
Emili sedang berada di apartemen Adam, saat ini ia sedang bersembunyi. Ia tau kode untuk masuk ke apartemen Adam. Adam masih di tempat kerja dan belum pulang, ia berniat menjelaskan sesuatu pada Adam. Entah siapa yang menyebarkan video dan fotonya ke pihak pers sehingga beritanya menjadi trending saat ini.
Ia mencoba menelpon Adam tapi tidak diangkat, ini sudah ke sekian kalinya. Emili berjalan hilir mudik memikirkan bagaimana caranya meredam berita yang terlanjur heboh. Apa Adam sudah melihat berita? Ia harus menyiapkan berbagai alasan agar Adam mau menerimanya. Bagaimanapun ia ingin anak yang dikandungnya memiliki ayah yang memiliki harta melimpah agar hidup anaknya menjadi terjamin.
Pukul 23.07 barulah Adam sampai ke apartemennya dan kaget melihat Mili di sana. Gadis itu berbaring di sofa, menonton televisi dan meminum beberapa cola.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya Adam.
"Kamu sudah pulang? Maaf aku ingin menginap di sini, malam ini. Bolehkan?" pintanya sambil bergelayut manja pada lengan Adam.
"Kenapa kamu tidak pulang? Aku nggak mau nambah masalah lagi," kata Adam menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Ma... Masalah?"
"Iya, nanti mamaku... "
"Ooh itu, tenang saja. Subuh aku akan pulang. Rasanya lelah sekali," kata Mili sambil bernapas lega.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Adam.
"Tidak, cuma tadinya aku mau ngasih kejutan ke kamu,"
"Oh ya? Apa itu?"
"Aku mau bilang kalo aku lagi hamil, kamu bakal jadi seorang ayah,"
"Apa?" tanya Adam tak percaya. Kaget luar biasa.
"Aku hamil! Apa kamu tidak senang?" tanya Mili sambil duduk di samping Adam yang meremas kepalanya.
"Bukan gitu, siapa ayahnya?" tanya Adam memegang kedua bahu Mili dengan kuat.
"Apa maksudmu siapa ayahnya?" tanya Mili.
__ADS_1
"Brengsek kamu! kamu mau bilang bahwa anak ini belum tentu anak kamu?" tanya Mili mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Bisa saja kan?" ujar Adam dengan santai.
"Baik kalau kamu ragu! Kalau ternyata ini benar anak kamu, jangan menyesal nantinya!" ucap Mili. Ia ke kamar, mengganti pakaiannya dan segera keluar apartemen. Ia tak menyangka respon Adam diluar perkiraannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Adam.
"Apa pedulimu?" tanya Mili kembali lalu ia membuka pintu dan keluar. Adam cuek dan membaringkan tubuhnya di sofa. Entah kenapa ia meragukan anak yang dikandung Mili karena beberapa bukti yang ditemukan oleh anak buah Lee. Tapi bagaimana jika itu anaknya?
Adam bangkit dan menelpon beberapa orang suruhannya untuk memata-matai Mili. Lewat tengah malam mereka melaporkan bahwa Mili tidak sadar karena pengaruh minuman. Adam marah sekali. Bagaimana mungkin dengan kondisi hamil Mili masih minum? Kasihan janinnya, meski ia belum tahu janin siapa yang ada di rahim Mili tapi calon bayi itu tidak bersalah dan tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
Adam menemui Mili yang berbaring di meja dengan banyak botol minuman kosong di sekitarnya. Membuat Adam geram dan meminta anak buahnya membawa gadis itu ke rumahnya. Adam mengganti pakaian Mili dan membaringkannya dengan nyaman di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Adam benar-benar lelah dan mengantuk. Ia lalu tidur di sofa ruang tamu Mili.
Paginya alarm ponsel Adam membangunkannya. Matanya terasa berat tapi ia harus bangun dan melihat kondisi Mili. Adam bangkit dan melihat ke kamar Mili. Gadis itu masih tertidur pulas. Adam mencuci mukanya dan menyeduh kopi lalu membuka siaran televisi. Ia mengganti dari saluran satu ke saluran lainnya dan mendapati berita gosip yang sama. Semua tentang gadis di kamar itu.
