Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 29


__ADS_3

"Aku tidak setuju," ungkap Adam menatap Elena serius.


"Uhm... Ya tidak apa-apa. Aku akan berusaha belajar sendiri dan..."


"Tidak! Bukan itu maksudku,"


"Lalu?" tanya Elena penasaran. Gadis itu membelalakkan matanya yang tidak terlalu besar dan poni yang jatuh di dahinya juga rambut yang sedikit acak-acakan membuatnya terlihat imut.


'Astagaaaa.... Apa yang kupikirkan?' batin Adam.


"Begini," Adam berdehem dan memperbaiki posisi duduknya yang sangat tidak nyaman saat ini. Di tengah malam, dengan wanita yang terlihat imut. Juga pakaiannya yang memakai piyama lucu bergambar bintang dan bulan tapi belahannya jauh turun kebawah nyaris menyentuh dadanya dan...


"Dam?" tanyanya tak sabar dan membuat Adam menarik paksa fantasinya ke dunia nyata.


"Begini, kampus pilihanmu tapi tempat kursus sudah kutentukan. Tidak begitu jauh dari sini jadi kamu tidak terlalu kesulitan," kata Adam. Elena bernapas lega, ia bersyukur Adam menyetujui untuk membiayai kursusnya yang sebenarnya diluar perjanjian yang mereka buat.


"Oooh begitu, tak masalah," kata Elena tersenyum senang.


"Bereskan ini! Aku mengantuk," kata Adam. Elena mengangguk dan cepat-cepat membereskan sisa makanan Adam. Ia memutuskan untuk mencuci semuanya agar besok tidak terlalu banyak tumpukan piring kotor.


Setelah mencuci piring Elena mencari obat salep yang biasanya tersimpan di tasnya. Tapi ia tak menemukannya. Siang tadi ia memasak dan membuat cemilan membuatnya berkali-kali meyentuh sabun pencuci. Dan malam ini tangannya semakin perih dan memerah parah. Alerginya kembali lagi.


Karena tak menemukan salepnya, Elena menuang sedikit air hangat dan merendam sedikit-sedikit jari dan telapak tangannya. Cukup perih tapi lama-lama agak nyaman. Elena mencari handuk kecil yang diletakkannya di atas meja tapi handuk itu tak dilihatnya. Saat Elena berbalik, ada Adam yang berdiri di belakangnya membuatnya kaget.


"Mencari ini? Tadi jatuh," Adam meyerahkan handuk kecil putih ke telapak tangan Elena.


"Astaga... Ini kenapa?" tanya Adam yang membantu mengeringkan telapak tangan Elena.

__ADS_1


"Tidak apa, ini akan sembuh," kata Elena yang meringis saat permukaan sapu tangan itu mengenai bagian yang luka. Desisan Elena membuat otak Adam kembali melayang. Adam menekan telapak tangan Elena membuat gadis itu sedikit terpekik. Adam melepaskan tangannya dan berbalik tidur. Elena bingung dengan sikap Adam kembali ke kamarnya sambil meniup jarinya yang kini terlihat berlubang kecil-kecil.


Elena kesal melupakan sarung tangannya saat mencuci piring. Kini ia harus tidur dengan tangan yang terasa terbakar, perih dan kemerahan. Disaat seperti ini dia teringat Hans. Pria itu yang membelikannya salep dan juga mengingatkannya untuk memakai sarung tangan. Elena menangis merindukan Hans.


* * *


"Apa kamu menangis semalaman?" tanya Adam saat Elena masuk ke dapur untuk membuat sarapan.


"Tidak!" jawab Elena.


"Matamu...."


"Oooh... Hanya karena bangun tidur..."


"Tidak! Maksudku matamu terlalu banyak kotorannya," Adam tertawa puas mengerjai Elena. Gadis itu mendengus kesal dan segera masuk ke kamar mandi. Menutupi rasa malunya.


Elena berbalik dan meraih botol kecap. Ia meraih kuali dan meletakkannya di atas kompor, menyalakannya, menuangkan sedikit minyak. Lalu ia menumis bumbu halus, memasukkan bahan masakan satu per satu hingga menciptakan satu aroma yang membuat perut Adam meronta.


