
Adam membuka laptopnya dan memeriksa laporan yang masuk. Satu jam kemudian matanya mulai berat dan terasa mengantuk. Akhirnya ia menutup laptopnya dan segera beranjak ke kamar. Namun sayangnya karena ia sudah terlalu lelah dan mengantuk ia masuk ke kamar Emili dan berbaring di sana.
Emili yang terbangun karena gerakan di sampingnya tersenyum menatap Adam. Ia tahu Adam tak akan bisa menjauh darinya. Emili merapatkan tubuh mereka, ia memeluk lengan Adam dan kembali tidur. Pria itu tidur sangat pulas hingga tak menyadari ia salah kamar dan Emili memeluknya erat.
Pagi hari alarm ponsel Adam membangunkannya. Ia memang memasang alarm sebelum melakukan pekerjaannya tadi malam. Ada mengerjapkan matanya dan meraih ponsel untuk mematikan alarm. Ia menyingkirkan tangan di dadanya dan duduk. Adam tersadar. Ia melirik ke belakang punggungnya. Emili sedang tidur pulas. Adam melihat pakaiannya, masih utuh. Ia bersyukur tak terjadi sesuatu. Adam menyugar rambutnya dan segera ke kamar mandi.
Aroma sabun dan sampo menyeruak ke dalam kamar Emili. Gadis itu bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Tersenyum melihat Adam keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.
"Bangunlah, segera sarapan!" Adam mengambil pakaian yang ada di lemari.
"Bagaimana sarapan di ranjang dulu?" tanya Emili memeluk pinggang Adam yang masih berbalut handuk.
"Mili, stop it! Ayo sarapan, aku buru-buru!" ucap Adam melepaskan tangan Emili dan segera memakai pakaiannya.
"Kenapa sekarang kamu berubah? Apa kamu mencintai gadis pilihan orangtuamu itu?" tanya Emili.
"Aku tidak berubah dan aku tidak mencintainya. Ini murni bisnis. Aku hanya lelah dan buru-buru. Mandilah, aku tunggu di ruang makan," ucap Adam mengecup kening Emili sekilas.
Adam duduk di ruang makan, sarapan sudah disediakan oleh asisten rumah tangga. Adam menyesap kopinya dan membuka aplikasi sosial media di ponselnya.
"Bik, tolong nanti ingatkan Mili untuk meminum vitaminnya. Dan perhatikan makanannya," kata Adam.
"Baik den, bibi pamit dulu, mau nunggu tukang sayur," asisten rumah tangga itu keluar setelah Adam mengangguk.
"Hai... Ayo sarapan!" Emili sudah duduk di meja makan tepat di samping Adam.
"Ayo, makanlah yang banyak supaya bayi itu sehat dan cepat besar,"
"Sepertinya papa kamu sudah tidak sabar," kata Emili tersenyum ke arah perutnya yang sedikit membuncit. Adam hanya mengerling lalu meletakkan vitamin untuk ibu hamil di samping piring Emili.
"Makanlah, minum vitaminnya. Aku kerja dulu," Adam pamit dan segera berjalan keluar. Selera makannya entah kenapa tiba-tiba hilang. Emili bangkit dan mengejar Adam memeluknya dari belakang.
"Tidak bisakah lebih lama lagi?" tanya Emili.
"Maaf aku harus ke kantor Mili, aku buru-buru," Adam mencoba melepaskan tangan Emili lalu ia berjalan menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya. Ia melambai ke arah Emili dan mobilnya segera meluncur meninggalkan rumah.
__ADS_1
Baru saja ia keluar kompleks perumahan. Asisten rumah tangganya menelpon dan memintanya segera kembali karena Emili kesakitan. Sambil mengumpat Adam memutar mobilnya dan kembali ke rumah.
"Kenapa dia?" tanya Adam saat melihat Emili meringis kesakitan di kamar mandi.
"Non Emili muntah-muntah," jawabnya. Adam membantu Emili berdiri dan memapahnya ke kamar.
"Kenapa bisa begini?" tanya Adam memakaikan selimut ke Emili.
"Biasa ini den, kalau hamil pasti begini. Muntah-muntah itu biasa tapi non Emili tadi kesakitan saya takut kenapa-kenapa. Maaf kalau saya jadi mengganggu," kata asisten rumah tangganya.
