Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 38


__ADS_3

Malam harinya setelah menyiapkan makan malam lebih banyak dengan menu yang lebih variatif, Elena menunggu Adam pulang dan meminta maaf jika dia ada salah. Namun sampai makanan itu dingin, Adam tidak pulang ataupun mengabarinya.


Hampir tengah malam, akhirnya Elena beranjak ke kamar. Adam tidak akan pulang. Mungkin dia sangat marah. Sebelum berbaring, Elena menyempatkan melihat notifikasi ponselnya. Pesan beruntun dari Emili. Tentu saja. Siapa lagi, asal Adam tidak pulang dia pasti ke rumah Emili.


Emili mengiriminya banyak foto dan pesan beruntun betapa Elena terlihat menyedihkan dan merasa sedih. Padahal Elena tidak terlalu merasa kehilangan meski ada sedikit rasa sakit hati. Seharusnya Adam dan Elena menyelesaikan masalah mereka dahulu. Jadi Elena tak merasa sakit hati karena pesan Emili.


Elena mengabaikan pesan Emili, meski rasanya ia ingin marah dan menyumpahi keduanya tapi ia lelah. Hanya buang energi. Elena segera berbaring sambil membayangkan apa yang mereka lakukan? Apakah status mereka sudah menikah? Lalu kenapa Emili seolah tidak puas dan terus menerus membuat Elena kesal? Apakah ia ingin menguasai Adam seorang diri? Jika memang benar, Elena akan siap mundur. Mungkin dia akan kembali mencari pekerjaan dan hidup seperti semula. Dengan mencoba mencukupi hidupnya dengan gaji yang minim. Entah kapan ia bisa kuliah lagi. Memikirkan hal ini membuat ia bersedih. Ia ingin orangtuanya bangga.


Dalam gelap kamarnya, Elena meneteskan airmata. Semakin dipikirkan semakin membuatnya merasa menyesal dengan pernikahan ini. Memang benar nasihat orang, pernikahan bukan untuk mainan. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, suci dan juga mengandung nilai kejujuran. Elena dan Adam telah membohongi banyak orang. Jadi, entah kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani kedepannya.


Setelah kejadian sore itu, hubungan Elena dan Adam semakin memburuk. Adam terlihat acuh dan dingin. Elena pun berusaha membujuk tapi Adam semakin menjauh dan jarang pulang. Apalagi sekedar mengabarinya. Adam menjadi sosok yang sangat asing dimata Elena. Bahkan lebih asing dari saat pertama mereka kenal.


Sekali waktu teman kantor Adam datang berkunjung untuk berkenalan. Adam sangat pandai bersandiwara. Ia membuat seolah mereka adalah pasangan paling romantis. Namun setelah acara tersebut, mereka kembali menjadi dua orang asing yang bertegur sapa pun terasa berat.


Lain waktu, orangtua mereka datang sekedar melihat bagaimana kehidupan pasangan itu. Lagi-lagi mereka melakukan sandiwara seolah rumah tangga mereka baik-baik saja. Betapa penuh drama hidupnya kini.


Belum lagi drama-drama yang dilakukan oleh Emili. Hingga membuat Elena geram dan sakit hati. Emili datang ke apartemen dan mulai mengomentari segalanya seolah kehidupan Adam bersama Elena seperti sesuatu yang buruk. Hingga akhirnya Elena marah dan kesal mengumpat wanita yang sedang hamil anak dari suaminya. Emili juga kesal Elena selalu cuek dengan sindiran dan kemarahnnya di pesan singkat mereka, lalu membalas dengan kata-kata tajam hingga menghina keluarga Elena yang seolah aji mumpung bertemu dan dijodohkan dengan Adam hingga membuatnya lupa diri dan memoroti harta keluarga Adam.


Elena benar-benar marah lalu menampar Emili, lupa bahwa wanita itu sedang hamil. Lupa bahwa masih ada Adam yang sewaktu-waktu masuk ke apartemen mereka. Dan benar saja, bentakan dari Adam menyadarkan Elena, yang tadinya deru napasnya saling berkejaran kini Elena mematung dan tak berani bernapas.