"Wangi sekali," kata Adam mendekat. Ia melirik tak sabar pada kuali yang sedang menguarkan aroma lezat. Ia berdiri di belakang Elena lalu membantu mengambilkan dua piring dan meletakkannya disamping Elena. Lalu Elena menuangkan nasi sama banyak di kedua piring tersebut. Adam membawa kedua piring tersebut ke meja makan. Lalu mereka duduk menyantap hidangan sederhana tapi terasa sangat enak. Bahkan Adam terang-terangan memuji masakan Elena.


Sesaat Elena merasa rumah tangga mereka terlihat normal. Ia selalu memimpikan sarapan berdua, menikmati hidangan yang dibuatnya dengan sepenuh hati. Mereka akan sarapan dengan bersenda gurau. Tapi hanya sebatas itu. Lagi-lagi hataman kenyataan selalu hadir mengingatkannya bahwa mereka tidak saling mencintai dan hanya menjalankan rutinitas seperti biasa. Hanya yang membedakannya adalah status.


Elena menyudahi makannya dan meletakkan piringnya, lalu mencari sarung tangan plastik untuk mencuci piring. Tangannya sudah agak membaik meski masih terlihat kemerahan.


"Biarkan saja, nanti aku yang mencuci. Kamu bisa melakukan hal lainnya," kata Adam yang meraih sabun pencuci piring dan mencuci semua peralatan dapur yang kotor. Sementara itu, Elena sangat berterimakasih dan ia masuk ke kamar mandi.


* * *

__ADS_1


"Ini kah tempatnya?" tanya Elena pada Adam. Mereka berhenti di sebuah tempat kursus yang dikatakan oleh Adam.


"Yuk!" ajaknya. Mereka turun dan memasuki gedung tersebut. Ternyata mereka sudah ditunggu dan Adam sudah mendaftarkan Elena sejak kemarin. Ia sungguh bertermakasih akan hal itu.


Setelah mendaftar dan akan megikuti kelas mulai minggu depan, Elena dan Adam segera pulang. Kebetulan Adam memang pulang lebih cepat untuk mengantar Elena.


"Malam ini kita makan apa?" tanya Adam.


"Mau dibuatin apa?"


"Apa aja, menu sederhana dan enak seperti biasa. Sepertinya aku jatuh cinta dengan masakanmu," Adam tersenyum menatap Elena. Elena hanya mengangguk salah tingkah. Perasaannya menghangat meski Adam hanya memuji masakannya. Memangnya dia berharap apa? Adam memiliki semua yang ia inginkan, semua sesuai dengan keinginan dan standarnya. Dirinya mungkin hanya secuil dari sekian banyak keindahan dan kecantikan yang mengelilingi Adam.


Elena sedang memikirkan menu untuk mereka saat ponsel Adam berdering. Wajah Adam terlihat cemas dan ia mengangkat ponselnya dan mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Lalu ia mematikan ponselnya dan menatap Elena.


"Kamu aku antar pulang. Aku ada urusan. Masak saja untukmu kalau malas pesan saja. Aku tidak pulang malam ini," kata Adam.


"Oke, apa di kantor sedang banyak masalah?" tanya Elena.


"Uhm... y... ya," jawab Adam.


"Santai saja, semua akan bisa selesai bila dikerjakan dengan kepala dingin," kata Elena saat mereka sampai di basemen apartemen mereka. Adam mengangguk dan langsung pergi setelah Elena turun. Ia sangat terburu-buru.


Elena melenggang senang menaiki lift menuju unitnya. Ia akan merayakan malam ini dengan membuat ayam geprek pedas. Elena bersenandung membuka unitnya dan memasuki unitnya sambil tersenyum.


Seketika senyumnya menghilang saat melihat seorang pria duduk di sofa ruang tamunya dengan santai. Pria itu menatapnya sinis. Elena merasa ketakutan dengan pria itu, bagaimana ia bisa masuk? Padahal keamanan sangat ketat dan bagaimana pria itu bisa tahu kode untuk memasuki unitnya.


Pria itu mendekati Elena sambil tersenyum. Elena berjalan mundur dan menabrak pintu. Ia ingin teriak tapi tak akan ada yang mendengar, ia akan berlari keluar dan mencari bantuan. Tapi pria itu menahan pintunya dan mencengkeram tangannya. Tawa sinis terlihat jelas di depannya. Elena menahan napasnya. Lalu....

__ADS_1


__ADS_2