"Tidak apa-apa, makasih ya bi," kata Adam.
"Sama-sama den. Balurkan dulu minyak ke sekitar lehernya. Mudah-mudahan membaik," saran si bibi.
"Iya bi, sebentar lagi saya bawa aja check up. Sekalian liat perkembangannya," kata Adam.
"Baik den,"
Adam segera bersiap-siap membawa Emili yang terbaring lemah. Ia akan membawa ke dokter.
"Tidak, aku cemas kalau kenapa-kenapa denganmu atau bayi itu," kata Adam bersikeras.
"Aku bisa merasakan, ini akan membaik,"
"Tidak!" Adam segera menggendong Emili yang terbaring lemah dan membaringkannya di mobil. Mereka segera ke rumah sakit.
Setelah sampai dan dokter segera memeriksa Emili. Adam gelisah menunggu. Ia tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana menjaga seseorang yang sedang hamil.
"Bapak Adam, silahkan masuk. Dokter mau bicara," panggil seorang perawat.
"Terimakasih sus," Adam segera masuk dan menemui dokter. Emili masih berbaring dengan mata terpejam. Entah tidur atau memang sangat sakit.
"Jadi bagaimana dok?" tanya Adam setelah duduk di hadapan dokter.
"Tolong diperhatikan istrinya pa, maaf sebelumnya. Sebaiknya tolong perhatikan waktu istirahat dan asupan makanannya. Sepertinya ibu Emili tidak cukup istirahat dan sedikit sekali makannya, itu membuat tubuhnya lemah ditambah lagi... "
__ADS_1
"Ada apa dokter?" tanya Adam penasaran saat dokter itu menjeda ucapannya.
"Sebaiknya bapak selalu ada di sampingnya. Coba untuk menjadi pendengar yang baik dan mohon untuk stop mengkonsumsi minuman beralkohol,"
"Apa Emili minum alkohol?" tanya Adam pelan.
"Sepertinya begitu, mungkin kemarin dia meminumnya atau tadi malam. Dan efeknya panas dan bisa menyebabkan gangguan janin bahkan keguguran," ucap dokter.
"Astaga, baik nanti akan saya perhatikan. Lalu bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Adam.
"Sebaiknya bu Emili istirahat dahulu. Menginap dulu dua hari di rumah sakit sambil kami observasi kandungannya, saat ini pasien sedang tidur. Biarkan saja beristirahat. Sebaiknya jaga benar-benar, jangan samapi setres,"
"Lalu kandungannya?"
"Saat ini masih baik-baik saja. Makanya kami sarankan untuk dirawat sampai kami tahu janin dan ibunya pulih,"
"Baik dok, terimakasih," Adam memgantar dokter keluar. Lalu kembali masuk ke ruangan Emili. Dan melihat ia sedang tertidur pulas. Sepertinya Emili setres memikirkan nasibnya dan bayinya. Padahal Adam sudah memberikan banyak untuk Emili asal dia bisa jaga diri dan calon bayinya. Seketika ia teringat perkataan dokter membuatnya geram.
Ia menelpon Lee dan segera diangkat pada dering pertama.
"Kenapa lagi?"
"Aku pinjam orangmu," kata Adam. Tak lama ia memutuskan sambungan telepon lalu duduk di samping ranjang Emili. Pikirannya kalut. Entah sejak kapan Emili masih mengkonsumsi alkohol padahal ia sedang hamil. Adam marah meski ia belum yakin itu bayinya tetap saja bayi itu tak berdosa dan ia merasa kasihan.
Ponselnya berdering. Dari Lee, Adam segera mengangkatnya.
"Bagaimana?" tanya Adam.
"Beres! Cepat bereskan yang di sana. Aku capek ditanyai mamamu," kata Lee.
"Thanks Lee, mungkin lusa aku pulang," kata Adam.
"Parah banget ya?" tanya Lee. Ia belum tahu detil masalah Emili dan Adam saat ini. Tapi secara garis besar ia tahu sedikit.
"Ya gitu lah, nanti ku kabari lagi. Aku capek,"
__ADS_1
"Ok bye!" kata Lee. Lalu memutuskan sambungan telpon