__ADS_1


Kejadiannya begitu cepat. Adam memarahinya dan membentaknya. Elena tak terima jadi ia juga berteriak pada Adam. Dan akhirnya satu tamparan di terima Elena. Membuat wanita itu terduduk di sofa. Perih. Tidak hanya fisik tapi juga mentalnya. Elena menangis dalam diam saat Adam meneruskan memarahinya lalu mengajak Emili pergi.


Hening. Hanya itu yang dirasakan Elena di ruangan yang beberapa bulan ini ditempatinya. Sebelumnya memang terasa sepi tapi kini rasanya benar-benar kosong. Elena ingin pergi dan meninggalkan semuanya tapi mengingat bagaimana kedua orangtua Adam berharap banyak pada Elena. Ia mengurungkan niatnya sejenak. Yang Elena lakukan adalah pergi dari apartemennya untuk beberapa hari. Sudah pasti Adam juga tak akan kembali ke apartemen itu bila sedang kesal dengan Elena.


Elena pergi bermain di rumah Hana dan malamnya ia menyewa hotel murah untuk tiga hari. Ia ingin menenangkan diri. Memang ia salah pergi meninggalkan rumah tapi Adam lebih dahulu melakukannya. Dan ditambah Adam juga memiliki istri lain yang kini sedang hamil. Harusnya memang Elena yang marah tapi ia teringat bahwa statusnya hanya ada diatas kertas. Makanya ia memutuskan untuk menyenangkan dirinya sendiri sejenak.


Di hari kedua, Adam menelponnya. Elena mengangkatnya dengan malas.


"Elen? Kamu dimana?" tanyanya terburu-buru.


"Di rumah teman, kenapa?"


"Tidak!"


"Elen, aku tidak ingin berdebat!"


"Sama, aku juga tidak ingin melihatmu beberapa hari!" balas Elena.


"Elen, mamaku datang! Dia mencarimu," ucapnya sedikit panik.

__ADS_1


"Ya, kamu pinter-pinter aja jawabnya. Sama kayak selama ini aku menutupi ketidakhadiranmu karena kamu menginap di rumah Emili!" balas Elena. Ia mematikan ponselnya dengan kesal. Bukannya meminta maaf atau berkata lembut, Adam malah mendesaknya untuk pulang. Elena tidak pulang sementara, birkan saja Adam memikirkan alasan apa untuknya.


Setelah terakhir kali menelpon, Adam tak pernah lagi menghubunginya sampai akhirnya Elena pulang kembali ke apartemennya. Elena dengan riang berjalan keluar lift dan membuka pintu apartemennya.


Kejutan menantinya. Rupanya mama Renata diapartemennya sedang mengobrol dengan Adam. Sedangkan papa Kim di dapur sedang menerima telepon.


"Akhirnya kamu pulang," mama Renata memeluk Elena. Elena hanya terdiam menantikan harus bersandiwara seperti apa. Ia menatap Adam, tapi pria itu melengos lalu senyum-senyum.


"Maaf kalau Elen tidak di rumah, mama sama papa udah dari tadi?" tanya Elena. Renata mengangguk.


"Jadi gimana hasilnya?" tanya Renata.


"Ha... Hasil? Hasil apa ma?" tanya Elena bingung menatap Adam, tapi pria itu menunduk membalas pesan di ponselnya.


"Hasilnya, kamu katanya ke dokter. Jadi gimana? Mama bakalan punya cucu kan?" tanya Renata antusias. Elena membelalakkan matanya dan kali ini benar-benar menatap Adam dengan tajam.


"Cucu ya maaa?" Elena tersenyum.


"Iya, gimana hasilnya?"

__ADS_1


"Negatif ma, Elen hanya masuk angin nungguin Adam pulang untuk makan malam. Rupanya Adam tidak pulang, Elen jadi malas makan," Elena menjelaskan panjang lebar meskipun membuat Renata kecewa tapi ia juga harus mengerjai Adam. Seenaknya aja dia mengatakan pada orangtuanya bahwa ia ke dokter kandungan. Elena tak akan semudah itu untuk memberinya anak. Ia akan tahu akan merugikan dirinya dan anaknya kelak. Sekarang keadaan berbalik. Dan Adam kembali kelimpungan memikirkan alasan apa yang digunakan karena tidak pulang malam itu. Ia kesal dan berjanji dalam hati tidak akan memaafkan Elena.


__ADS_2