
Vico mengantar Nadine pulang. Nadine masih sedikit pusing, lalu Vico berinisiatif membelikannya beberapa cemilan dan juga menu lengkap untuk makan malam.
"Aku gakpapa kok, kenapa harus beli sebanyak itu?" Tanya Nadine saat Vico kembali dari minimarket sambil membawa sekantong belanjaan
"Gak apa, sekalian stok untuk besok-besok. Mulai besok aku agak sibuk. Banyak tamu turis di sana yang akan menyewa perlengkapan. Aku ada job mengantar beberapa orang ke pulau dan snorkling disana. Gak apa kan aku tinggal?" Tanyanya.
"Gak apa, tapi inget jangan centil-centil sama tamu" Kata Nadine.
"Yang ada tamu yang centil ke aku, curi-curi pandang. Terus akhirnya hatinya bisa kucuri"
"Apa? Jadi ada tamu yang begitu?" Tanya Nadine sambil membulatkan matanya. Vico gemas sekali.
"Tentu ada" Jawabnya sambil tersenyum.
"Huh!" Nadine membuang napas keras-keras dan mendekap kedua tangannya.
"Loh? Kenapa? Kan memang ada yang begitu"
"Siapa? Kamu nyuri hati siapa? Kalau memang ada yang lebih baik, ya sudah tinggalkan aku!" Nadine cemberut. Vico menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya ada yang tak memahami pembicaraannya.
"Ada seseorang dan aku nggak bisa ninggalin dia" Kata Vico.
"Siapa? Jujur aja Co!" Kata Nadine.
"Astagaaaa... kamu nggak tahu?" Vico putus asa. Nadine menggeleng. Vico menggeleng lalu menepikan mobilnya.
"Aku mencuri hati seorang tamu, dan tamu itu sangat cantik. Siapa yang tak kagum dengan pesonanya" Kata Vico sambil mendekatkan diri ke Nadine. Nadine kesal dan menjauhi Vico, risih.
"Oh ya? Siapa tamu itu? Tinggalkan aku dan bahagialah dengan dia" Kata Nadine.
"Tamu itu yang beberapa tahun lalu datang ke penginapan dan belajar renang denganku. Ia mencuri hatiku dan kini hatiku di genggamannya. Benarkan Nadine? Si pencuri hati yang ku maksud?" Kata Vico berbisik di telinga Nadine. Wajah Nadine memerah karena malu. Ternyata maksud perkataan Vico adalah dirinya.
"Kamuuuu..." Kata Nadine, tapi tak berani mengangkat wajahnya. Vico meraih dagu Nadine dan mengecup sekilas, lalu melanjutkan perjalanan sambil tersenyum. Hanya Nadine yang hati dan tingkahnya nggak karuan. Ia merutuk dirinya sendiri yang sudah jatuh cinta seperti ABG. 'Mrmalukan' Pikirnya. Tapi tak dapat disembunyikan senyumannya.
"Kita sampai" Kata Vico. Tapi Nadine malah melamun dan tak merespon. Lagi-lagi Vico mencium pipinya hingga Nadine tersadar dan menunduk malu. Betapa tingkahnya seperti anak puber yang baru mengenal cinta.
"Ayo turun, atau kugendong sampai ke rumah!" Ancam Vico. Nadine gelagapan dan bergegas keluar mobil lalu membuka pintu rumah. Vico menyusul di belakangnya membawa bungkusan makanan.
"Mau minum apa?" Tanya Nadine.
__ADS_1
"Tak perlu repot, tunjukkan saja dimana tempatnya. Aku akan membuatnya sendiri" Kata Vico. Nadine menunjukkan kulkas dan dapurnya. Lalu pamit mandi. Vico mengangguk dan mulai membuat kopi untuknya sendiri.
***
Selesai mandi, Nadine menemui Vico yang bersantai menghirup kopi dan memakan beberapa cemilan. Nadine duduk disampingnya. Aroma sabun dan sampo memenuhi indera penciumannya.
"Masih pusing?" Tanya Vico.
"Nggak lagi" Kata Nadine. Lalu suasana hening merajai hari saat itu. Nadine dan Vico sama-sama mencoba menikmati siaran televisi. Tapi sayangnya, tak ada yang fokus dan benar-benar mendengarkan. Karena asyik dengan pikiran masing-masing.
"Nad, besok kamu berangkat kerja dengan siapa?" Tanya Vico mencoba mencairkan suasana.
