
"Kamu!"
"Apa?"
"Keterlaluan!"
"Apa sih?"
Elena berkali-kali menepuk lengan Adam tanda protes. Dan pria itu tidak bisa membalas karena sedang menyetir.
"Aku? Keterlaluan? Apanya?" tanya Adam memegang tangan Elena.
"Kenapa kamu menyebut soal anak? Bukankah di perjanjian..."
"Kamu pikir orangtuaku akan diam saat mendengar kita menolak memiliki anak?"
"Tapi kan..."
"Kamu mau dituntut terus? Kan itu aku buat supaya mereka tidak lagi menuntut ini itu,"
"Tapi kan tetap aja,"
"Kenapa?"
"Keterlaluan! Kan aku..."
"Kenapa?" tanya Adam.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kesal!" Elena kembali memukul lengan Adam.
"Kamu ini kenapa sih? Bar-bar banget! Nggak kebayang aku kalo satu rumah sama kamu,"
"Nggak usah dibayangin!"
"Hmmmh... Udah! kalo kamu nggak berhenti mukulin,aku turunin di sini!" bentak Adam. Seketika Elena berhenti dan kembali bersandar di kursinya.
"Kamu nyebelin,"
"Baru tahu? Aku bisa lebih nyebelin lagi kalo kamu nggak bisa akting di depan orangtuaku," ancam Adam. Elena hanya membuang napas kasar dan menatap keluar.
Bukan seperti ini yang diinginkannya! Ia selalu memimpikan momen-momen saat akan menikah dengan pasangan yang dicintainya. Terasa indah. Namun sekarang, ia merutuki semuanya. Ia sulit sekali untuk menerima Adam dan berpura-pura mereka bisa sangat dekat.
Saat sampai di rumahnya, Elena segera turun dan mengancam Adam agar tidak turun dan meminta untuk segera pulang. Ia takut ibunya akan menahan Adam dan mengajaknya mengobrol panjang. Ia tak mau dekat dengan pria itu saat ini. Adam dengan senang hati segera memutar kendaraannya dan berlalu dari pekarangan rumah Elena.
"Loh? Adam pulang?" tanya ibunya saat melihat mobil Adam melaju meninggalkan rumahnya.
"Iya bu, mendadak di kantornya ada masalah," kata Elena.
__ADS_1
"Jadi gimana tadi acara makan malamnya? Gugup ya?" tanya ibunya.
"Hehehe sedikit tapi lama-lama Elen terbiasa. Tante Renata dan om Kim sangat baik,"
"Mereka memang baik banget, kalian ngobrolin apa aja?" tanya ibunya mengekor kemana saja Elena pergi. Elena ke dapur dan menuang air ke gelas lalu meneguknya hingga habis.
"Banyak bu," jawab Elena yang tak ingin membahas lebih banyak.
"Contohnya?"
"Bu, sudahlah. Elena capek itu, biar dia istirahat. Besok kamu bisa nanya-nanya lagi," kata ayahnya.
"Hehehe iya yah, Elena masuk dulu ya," Elena sangat berterimakasih pada ayahnya dan ia segera pamit untuk istirahat.
Rasanya sulit sekali menceritakan bagaimana dirinya dan Adam tapi kalau bercerita tentang kedua orangtuanya Elena merasa santai. Mungkin karena ia tak menyukai Adam dan hanya berhubungan karena saling menguntungkan sehingga Elena tak selalu antusias bercerita tentang pria itu.
Elena segera tidur karena sangat lelah hari ini. Bahkan beberapa pesan dari Hana tak sempat dibalasnya. Ia tahu Hana pasti ingin tahu cerita tentang malam ini. Tapi rasa lelah membuat Elena tertidur dalam sekejap.
* * *
"So, kamu ke sini cuma mau ngabarin hal ini?" tanya Mili sambil duduk di ruang keluarga bersama Adam.
"Aku hanya mau jujur apa yang terjadi," jawab Adam.
"Keluarga kamu tega banget!" Mili memeluk lengan Adam manja. Rupanya setelah mengantar Elena, Adam meluncur ke rumah Emili. Ia ingin tahu kabar wanita itu. Biar bagaimanapun wanita itu sedang hamil. Meski ia belum yakin janin itu adalah anaknya tapi ia harus bertanggung jawab atas kelahiran bayi itu. Ia tahu, pacar Emili yang sering mengajaknya kencan tak mau bertanggung jawab. Dan sekarang malah kabur setelah pemberitaan heboh tentang hubungan mereka.
