
Elena meletakkan ponselnya dan tak berniat membalas pesan dari si pengirim. Kini pikirannya semakin bertambah. Elena mengacak rambutnya dan membiarkan tubuhnya kembali terbenam dalam selimut tebal. Ia mencoba untuk kembali tertidur.
Rasanya baru sebentar terpejam saat ia merasakan tetesan air di wajahnya dan tepukan pelan di pipinya. Elena membuka matanya dan melihat Adam dengan rambut basah membangunkannya. Elena berteriak dan beringsut mundur saat menyadari Adam begitu dekat dengannya.
"Jangan berteriak! Mandi sana, kita turun sarapan. Yang lain sudah ngumpul. Dan... Keramas ya," kata Adam sebelum ia kembali masuk ke kamar mandi memakai pakaiannya. Elena hanya mengangguk.
Elena segera mandi setelah Adam selesai. Ia membasahi rambutnya karena kemarin sesudah resepsi ia belum membersihkan rambutnya. Ia segera berpakaian dan mengeringkan rambutnya.
"Tidak! Jangan keringkan rambutmu," kata Adam meraih hair dryer.
"Kenapa?" tanya Elena.
"Biarkan orangtua kita melihat," kata Adam.
"Ooh itu... Iya, aku keringkan sedikit saja. Agar tidak terlalu basah bajuku," kata Elena dengan wajah memerah saat mengerti apa yang dimaksud oleh Adam. Setelah itu mereka berdua turun dan Adam memaksa meraih tangannya dan menggandengnya. Awalnya Elena menolak tapi karena ada kedua keluarga mereka, mau tak mau Elena berusaha santai dan senyaman mungkin.
"Pengantin baru!" seru Renata yang kini resmi menjadi ibu mertua Elena. Elena hanya tersenyum malu dengan sambutan dari keluarga mereka.
"Nggak usah sok malu gitu," goda Aldo saat melihat adik semata wayangnya akhirnya menikah. Elena tersenyum. Mereka duduk bersama untuk sarapan sambil ngobrol ringan tentang banyak hal.
"Setelah ini kami pulang duluan, kalian nikmati liburannya," kata Sarah, ibu Elena.
"Apa kalian pulang semua?" tanya Elena sedikit khawatir.
"Iya sayang, kami banyak pekerjaan. Kalian nikmati liburannya nanti kita kumpul lagi," kata Renata.
"Tapi..."
"Jangan cengeng dong, malu sama umur!" kata Aldo.
"Yeee biarin!" balas Elena.
"Sudah! Malu sama suami!" kata Sarah. Elena hanya diam melirik Adam yang tersenyum jahil.
Akhirnya semua pamit dan meninggalkan pasangan pengantin baru itu. Setelah semua pergi, Elena justru bingung mau ngapain. Akhirnya Adam mengajaknya pergi ke belakang hotel yang terdapat kolam renang menghadap ke laut.
"Kita santai sebentar, nanti menjelang siang kita keluar sekalian cari makan siang," kata Adam.
"Oke," kata Elena. Mereka menikmati pagi itu dengan bersantai. Elena membawa novel untuk dibaca sedangkan Adam memilih berenang meski masih pagi.
__ADS_1
Ponsel Adam berdering di meja. Elena hanya meliriknya sekilas dan membiarkan ponsel itu berbunyi hingga nada deringnya mati. Kemudian berdering kembali membuat konsentrasi Elena buyar. Ia memanggil Adam agar segera mengangkat telepon miliknya. Adam berjalan menjauh saat menelpon kembali. Elena kembali melanjutkan bacaannya.
Tak lama ponselnya berdenting tanda ada pesan masuk. Elena membukanya dan ternyata dari nomor yang sama mengirimnya pesan tadi malam.
Bagaimana malamnya? Ku harap kamu tidak kecewa karena suamimu tak menyentuhmu
Pesan itu diakhiri emot tertawa. Elena kesal dengan si pengirim. Elena menelpon tapi nomor ponsel itu sedang sibuk karena panggilan lain. Elena mengirimkan pesan kembali
Siapa kamu?
Elena kembali bersandar dan melanjutkan membaca meski pikirannya tak fokus. Ia penasaran siapa yang mengiriminya pesan seperti itu. Tidak mungkin temannya iseng mengiriminya tentang suaminya. Tapi sepertinya ia mengenal Adam, apa mungkin itu adalah teman Adam atau mungkin juga mantan kekasihnya?
