Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 40


__ADS_3

Malam itu Elena sudah selesai masak dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Setelah selesai menyajikannya Elena memanggil Adam untuk makan malam. Adam sedang mengerjakan pekerjaannya di kamar.


Adam beranjak menuju meja makan dan dengan mata berbinar melihat menu makan malam hari ini. Tidak mewah tapi kelengkapan menunya membuat perut Adam berontak. Ada sup bakso, tempe goreng tepung, sambal dan ayam goreng. Juga puding dan buah yang sudah tersaji, siap disantap.


Baru saja makan beberapa suap, dering ponsel mengganggu makan malam mereka. Adam bergegas meraih ponselnya dan berjalan sedikit menjauh. Tak lama, ia kembali dengan raut wajah marah dan wajah yang memerah. Elena memberikan gelas berisi air putih pada Adam. Pria itu menatapnya keheranan.


"Santai dulu, jangan marah-marah. Makan dulu atau kamu mau menemuinya?" tanya Elena sambil terus menyuapkan nasinya.


"Tidak... Aku makan!" jawab Adam setelah meminum minuman yang disodorkan Elena.


Setelah makan, Adam membawa puding dan buah potong ke sofa. Ia menikmatinya sambil menonton televisi. Sementara itu Elena membersihkan bekas makan mereka.


Berbeda dengan Adam, beberapa potong buah dibawa Elena ke balkon. Ia menikmati malam sambil menyantap buah. Tak lama Adam bergabung dengannya. Adam baru menyadari Elena sering menikmati malam, ia lebih suka buah dibanding makanan manis, ia lebih tertarik pada buku dibanding alat make up terbaru. Banyak hal yang akhirnya Adam ketahui setelah tinggal bersama.


"Kamu rindu orangtuamu?" tanya Adam.


"Ya..."


"Mau kesana?" tawar Adam.


"Pengen, tapi aku masih mau fokus di bimbel dulu. Nanti kalau sudah bisa menyesuaikan aku mau kesana," kata Elena.


"Oke! Kapan mau kesana bilang aja. Nanti aku temani," kata Adam.


"Thanks!"


"Kamu merasa tertekan dengan pernikahan kita?" tanya Adam. Elena menggeleng.


"Nggak, sewaktu-waktu aja terkadang masih mikir ini keputusan bener atau nggak," kata Elena.


"Apa aku ada memaksakan sesuatu terhadap kamu?"


"Nggak ada, tumben nanyain beginian," komentar Elena.


"Nggak apa-apa, aku hanya bertanya,"

__ADS_1


"Lihat! Itu bintang jatuh!" Elena berlari dan bersandar pada pagar balkon.


"Mana?" tanya Adam menyusul. Tapi sayang bintang jatuh itu sudah menghilang. Ia melihat Elena matanya terpejam seperti berdoa.


Adam memperhatikan bagaimana wajah Elena sungguh-sungguh dari jarak yang lumayan dekat. Hidung mungil, bibir mungil, bulu mata lentik dan panjang. Elena cantik dengan kesederhanaannya. Berbeda dengan Emili yang selalu tampil cantik dan paripurna menggunakan make up selalu. Kulit Elena yang terlihat lembut dan tubuh mungilnya terlihat rapuh.


Adam melihat ada sesuatu disudut bibir Elena. Ia mendekat dan memperhatikan, apakah itu? Karena dibalkon gelap, Elena sengaja mematikannya agar semakin jelas terlihat bintang di langit. Adam mendekatkan wajahnya. Semakin ia dekat, semakin terlihat jelas sesuatu di sana. Saat semakin dekat Elena membuka matanya dan kaget karena wajah Adam begitu dekat dengannya. Elena mundur beberapa langkah menghindari Adam.


"Maaf tapi ada sesuatu di sini!" ucap Adam sambil meraih remahan yang tertinggal di sudut bibir Elena.


"Oh... Thanks!" Elena menepisnya dengan rangan sebelum Adam sempat menyentuhnya. Dengan sedikit kecewa Adam menurunkan tangannya dan kembali menatap langit.


"Kamu minta sesuatu? Bintang tadi..." tunjuk Adam.


"Iya.."


"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Adam.


"Banyak. Cuma satu per satu harus bisa," kata Elena.


"Lupain aja," kata Elena.