"Belum tahu, biasa aku naik taksi online atau ikut Sharen" Kata Nadine.
"Maaf ya, aku nggak bisa antar jemput kamu besok"
"Nggak apa-apa. Santai aja. Kerja lebih penting, kasihan tamunya" Kata Nadine sambil tersenyum.
"Makasih ya, oh ya kamu makan ya... Tadi aku sudah belikan untuk makan malam" Kata Vico.
"Ini porsinya banyak banget!" Protes Nadine.
"Nggak habis nih, kita makan bareng yah. Kan kamu juga belum makan" Kata Nadine membujuknya. Mau nggak mau, Vico mengiyakan. Mungkin hal ini yang akan dirindukannya esok.
Nadine dan Vico makan bersama. Mereka asyik mengobrol bercerita panjang tentang keluarga dan pekerjaan. Saling mengenal diantara mereka. Lalu tepat pukul 09.00 Vico pamit pulang.
"Aku pulang dulu ya" Kata Vico. Nadine mengangguk.
"Hati-hati" Kata Nadine.
"Pasti, aku akan telpon kamu begitu sempat dan ada sinyal. Ok?" Janji Vico.
"Oke, pastikan hati kamu tidak tercuri oleh tamu lain" Goda Nadine.
"Gimana mau dicuri, semua sudah tertahan di kamu" Kata Vico sambil terkekeh. Nadine tersenyum. Lalu mencium pipi Vico. Membuat Vico terpana.
"Kok cuma pipi?" Protes Vico. Nadine tertawa lalu berlari masuk rumah dan menutup pintu.
"Awas kamu ya... Ingat, weekend ini kita jalan-jalan. Ingat hukuman mu kemarin!" Teriak Vico.
__ADS_1
"Iya, aku tauuu... Udah sana, hati-hati yah!" Kata Nadine sambil membuka pintu kembali. Vico melambai lalu masuk ke mobil dan berlalu.
Nadine tersenyum dan menutup pintu kembali. Ia segera ke kamar dan membaringkan badannya yang lelah seharian bekerja. Tapi ia tak dapat memejamkan matanya.
Tak lama terdengar suara mobil di halaman rumahnya. Nadine mengintip. Ternyata itu mobil Rehan. Ia beranjak keluar dan menemui Rehan.
"Ada apa?" Tanya Nadine
"Hanya mampir, aku tadi beli martabak enak. Lalu ingat badan kurusmu, jadi aku membelikanmu. Nih" Ia memyodorkan kresek di tangannya.
"Memangnya aku kurus banget?" Kata Nadine.
"Banget, kayak nggak makan setahun. Dah ah, aku pamit. Di makan. Pasti kamu suka. Daaah" Rehan berlari dan masuk ke mobil.
"Dasar, memangnya aku sekurus itu" Kata Nadine sambil menutup pintu kembali. Ia memakan dua potong sambil menonton televisi.Tak ada lagi kantuk, spertinya ia pulas sekali tidur di kantor. Memalukan bila mengingat kejadian itu. Bisa-bisanya dia tertidur di ruangan bos. Jangan-jangan ia mendengkur! Memalukaaaan. Nadine berguman sendiri, mengingat kejadian tadi.
Ia beranjak ke kamar dan mencoba untuk tidur. Tapi matanya tak bisa terpejam. Terbayang wajah Vico. Membuatnya selalu tersenyum.
Kau membayangkanku
Sebuah pesan masuk di gawainya. Nadine tersenyum
Jangan ge-er. Aku sedang tidur. Kau mengganggu tidurku
Nadine membalas pesan dari Vico.
Aku menganggu? Ya sudah, aku segera tidur!
Sepertinya Vico pura-pura merajuk. Nadine tersenyum sendiri.
Marah? Kalau marah, weekend ini kamu kerja aja. Anggap lembur
Nadine membalas, sambil pura-pura marah.
Hehehe tak akan. Aku akan merindukanmu. Sampai ketemu weekend ini. Love you
Nadine berbunga-bunga hatinya. Lalu membalas.
Love you too sayang, aku tidur dulu. Terimakasih sudah menemaniku.
__ADS_1
Tak ada balasan dari Vico sampai keesokan paginya. Mungkin Vico mulai sibuk mempersiapkan peralatan bekerjanya untuk besok. Nadine masih berkirim pesan dengan Sharen. Ia memastikan Sharen baik-baik saja. Hingga akhirnya ia mengantuk dan terlelap.