"Tapi seharusnya kita yang menikah!" Emili kembali merengek.
"Kamu cemburu? Asal kamu tahu, kami hanyalah teman biasa. Dan kebetulan bertemu beberapa kali," Emili menjelaskan sambil tersenyum ke arah Adam.
"Apapun itu, efeknya buruk kan?" kata Adam sambil mengganti-ganti siaran televisi.
"Iya, maafkan aku. Seharusnya aku tidak jalan dengannya. Tapi yang penting, kamu mau bertanggung jawab dan menjadi ayah dari bayi ini. Aku tak masalah kamu bakal nikah dengan siapapun tapi ikatan ayah dan anak ini tak akan terputus, terimakasih sayang," kata Emili sambil mencium pipi Adam. Membuat pria itu sedikit risih.
"Iya, aku akan bertanggung jawab jadi tetaplah jaga kesehatanmu,"
"Iya, aku akan jaga semuanya. Tapi meski nanti kamu menikah tetaplah datang ke sini," pinta Emili.
"Iya, sesekali aku akan datang. Kamu tahu sendiri mamaku, tapi selagi aku bisa, aku akan datang,"
"Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik," Emili mulai mengecup bibir Adam sekilas tapi Adam segera menghindar.
"Kamu sebaiknya istirahat, ini sudah larut," kata Adam.
"Tapi kan, kamu jarang kesini. Ayolah, temani aku malam ini," pinta Emili yang memeluk pinggang Adam.
"Mili, kamu harus istirahat. Jaga bayi itu. Tidurlah," Adam menarik tangan Emili menuju kamarnya dan memaksa Emili untuk tidur. Adam juga membuatkan segelas susu untuk ibu hamil. Ia membawa susu itu ke kamar Emili dan menyuruh gadis itu meminumnya.
__ADS_1
Emili segera meminum susunya dan segera berbaring.
"Tidurlah!" kata Adam.
"Berbaringlah di sini!" pinta Emili.
"Aku masih ada pekerjaan, kalau butuh apa-apa aku di ruang depan," kata Adam. Lalu ia berjalan dan mematikan lampu meninggalkan Emili.
Bukannya ia tak ingin tapi bila mengingat semua yang terjadi, kebohongan dan pengkhianatan yang dilakukan Emili rasanya membuat Adam menjadi emosi. Bahkan bila mengingat janin yang ada di rahim Emili, membuat Adam ingin menghabisi Emili dan mantan pacarnya.
Tapi ia ingat pesan Lee setelah membaritahukan soal kehamilan Emili dan pernikahannya dengan Elena.
"Sabar aja, semua akan ada waktunya," ucap Lee sambil mengetik sesuatu di komputernya saat Adam datang pagi itu.
"Tapi Emili udah bohongin aku,"
"Terus? Ada bukti?" tanya Lee.
"Video itu?" tanya Adam.
"Itu hanya video, bersabarlah sampai bayi itu lahir. Nanti kita akan tahu siapa ayahnya,"
"Tapi aku... "
"Iya bakal nikah kan? Itu terserah aja, mau jelasin ke Elena atau nggak,"
"Hmmh..."
"Gini aja, kalo kamu cinta Elena jelaskan semua ke dia. Tapi lebih bagus sih jujur ajalah,"
"Aku nggak cinta dia,"
"Ya udah, ngapain repot-repot jelasin ke dia," ucap Lee.
"Bener juga,"
"Ribet sendiri!" sindir Lee.
"Jujur aja ini emang ribet. Andai aja papa mau ngasih perusahaan itu tanpa embel-embel dinikahi,"
"Kebanyakan main sih,"
"Yah wajar kan, namanya juga masih muda,"
"Ya wajar, yang nggak wajar itu udah berbuat abis tu bingung sendiri dengan masalah yang dibuat, aku juga kudu nambah pikiran gara-gara itu,"
"Jadi keberatan nih?" tanya Adam.
__ADS_1
"Pikir aja sendiri! Tapi terserah aja, mau ikut saran aku atau nggak. Udah ah, pulang sana! Kalo ada masalah aja ke sini, pusing aku. Lagi berat ni pikiran. Jangan ditambahin lagi, kalo mau ke Vergie aja, dia lagi happy. Kasih aja masalah, biar dia berpikir. Lama-lama aku liat dia udah kayak orang linglung, bucin abis," ucap Lee.
Akhirnya Adam keluar setelah Lee mengoceh panjang lebar. Membuat telinganya panas.