"Apa itu sakit?" tanya Adam sambil mengelus sebelah pipi Elena. Gelenyar rasa dingin menghantam kulitnya terutama bagian pipi yang disentuh Adam. Bukannya berhenti disana tapi kini jari Adam mengusap lembut pipinya. Elena terdiam, mengumpulkan tenaganya untuk menolak sentuhan Adam. Ia tahu bagaimana pergaulan Adam. Ia tak mau menjadi korban perasaan.


"Se... Sedikit..." bisik Elena. Suara bisikan Elena seperti bisikan berbeda di telinga Adam.


"Maaf kalau aku sering menyakiti, aku tidak berniat begitu sejujurnya tapi aku selalu kelepasan. Maafkan aku..."


"Tidak apa-apa, rasa sakitnya juga sudah hilang," jawab Elena menatap Adam. Adam menatapnya sendu. Ada apa ini? Mengapa suasananya jadi terlihat berbeda. Elena merasa sedikit takut jika Adam berbuat nekat dan lebih dari ini.


"Kalau sakit katakan sakit. Jangan kamu pendam. Itu akan jadi bom yang sewaktu-waktu meledak, kamu mengerti?" tanya Adam sambil tersenyum menangkup kedua pipi Elena.


"Mengerti..."


"Elena...!" panggil Adam berbisik. Elena seakan terpaku dengan kelembutan suara Adam. Juga matanya yang tak lepas menatap Elena.

__ADS_1


"Ya...?"


"Aku..." Adam berbisik pelan, lalu menunduk agar wajah mereka tidak berjarak jauh. Elena terpaku bahkan untuk bergerak mundur ia sudah tak mampu. Napasnya seakan berhenti saat Adam semakin mendekatkan wajahnya.


"A... Apa yang..."


"Malam ini..."


"Adam!" panggil Elena agar Adam sedikit sadar. Jujur ia takut jika Adam macam-macam atau meminta sesuatu. Secara sah bahwa Elena adalah istrinya. Tapi ia belum siap untuk lbih dekat dengan Adam. Tidak ada rasa untuk Adam saat ini. Setidaknya belum.


"Elen... Kamu cantik,"


"Adam! Jangan macam-macam!" ancam Elena.


"Aaah... Semakin terlihat menggoda. Apa kamu tahu kalau suami istri itu harus selalu dekat?" tanya Adam membelai rambut Elena.


"Tidak untuk kita. Kamu ingat soal perjanjian kita? Jangan pernah untuk mengingkarinya!" kata Elena tegas.


"Tapi bagaimana kalau... Aku tidak bisa menahannya. Aku laki-laki, jadi wajarkan?" bisiknya sambil tersenyum, mengerikan.


Elena bergegas mundur dan berlari masuk ke dalam kamar. Ia mengunci pintu kamarnya dan merosot di pintu. Dadanya berdebar. Hampir saja.


Ia tak mau jika mereka ada kontak fisik. Ia tak mau jika nanti mereka bersentuhan, lalu Adam menginginkannya. Tidak. Dia belum siap untuk itu. Adam dan dia hanyalah sebatas soal perjanjian sampai mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Dan lagi, masalah Adam dan Emili belum tuntas. Dia tak mau memperumit keadaan. Seandainya anak yang dikandung Emili memang benar anak Adam, maka dia bersiap untuk keluar dari kehidupan Adam.


Elena mau mempertahankan dirinya untuk tidak terlibat lebih jauh dengan Adam. Dia masih mau melanjutkan cita-citanya, keinginan yang selama ini terpendam dan ia juga ingin membahagiakan orangtuanya terlebih dahulu.


Elena menekan dadanya. Berharap jantungnya tidak berdebar dengan keras. Memalukan. Ia bahkan berdebar saat disentuh Adam. Itu sangat berbahaya. Ia tak mau ada perasaan apapun. Sejenak ia hampir saja terpesona dengan jerat Adam. Syukurlah dia bisa segera sadar karena suara ponsel Adam saat itu berbunyi, menyadarkannya dan dengan cepat ia berlari masuk ke kamar. Sebelum Adam menyadari langkahnya meninggalkan Adam. Untunglah dia segera mengunci pintu kamar. Jika tidak, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Adam padanya.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar diketuk, Elena dengan jantung berdetak hanya diam, bahkan bernapas pun ia tahan sejenak. Apa yang ingin dilakukan Adam? Elena...


Birsimbing...

__ADS_1


__ADS_2