Elena segera duduk dan melihat Adam selesai menelpon. Ia mendekat dan melatakkan kembali ponselnya diatas meja. Lalu mengeringkan rambut hitamnya yang pendek karena baru dipotong menjelang pernikahan. Elena melihat ke dada bidang dan perut putih Adam, memang tidak ada kotak disana tapi cukup ramping dan...
"Jangan menatapku begitu!" kata Adam dari sela handuknya.
"Si... Siapa yang ngeliatin kamu!" bantah Elena.
"Nanti sore aku mau pergi ke suatu tempat, kamu boleh kemana saja, nanti aku antar," kata Adam duduk dihadapannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Elena.
"Okey, anter aku ke rumah aja," pinta Elena.
"Oke, abis ini kita mau kemana?" tanya Adam.
"Terserah aja, tapi nanti sempatkan singgah ke stand yang biasa aku datang. Pengen eskrimnya," kata Elena.
"Tapi di sini juga ada eskrim kok,"
"Nggak! Aku mau yang di sana," kata Elena.
"Whatever!" Adam segera ke ruang bilas dan mengganti pakaiannya. Lalu mereka berjalan ke pusat perbelanjaan membeli beberapa keperluan Elena dan mampir hanya untuk membeli es krim.
"Heran aku, banyak es krim yang lezat dan lembut. Kamu malah pilih es krim kayak gini," Adam mengangkat gelas mungil es krimnya.
"Banyak historynya. Dulu aku hidup susah, kalau pengen es krim cuma bisa beli ginian dengan harga segitu aku udah seneng. Orang kaya kayak kamu nggak pernah tahu gimana rasanya bisa nyicip es krim yang menurutku udah mewah," Elena menjelaskan. Adam hanya mengangguk dan memakan es krimnya dan meminta tambahan lagi. Tak tanggung-tanggung, ia membeli dua gelas besar.
"Biar kamu puas! Bila perlu gerobaknya aku beli sekalian!" kata Adam yang diprotes Elena.
__ADS_1
"Beli itu dong buat cemilan!" tunjuk Elena pada beberapa penjual makanan ringan dengan harga murah di sepanjang jalan.
"Kita beli di toko!" kata Adam.
"Nggak! Aku mau itu! Kalau nggak mau ya udah, tunggu di mobil sana!" kata Elena. Tapi Adam malah mengikuti gadis itu membeli aneka snack dengan harga yang sangat-sangat murah. Adam sendiri kaget dengan harganya.
"Biar aku coba!" Adam mencoba beberapa makanan jalanan yang ternyata memang enak di lidanya meski yang dominan adalah makanan pedas.
"Doyan?" tanya Elena.
Akhirnya mereka membeli banyak cemilan dengan harga murah. Membuat Elena tertawa dalam hati melihat Adam yang protes dengan harga dan kualitas kebersihannya. Meskipun begitu mulutnya tak berhenti mengunyah.
"Nanti malam kamu kembali ke hotel, karena besok pagi-pagi sekali kita ke apartemen,"
"Tak bisakah aku menginap semalam di rumah ibu?" tanya Elena.
"Tidak! Lain waktu kita tidur di sana," jawab Adam. Elena hanya mengangguk pelan meski sebenarnya ingin membantah tapi wajah serius Adam membuatnya urung protes.
Sesampainya di depan rumah ibunya, Elena dan Adam turun.
"Ingat! Nanti pulang ke hotel. Pesan taksi online saja," kata Adam.
"Iya, aku tahu!" jawab Elena. Mereka masuk dan Adam basa-basi sebentar lalu pergi meninggalkan Elena.
"Pengantin baru, ditinggal kerja. Kasian!" goda Aldo.
"Yeee biarin,"
"Awas loh, pengantin baru masih rawan godaan,"
"Apaan sih kakak!" Elena kesal dengan Aldo.
"Udah yang, jangan ganggu Elena terus ah, kasian dia," kata Feby, istri Aldo.
"Tuh! Dengerin!" kata Elena. Aldo hanya tertawa puas mengganggu Elena.
Ponsel Elena berdenting, tanda pesan masuk.
Malam ini pengantin baru tidur sendiri. Dia milikku malam ini.
__ADS_1