Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 35


__ADS_3

Elena hanya menarik napas sesaat lalu melanjutkan tidur. Ia lelah dengan sesuatu yang tak dipahaminya. Elena hanya ingin tidur dan beristirahat. Besok akan banyak kegiatan menantinya.


Pagi hari, Elena sudah bangun dan mendapati Adam sudah bersiap akan bekerja. Sejenak Elena ingat mau menyiapkan segala keperluan Adam tapi segera ingat bahwa itu bukan tugasnya.


"Aku pergi!" pamitnya pada Elena yang sedang duduk dengan selimut yang turun dari bahunya. Sejenak Adam terdiam lalu segera berpaling dan


keluar kamar.


"Aneh!" bisik Elena. Lalu ia segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Hari ini jadwalnya untuk mengambil kursus.


Setelah selasai sarapan, Elena bergegas pergi ke tempat kursus dan membayar uang pendaftaran. Tidak lama kemudian Elena selesai mngurus administrasi. Ia bingung harus kemana, sementara itu waktu masih menjelang siang. Elena memutuskan untuk pergi ke cafe tempat dia bekerja dulu.


Hana menyambutnya dengan pelukan. Teman yang lain pun datang menghampiri. Elena seperti menemukan dunianya.


"Apa kabar pengantin baru? Auranya emang beda ya,"


"Gimana malam pertamanya?"


"Wuah enak dong dapat suami tajir,"


Dan segala macam komentar lainnya hanya ditanggapi Elena dengan tertawa tanpa mau menjawab.


"Udah ah, itu rahasia perusahaan! Ayo kerja lagi tapi aku pinjem Hana," kata Elena. Elena mengajak Hana duduk di teras cafe yang sudah disediakan bangku dan meja.


"Gimana kabar kamu?" tanya Hana.


"Baik dan ruwet! Kamu sendiri?"


"Ya beginilah, yang penting sehat. Sisanya temukan kebahagiaan," ucapnya sambil tersenyum.


"Bos gimana?"


"Baik, kamu nanya bos apa ponakannya?" tanya Hana.


"Husss!" Elena melotot ke arah Hana. Gadis itu hanya tertawa.


"Serius ini, gimana perasaan kamu?"


"Baik Hana, cuma ya begitulah... Rasanya beda,"


"Ya jelaslah, dulu sendiri. Sekarang udah ada yang nemenin,"


"Ya gitulah," Elena tersenyum kecut. Ia tak ingin menceritakan kesusahannya pada Hana. Biarlah sementara ini dia pendam sendiri, toh sikap Adam selama ini masih terbilang wajar. Tinggal mereka memperbaiki cara bersandiwara.


"Kok kamu keliatan nggak bahagia?" tanyanya.


"Masa sih? Aku cuma lagi bingung, tadi sebelum kesini aku mampir ke tempat kursus. Mau ikut bimbel sebelum nanti aku kuliah,"

__ADS_1


"Kamu mau kuliah? Bukannya kamu udah nikah?" tanya Hana.


"Iya, tapi aku pengen nyari kegiatan aja. Kalau Adam udah ke kantor aku bingung mau ngapain, nggak ada kesibukan,"


"Iya juga sih, apapun keputusan kamu aku harap kamu bahagia,"


"Thanks Hana," kata Elena. Setelah itu Hana melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Elena di mejanya.


Menuju jam makan siang Elena memutuskan untuk pulang dan sebelum itu ia sedikit berbelanja untuk memasak.


Sampai di unitnya, Elena menyibukkan diri dengan memasak. Kali ini ia memasak ayam bakar dengan sambal juga lalapan, tak lupa ia mengupas buah pepaya. Setelah persiapan makan siangnya selesai, Elena segera mandi.


Baru saja ia memakai pakaiannya, ponselnya berdering. Adam menelponnya. Dengan malas Elena mengangkatnya.


"Ya?"


"Kamu sudah makan?" tanyanya diseberang sana. Elena melirik ke meja makan.


"Belum,"


"Kamu masak apa?" tanyanya.


"Ayam bakar dan lalapan,"


"Bisa kamu antar ke kantor untukku?" tanyanya lagi. Elena melirik ponselnya. Benarkah permintaan Adam ini.


"Aku kan mau makan makanan yang dimasak istriku," jawabnya, membuat hidung Elena berjengit. Entah kenapa Adam bersikap manis saat itu.


"Ngigau kamu!"


