen menangis dan terluka. Kesekian kalinya, dering gawai membuatnya enggan mengangkat. Ia tahu, ratusan kali Devan menelpon dan mengirim pesan untuknya. Tapi tak sedikitpun digubrisnya.
"Nggak diangkat?" tanya Nadine menyerahkan secangkir teh untuk Sharen.
"Aku sedang malas mendengarkan apapun" Jawab Sharen sambil menyeruput tehnya. Lalu dering gawai Nadine menghentikan aktivitasnya. Siapa lagi kalau bukan Devan. Nadine lama-lama kesal dengan Devan yang tak memberikan sedikit waktu untuk Sharen dan untuknya. Sejak malam tadi gawai mereka selalu berdering bergantian, akhirnya Nadine mematikan kedua gawai mereka.
Tok... Tok... Tok
Pintu depan diketuk. Sharen membuang napas. Nadine segera beranjak ke depan dan menemui seseorang yang mengetuk pintu. Tentu saja itu Devan.
"Sharen mana? Aku meu jelasin semua ke dia" Kata Devan sebelum sepatah katapun terucap oleh Nadine.
"Kasih waktu dulu untuk Sharen, Van. Biar dia tenang dulu" Kata Nadine.
"Kamu nggak tau rasanya Nad!"
"Oh ya? aku nggak tau?" Balas Nadine, Devan menggaruk kepalanya, lalu meremasnya. Tiba-tiba dia menerobos masuk hingga membuat Nadine terjatuh dan sikunya tergores.
"Lepasin! Aku nggak mau! Pergi!" Teriak Sharen. Nadine segera bangkit dan melihat ke ruang makan. Devan sedang menarik tangan Sharen tanpa peduli bahwa Sharen kesakitan.
"Hei... Pelan-pelan bisa kan? Kamu ngerusak hari!" Teriak Nadine. Sepertinya Devan sudah kalap dan tetap menarik Sharen.
"Aku panggil polisi kalau kamu makza dan nyakitin Sharen kayak gitu!" Teriak Nadine, ia tak berani mendekat ke arah Devan. Sepertinya Devan sanggup melakukan apapun agar Sharen ikut dengannya. Lalu Devan terdiam.
"Kamu... Pergi!" Teriak Sharen tanpa meliht Devan. Air mata membanjiri pipi mulusnya yang sudah tertutup make up. Devan lalu pergi setelah mengumpat.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Nadine sambil merangkul bahu Sharen.
"Nggak apa-apa. Thanks Nad. Aku takut. Aku terlalu benci dan terlalu sayang sama dia. Satu sisi aku nggak mau liat dia lagi tapi di sisi lain aku rindu. Nad, tolong..." Pinta Sharen
Nadine bingung, lalu ia menenangkan Sharen. Meminta ijin untuknya agar tak masuk untuk beberapa hati dengan alasan sakit. Tak mungkin bila mereka berdua ijin. Nadine harus tetap masuk kerja.
"Ingat! Jangan bukakan pintu untuk siapapun kecuali keluargamu atau aku" Pesan Nadine, sebelum ia beranjak pergi. Sharen mengangguk, menuyup pintu dan menguncinya dari dalam.
***
__ADS_1
Kamu dimana?
Saat itu masih pukul 09.00 pagi. Nadine dikejutkan dengan sms dari Vico. Astagaaaa ia melupakan pacarnya.
Masih dikantor.
Ada apa?
Apakah Vico akan marah karena ia mematikan ponselnya semalam. Aaah Nadine semakin bingung.
Kamu nggak apa-apa?
Bisakah kita makan siang kali ini? aku menuntut sedikit penjelasan
Balasan Vico membuatnya sedikit tersenyum. Ia merindukan pria itu.
Kamu kangen aku?
Tentu saja. Pastikan nanti kita makan siang bersama. Aku akan menjemputmu
Balasan Nadine mengakhiri pesan singkat mereka. Nadine memesan kopi susu untuknya, matanya tak bisa diajak kompromi. Ia ngantuk sekali. Saat pesanannya datang, lalu dagang pula pesan dari CEO nya yang membuat mood Nadine kembali memburuk.
Ia bergegas ke ruangan CEO. Masih dengan membelakanginya. Sang CEO itu maaih tak mau menatap karyawannya langsung. 'Sombong sekali' Batin Nadine.
"Ada apa pak?" Tanya Nadine buru-buru tak ingin berlama-lama di ruangan horor itu.
