Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 30


__ADS_3

"Aku ingin bicara!" pria itu menarik tangan Elena dan mendorong gadis itu ke sofa. Elena membenarkan letak duduknya dan menatap pria tak dikenal dihadapannya.


"Siapa kamu?" tanya Elena.


"Tak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin melihat lebih dekat istri seorang Adam," ia terkekeh sendiri. Elena berpikir bahwa pria ini pasti saingan Adam.


"Kalau kamu menggunakan aku sebagai korban karena Adam atau perusahaannya, kamu pengecut!" kata Elena. Pria itu menatapnya dan mencekik leher Elena. Elena mengerang karena sulit bernapas.


"Aku tidak peduli!" ia menyeringai puas. Ponselnya berbunyi, ia melepaskan tangan yang mencekik leher Elena lalu berjalan sedikit menjauh. Elena segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan sambil terbatuk-batuk Elena bangkit, ia berlari ke pemuda itu dan mendorong pria itu. Pria itu terjatuh setelah menabrak meja. Ia mengaduh kesakitan karena mengenai sudut meja. Ponselnya terjatuh dan telepon masih terhubung. Elena bergerak ke arah ponsel dan akan meraihnya tapi jari tangannya diinjak oleh pria itu. Elena berteriak kesakitan.


Setelah mendapatkan ponselnya pria itu bergegas keluar. Elena mengejarnya tapi pria itu terlalu cepat, maka ia kembali ke unitnya. Segera ia melaporkan kejadian tersebut ke pihak keamanan apartemen. Lalu ia mencoba menelpon Adam. Berkali-kali ia menelpon tak ada jawaban.


Tak lama pihak keamanan datang, ia mengganti password untuk masuk dan meminta dibuatkan gerendel dari dalam. Ia tak mau kecolongan lagi saat seseorang masuk. Itu menakutkan.


Setelah pihak keamanan pergi, ia segera mengunci pintu. Kejadian tadi membuatnya sangat ketakutan, siapa sebenarnya pria tadi? Seperti tidak asing dengan suaranya. Tapi sedikitpun Elena tak bisa mengingatnya.


Elena beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah mandi, ia melihat ponselnya hidup. Ada pesan masuk dari kekasih Adam.


Adam tidur denganku


Elena hanya mengirimkan emoticon jempol untuk gadis itu. Jujur saja tenaganya terkuras dan ia sangat tidak ingin emosi mengganggunya kembali. Jika memang Adam tidur di sana, ya sudah. Dia bisa apa? Pantas saja Adam tidak bisa ditelpon, rupanya sedang sibuk di sana.


Elena membanting tubuhnya ke kasur. Sejujurnya ia merasa marah, bukan karena cemburu tapi karena ia merasa terancam dan Adam tidak bisa dihubungi. Ia marah karena ada seseorang yang bisa masuk. Ia marah dengan sistem kamanan. Semua terasa serba salah. Dan air mata mengalir dipipinya. Sungguh ia merasa ketakutan sendirian tapi dirinya tidak ada hak penuh pada Adam. Kau akan tahu rasanya ketika kamu memiliki seseorang tapi kamu juga memiliki batasan yang jelas. Rasanya sungguh menyesakkan dada.


Elena menangis sepanjang malam. Dan paginya moodnya tidak lebih baik karena mama Renata dan papa Kim sedang berjalan menuju rumahnya. Sampai saat ini Adam tidak ada membalas pesan atau menelponnya. Elena bergegas mandi dan memakai pakaiannya lalu membuat sarapannya.


Tak lama kemudian, mama Renata membunyikan bel. Elena segera membukakan pintu dan mengajak mama Renata masuk.


"Mama sendiri? Bukannya sama papa Kim?" tanya Elena melongokkan kepala ke belakang punggung Renata.


"Kantor sedang sibuk, jadi papamu buru-buru. Mana Adam? Apa dia masih tidur?" tanya Renata. Elena merasa sedikit gugup.


"Uhm... Itu, Adam sedang ada tugas ma, ayo sarapan dulu," ajak Elena yang mengalihkan perhatian Renata akan anaknya. Mereka menyantap sarapan pagi sambil bercerita banyak.


"Kapan kalian menginap? Mama suka dengan masakanmu. Kamu jago masak rupanya,"

__ADS_1


"Nanti Elena bicarakan dengan Adam, syukurlah kalau mama suka," kata Elena.


