Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 34


__ADS_3

Elena mendekap mulutnya. Ia tak mempercayai apa yang dilihatnya. Ia menggeleng kuat berharap itu semua mimpi tapi ini benar-benar nyata. Suaminya dan Emili sedang berpelukan dan mereka berciuman! Membuat Elena mual dan segera berlalu dari sana. Ia muak.


Elena berjalan menuju kamarnya dan mengemasi pakaiannya yang sedikit lalu duduk di atas ranjangnya dan menangis. Elena merasa bodoh. Apa yang diharapkannya dari Adam? Bukankah selama ini dia dan Adam melakukan pernikahan murni karena bisnis dan keuntungan? Tapi melihat mereka berdua berpelukan dan berciuman entah kenapa hati Elena terasa sakit.


Elena menghapus air matanya saat sadar bahwa memang Adam bukanlah sepenuhnya miliknya. Tapi tak bisakah mereka melakukannya bukan di rumah ini? Di rumah orangtua Adam? Entah dimana pikiran mereka berdua.


Elena bangkit lalu segera ke kamar mandi sebelum Adam melihatnya menangis. Ia tak mau Adam atau Emili merasa senang melihatnya bersedih. Setelah merasa cukup, ia keluar dan melihat Adam sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Kamu berkemas?" tanya Adam dengan wajah yang lembut. Andai saja ia tak melihat bagaimana bibir itu ******* bibir Emili tentu saat ini ia merasa berbunga-bunga melihat bagaimana Adam menatapnya.


"Ya, aku mau kembali ke apartemen!" jawab Elena sambil menarik kopernya menuju ke pintu kamar.


"Tapi aku baru pulang, besok saja kita ke apartemen," kata Adam.


"Terserah, aku duluan!" Elena seolah tak peduli, ia lalu keluar sambil menarik kopernya. Adam segera mengikuti Elena keluar, meski lelah ia akan membujuk Elena agar tinggal satu malam lagi di rumah ini. Ia tak bisa memikirkan jawaban apa bila orangtuanya bertanya.


"Tunggu! Elena! Please, sebentar!" Ada menahan lengan Elena. Elena segera menarik tangannya.


"Apa lagi?" tanya Elena.


"Kita besok saja pulangnya ya?" pinta Adam.


"Aku udah bilang, terserah kamu. Aku gerah dan mau kembali ke apartemen. Terserah kamu mau di sini atau tidak!" Elena segera berbalik dan meninggalkan Adam yang berlari mengejarnya.


"Oke, aku ikut!" kata Adam. Mereka berjalan beriringan dan sampai di meja makan terlihat mama Renata yang sudah siap menunggu mereka makan malam.


"Loh? Mau kemana sayang?" tanya Renata.


"Mau kembali ke rumah ma," jawab Elena.


"Kenapa? Kok mendadak? Besok aja pulangnya,"


"Tidak ma, maaf!" Elena tak bisa memikirkan jawaban apa yang tepat.

__ADS_1


"Kami akan makan malam di sini, setelah itu baru kami pulang," kata Adam.


"Baiklah, ayo makan dulu!" ajak Renata. Tak lama Emili keluar dari kamarnya dan berpamitan pada semua orang. Dan terakhir ia memandang Adam agak lama, begitu juga dengan Adam. Elena melihat bagaimana Adam menatap Emili membuat selera makannya menguap. Apakah ia cemburu? Entahlah, ia tak suka Adam begitu lembut pada Emili sedangkan dengannya Adam sering kali marah dan sinis. Elena merasa Adam tak adil, toh berkat dirinya juga hingga Adam bisa mewarisi berbagai keuntungan dari ayahnya.


Emili keluar sambil membawa barangnya dan berlalu dari sana. Elena berpura-pura tidak melihat dan melanjutkan makannya meski hanya sedikit.


Setelah makan Elena segera beranjak dan berpamitan pada orangtua Adam. Diikuti oleh Adam yang mengikutinya dengan lesu.


Di dalam mobil keduanya saling diam tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan. Bahkan saat mereka sudah berada di dalam unit, mereka saling diam.


"Kenapa pasword kita diganti?" tanya Adam.