"Makasih sayang, maaf ya ngerepotin, muach!" balasnya sesaat sebelum mematikan ponsel. Elena benar-benar bengong saat ini. Bunyi pesan masuk akhirnya menyadarkannya. Bahwa Adam meminta diantarkan makanan ke kantor.


"Cih! Merepotkan!" gumam Elena sambil membalas singkat pesan Adam.


Elena bersiap akan mengantarkan makanannya tapi urung saat pesan dari Adam masuk kembali.


Jangan antarkan makanannya, aku pulang!


Elena kesal, ia segera menyimpan kembali beberapa tempat brkal yang rencananya akan dipakainya untuk membungkus makananan untuk Adam.


Setelah itu ia segera duduk di meja makan dan makan sendiri. Ia sudah sangat lapar. Saat ia hampir selesai makan, Adam masuk dan langsung menuju ke meja makan.


"Sepertinya enak," katanya.


"Makanlah!" Elena mengambilkan makanan untuk Adam, biar bagaimanapun Adam statusnya adalah suaminya.


"Terimakasih!" jawab Adam sambil menerima sepiring nasi beserta lauknya.

__ADS_1


"Tadi kenapa nggak jadi nunggu di kantor?" tanya Elena.


"Tadi beberapa temanku mau bertemu dan kenalan denganmu, tapi aku rasa belum saatnya mengenalkanmu pada mereka. Nanti kita atur waktu untuk mengundang mereka saja,"


"Ooh begitu, oke. Syukurlah tidak jadi ke kantormu. Aku lumayan lelah," kata Elena.


"Hmmm... Lelah?"


"Ya, tadi aku mendaftar ditempat bimbel yang pernah kuceritakan,"


"Lalu?"


"Ya aku mendaftar, mungkin minggu depan aku mulai kursus,"


"Oke, take your time. Untuk kuliahmu sudah ditentukan mau dimana?" tanya Adam. Elena menggeleng.


"Belum tau,"


"Hmmm nanti aku bantu carikan,"


"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri,"


"Tidak apa, aku mendukungmu. Nanti aku carikan beberapa untukmu, oh boleh kutambah?" tanyanya lagi sambil menyodorkan piring. Elena bergegas mengambilkan sepiring nasi lagi untuk Adam.


"Terimakasih," ucapnya saat Elena memberikan sepiring nasi lagi untuknya. Elena hanya tersenyum menanggapinya.


Setelah makan, Elena mencuci piring kotor bekas makan. Adam hanya duduk di depan televisi sambil melonggarkan dasinya.


"Nggak ke kantor lagi?" tanya Elena.


"Nanti saja," jawabnya sambil menatap televisi tapi terlihat bengong.


"Kamu kenapa?" tanya Elena menepuk lengan Adam.


"Ooh tidak apa-apa. Aku hanya sedikit malas, pekerjaan kantor terasa semakin banyak," jawabnya memijit pelipisnya.


"Hmmm... Begitu," jawab Elena. Ia tak tahu harus menjawab apa atau membantu meringankan pikiran Adam. Ia orang baru yang tidak mengerti apapun soal Adam.


"Bisa bantu aku?" tanya Adam. Elena mengalihkan pandangannya dari tontonan ke arah Adam.


"Bantu kamu?"


"Ya, rasanya kepalaku berat. Bisa tolong pijit sedikit?" tanyanya. Elena mengangguk dan mendekat ke arah Adam.


Elena membiarkan Adam berbaring di pangkuannya dan memijit kepala Adam. Mata Adam terpejam. Elena benar-benar bingung harus bagaimana. Selama ini sikap Adam tidak mudah ditebak. Terkadang dingin, terkadang galak, terkadang manja. Untung Elena bisa membaca situasi dan berusaha mengikuti alur perasaan Adam.


Sambil memijit kepala Adam, Elena memperhatikan garis wajah Adam. Adam terlihat sangat tampan dengan alis yang sedikit tebal, hidung mancung, bibir yang merah. Juga rambutnya yang tebal dan rapi. Aaah sedikit menghitam dibagian dagu dan diatas bibir. Sepertinya Adam belum bercukur.

__ADS_1


"Elena..." tegur Adam. Elena segera tersadar dan melanjutkan pijitannya. Ternyata ia melamun saat memijit. Apakah Adam tahu jika Elena memperhatikannya? Jika iya, Elena merasa malu sudah memperhatikannya. Tapi Akhirnya Elena sadar, wajah tampan itu bukan miliknya seutuhnya. Tapi juga milik Emili. Emili yang memiliki tubuh Adam. Sedangkan dirinya hanyalah berstatus diatas kertas.


__ADS_2