Ponsel Elena berbunyi saat Renata sedang makan. Elena menjauh dan mengangkat telepon dari Adam.


"Ada apa?" tanya Elena sedikit ketus.


"Justru aku yang nanya kenapa?"


"Kenapa sih? Kalau kamu sibuk ya sudah, aku matikan telepon,"


"Kamu yang marah, terserah kamu!" kata Adam.


"Ya, dan ngomong-ngomong mamamu si sini!"


"What?"


"Kamu nggak budek kan?"


"****! Ya sudah aku pulang!"


Dengan segala bujuk rayu Renata akhirnya Elena diajak ke rumah mertuanya dan menginap di sana sebelum Adam sampai ke apartemennya. Sengaja Elena tidak memberitahu Adam, sama seperti apa yang dilakukan pria itu terhadapnya. Saat diperjalanan, ponselnya bergetar. Sengaja Elena tak menerima karena ia tahu itu pasti Adam. Untunglah ia sempat mematikan nada dering, jika tidak tentu mama Renata akan curiga.


Sesampainya di rumah mama Renata, ia segera masuk ke kamar yang disediakan untuknya. Barulah ia mengangkat ponselnya dan mendengar segala rentetan kemarahan Adam.


"Dimana kamu?" akhirnya ia bertanya setelah marah-marah pada Elena.


"Di rumah mama," jawab Elena malas.


"****! Tunggu aku di sana!" bentaknya lalu seenaknya mematikan ponsel.


Tak lama Adam datang dengan wajah merah padam. Untunglah mama Renata sedang tidak ada di ruang depan. Adam langsung menuju ke kamar Elena.


Ia masuk dengan napas memburu menahan amarah. Ia melihat Elena sedang merapikan pakaian di lemari dan menoleh saat Adam datang. Ia berdiri dan mendekati Adam, dengan cepat Adam menyambar lengan Elena dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Sakit! Apa-apaan sih kamu?" Elena berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


"Kamu? Aku nggak nyangka kamu sejahat itu!"


"Apa maksudmu?" tanya Elena yang meringis karena cengkeraman tangan Adam semakin membuatnya sakit.


"Aku tahu semua, jangan mentang-mentang aku menikahimu lalu kamu seenaknya meneror wanitaku," kata Adam.


Wanitaku.


Elena semakin tak mengerti. Bukankah selama ini wanita itu yang menerornya?


"Kamu terlalu bodoh melihat situasi," kata Elena berusaha santai meski kini lengannya terasa perih.


"Jangan membuatku marah Elena, aku benci pengecut sepertimu!"


"Oh ya? Siapa yang sebenarnya pengecut? Mengatasnamakan pernikahan?"


"Pernikahan palsu! Jadi jangan berharap lebih Elena!"


"Memangnya aku mengharapkan apa? Siapa di sini yang berharap banyak?" Elena tertawa sinis.


"Heh! Kamu! Jangan coba-coba melawanku atau..."


"Atau apa? Kamu pikir aku takut?" tantang Elena.


"Ck! Kamu!" Adam dengan cepat menarik tangannya hendak menampar Elena. Elena yang tahu akan ditampar secepatnya memalingkan wajahnya sambil terpejam karena takut.


Tok... Tok... Tok


Ketukan di pintu kamar menyelamatkan Elena. Tangn Adam masih diatas hendak dilayangkan ke wajah Elena. Elena menatap Adam tanpa ekspresi. Membuat Adam semakin emosi, matanya menyipit dan giginya bergemeletuk. Dan tangan kanannya kini mengepal kuat


"Elena? Mama masuk ya," Renata masuk ke kamar yang tidak terkunci. Karena ia tidak tahu kalau Adam sudah datang dan masuk lebih dahulu. Hendle pintu bergerak turun. Elena menatap Adam, sementara pria itu masih dengan posisi amarahnya. Ditambah wajah yang semakin memerah


Hendle pintu bergerak dan pintu terbuka lalu suara Renata terdengar sebelum ia memasuki kamar.


"Elena?" panggil Renata. Elena menahan napas melihat Adam bertahan dengan posisinya. Elena takut Renata akan mengira mereka sedang tidak baik-baik saja meski kenyataannya begitu.

__ADS_1


__ADS_2