"Bapak ingin kamu menyusun itu" Tunjuk asisten ke arah meja. Nadine melongo. Yang benar saja! seorang akuntan di suruh melipat tumpukan selimut segunung yang fungsinya ntah untuk apa.
"Segera kerjakan, karena itu penting. Jika tidak, silahkan keluar dari pekerjaan ini" Kata sang asisten segera saat tahu Nadine akan protes. Nadine berjalan ke arah kursi tamu dan duduk disana sambil melipat tumpukan selimut lembut luar biasa.
Terasa nyaman sekali saat menyentuhnya. Seakan selimut itu terbuat dari kumpulan angin atau awan. Dinginnya ruangan membuat kantuk Nadine tak tertahankan, ia berusaha sebisa mungkin menahan kantuk. Sayangnya, ia akhirnya tertidur lelap.
"Dia sudah tertidur bos"
"Biarkan, mungkin dia lelah" jawab si bos.
__ADS_1
Nadine merasa nyaman sekali. Ia terpejam dan menikmati tidurnya, hingga ia merasa seseorang membenarkan letak kepala dan badannya. Ia ingin protes dan mengatakan sesuatu. Tapi kantuk dan lelah yang menderanya membuat ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Apalagi ketika sebuah bantal di letakkan di kepalanya dan sepatu di kakinya telah terlepas, semakin membuatnya merasa nyaman. Nadine mengigau dalam tidurnya.
"Re...?" Tanyanya sebelum semua menariknya ke alam mimpi.
Sementara itu sang asisten menyembunyikan gelak tawanya saat mengetahui bos nya malah terpaku di hadapan wanita yang tertidur itu.
"Apa itu lucu?" tanya sang bos
"Tentu, melihat si bos terpana melihat gadis tertidur. Bukankah ini lebih mirip dongeng puteri tidur? kisah dambaan kaum wanita?" si asisten masih tersenyum.
"Aku? melihatnya? biasa saja. Ia hanya karyaean disini. Entah kenapa dia sepertinya lelah"
"Oh perhatian sekali bos, apa dengan karyawan lain Anda juga begitu?" Kali ini ia benar-benar tertawa. Hingga membuat Nadine bergerak seolah terganggu dengan suara berisik mereka. Sang bos terdiam membeku saat Nadine bergerak. Ia mengira wanita itu akan bangun, ternyata ia tidur pulas sekali.
"Diamlah! Nanti ia terbangun. Oh ya, untuk karyawan yang ini adalah urusanku. Dan jangan menertawaiku, atau kau pulang saja ke kampung mu kembali!" Bentak si bos.
"Jangan galak-galak bos, nantu saya nggak ada ribet loh" jawabnya sambil tersenyum. Si bos meliriknya tajam.
Si bis kembali ke mejanya dan memeriksa semua file di mejanya di bantu sang asisten. Mereka bekerja dalam diam dan sesekali melirik Nadine yang masih tertidur.
"Ambilkan aku kopi!" Perintah si bos. Si asisten mengangkat wajah dari buku tebal dihadapannya.
"Lalu? kalian berdua saja? aku curiga" jawab sang asisten.
"Ambilkan atau...."
"Segera bos ku. Santai aja... Aku tahu maksudmu mengusirku... Aduuuh!" teriaknya saat si bos melempar sebuah buku ke kepalanya. Lalu ia segera bangkit dan berjalan keluar ruangan sambil bergumam tak jelas.
Memang, ia tak konsentrasi dengan adanya wanita itu di ruangan ini. Ia ingin abai, tapi wajah lembutnya membuat si bos sedikit tergoda. Tentu tidak apa-apa sedikit menyentuhnya. Toh ini ruangannya dan tak ada siapapun disini.
Ia berjalan mengitari meja kerjanya. Lalu mendekati Nadine, membelai rambut dan pipinya. Betapa sulitnya mendekati Nadine. Apalagi sekian lama ia tak bertemu. Setelah bertemu bahkan Nadine memberinya jarak yang begitu jauh dan tak tergapai.
Ia tergoda dan dengan lembut ia mencium kening Nadine. Wangi aroma sampo dari rambutnya masih menempel. Ia ingin waktu berhenti lama saat ini.
__ADS_1
"Gotcha bos ku!" Seseorang masuk dengan wajah menyebalkan dan mengagetkannya. Ia membuang napas lalu segera berdiri berteriak menyumpahi sang asisten yang telah memergokinya mencium Nadine. Hal itu membuat Nadine bergerak, lalu si bos segera pergi dan menyembunyikan diri juga detak jantungnya. Baru nanti dia akan menghukum asisten songong dan menyebalkan itu. Tunggu saja.