Adam menyugar rambutnya frustasi. Semua televisi memberitakan tentang Mili yang ketahuan berjalan bergandengan tangan dengan seseorang yang tak lain adalah mantannya. Orang yang sama di video dan foto-foto yang dikirimkan oleh anak buah Lee kepadanya.
Ia akan membatalkan pernikahannya kalau memang begini. Ia meragukan calon bayi itu adalah anaknya. Kasihan mama dan papanya yang sudah menyiapkan pesta pernikahan tapi mereka malah mendapati berita seperti ini. Untunglah hubungannya dengan Emili belum terendus oleh pihak media. Jika tidak, tentu ia akan semakin repot. Juga orangtuanya.
Adam sampai di rumah orangtuanya dengan keadaan kurang tidur dan berantakan. Kedua orangtuanya baru selesai sarapan.
"Sarapan dulu, sesudah itu kamu bersihkan diri dan temui kami di depan," perintah Renata. Adam mengangguk saat kedua orangtuanya beranjak dari kursi makan. Adam duduk, meminum kopinya dan memakan setangkup roti. Lalu bergegas mandi dan turun menemui orangtuanya.
"Bagaimana kabar Emili?" tanya Renata saat Adam duduk di hadapannya.
"Baik, tapi... "
"Dia selingkuh? Hmmmh... Dari awal mama sudah nggak setuju kalian menikah, lihat sekarang?" Renata memotong pembicaraan Adam
"Lalu apa rencanamu?" tanya Kim.
"Belum tau pa,"
__ADS_1
"Kamu sebagai laki-laki harus bisa memutuskan, ayo apa rencana terbaik di otakmu saat ini? Papa dengarkan," ujar Kim sambil bersandar santai di sofa.
"Aku tidak mau menikah..." jawab Adam
"Bagus!" Kim memotong pembicaraan Adam yang belum selesai.
"Mama juga setuju kalau kamu tidak menikah dengan Emili, batalkan saja. Tak masalah sebelum terlanjur menyebar undangan," kata Renata senang.
"Tapi masalahnya tidak segampang itu," Adam berucap frustasi.
"Apa ada masalah lain?" tanya Kim.
"Uhm... Itu..."
"Katakan semua Adam! Mama sudah memaklumi yang kemarin-kemarin,"
"Emili... Dia... "
"Permisi tuan, nyonya, aden... Ada mbak Emili di depan," kata salah satu pengurus rumah.
"Suruh kemari saja!" perintah Kim. Adam seketika lemas, khawatir dan takut. Semua bercampur jadi satu. Emili masuk sambil melambai dan tersenyum pada keluarga Kim.
"Emili? Ada apa?" tanya Adam.
"Aku hanya ingin bertemu, salahkah?" tanya Emili. Adam meminta ijin pada orangtuanya untuk berbicara berdua dengan Mili.
"Kamu ngapain ke sini? Aku sudah tahu semua yang diberitakan di media. Kamu pikir orangtuaku tidak melihat itu semua?" bisik Adam.
"Lalu bagaimana dengan bayi ini? Dia butuh seorang ayah," Emili terdengar putus asa.
"Simpan dulu berita kehamilanmu, jangan bicara apapun tentang itu sebelum orangtuaku bicara denganmu!"
"Kenapa harus orangtuamu yang memutuskan? Ini hidup kita!"
__ADS_1
"Diam dan ikuti saja! Jika tidak, aku tidak akan bertanggung jawab sedikitpun!" ancam Adam. Emili terdiam menatap Adam. Ini seperti bukan Adam. Ancamannya membuat Emili takut dan akhirnya mengangguk setuju. Yang penting baginya Adam akan terus berada di sampingnya sebagai orang yang bertanggung jawab atas janin itu. Dan dia bisa menikmati kekayaan Adam sesukanya. Bibirnya tersenyum tipis.