"Kemarin aku menelpon penyebabnya tapi kamu nggak angkat," jawab Elena cuek, lalu masuk ke kamar dan meletakkan koper tanpa ada niat untuk membukanya.


"Maaf, aku sedang meeting. Apa yang terjadi?"


"Kemarin..."


Ting tong


"Ya pak?" tanya Elena.


"Maaf bu mengganggu, saya cuma mau memastikan bahwa semua aman. Apakah orang kemarin ada datang lagi?" tanya petugas itu.


"Tidak tahu pak, saya kemarin menginap di rumah orangtua," Elena menjawab.


"Oh begitu, kalau ibu tidak keberatan nanti bisa ikut saya ke ruangan untuk melihat siapa orang yang masuk kemarin. Mungkin ibu kenal," kata petugas itu.


"Baik, saya ke sana sekarang," kata Elena, ia penasaran dengan orang tersebut. Semoga saja wajahnya terlihat.


"Orang siapa?" tanya Adam. Elena hanya menarik napas dan mengabaikannya. Elena segera mengikuti petugas tersebut menuju ruangan keamanan. Meski lelah, Adam mengikuti mereka berdua. Ia penasaran dengan apa yang terjadi.


Sesampainya di ruang keamanan, mereka melihat rekaman CCTV yang ada di banyak tempat. Memang terlihat seorang pria berbaju hitam dan memakai topi memasuki apartemen dan bahkan tahu password untuk masuk ke unitnya. Elena semakin penasaran, bagaimana oramg tersebut tahu password unitnya dan sepertinya pria itu tahu dimana letak CCTV hingga ia bisa menghindar. Wajahnya sama sekali tidak terlihat.

__ADS_1


Tak lama video rekaman terlihat saat pria tersebut berlari keluar. Hanya sampai di situ.


"Ibu tidak kenal dengan ciri fisik dari orang tersebut?" tanya petugas. Elena menggeleng.


"Bagaimana dia bisa masuk ya?" gumam Elena.


"Maafkan kami yang teledor, kami mohon maaf karena tidak bisa menjaga keamanan di sini,"


"Tidak apa-apa pak, saya merasa tidak asing dengan postur tubuhnya. Tapi saya lupa siapa orangnya," Elena memijit pelipisnya.


"Pelan-pelan saja bu, nanti jika sudah ingat jangan lupa hubungi kami,"


"Baik pak, terimakasih. Saya kembali ke unit ya,"


"Baik bu, maaf mengganggu waktunya," petugas tersebut berkata dengan raut wajah menyesal.


"Tidak apa-apa, sekali lagi termakasih ya pak, saya pamit," Elena seger berlalu dari kamar tersebut tanpa menunggu Adam.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Adam.


"Nanti ku jelaskan!" Elena sedang malas bercerita panjang lebar karena tubuhnya sedikit lelah. Dan melihat sepertinya Adam juga butuh istirahat.


Sesampainya di unitnya, Elena segera masuk ke kamarnya dan berbaring. Rasanya lelah dan mood nya berantakan. Tak ingin kembali ke sini karena pernah dimasuki orang asing, tapi di rumah mertuanya pun ia tak ingin. Serba salah.


Elena memejamkan matanya dan merasakan gerakan halus di atas kasur. Seketika Elena membuka mata dan melihat Adam duduk dan menunggu penjelasannya.


"Ada apa sebenarnya?"


"Kemarin ada orang asing masuk ke unit kita,"


"Lalu?"


"Entah apa yang dicarinya, dan dia juga mengancamku bahkan mencekik leher. Entah apa niatnya yang jelas aku merasa sedikit lagi kehilangan nyawa,"

__ADS_1


"Benarkah? Maafkan aku yang sibuk dan tak mengangkat teleponmu,"


"Dan bahkan sesudahnya kamu tak ada niat untuk menelpon balik!" ucap Elena. Adam terdiam, memang benar apa yang dikatakan Elena. Sebenarnya ia malas mengangkat telepon dari Elena karena ia sedang bersama Emili. Tapi tak mungkin ia katakan itu semua.


__ADS_2