Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 28


__ADS_3

Elena bagun kesiangan. Samar tercium aroma roti yang dibakar. Elena mengusap matanya lalu keluar kamar yang pintunya setengah terbuka. Ia melihat Adam sedang sarapan dan sudah memakai pakaian kantornya.


"Maaf aku kesiangan," kata Elena.


"Santai aja, aku terbiasa sendiri," kata Adam sambil tersenyum. Elena terdiam menatap Adam, Adam meyadari kata-katanya salah. Senyum hilang dari wajahnya berganti dengan salah tingkah.


"Aku mengerti, kamu mulai ke kantor hari ini?" tanya Elena yang berusaha santai sambil meminum air putih yang sebenarnya ia juga tidak haus.


"Iya, maaf tapi pekerjaanku..."


"Tidak usah canggung, bukankah pernikahan kita tujuannya begitu?" tanya Elena sambil tersenyum.


"Iya... Oh ya, kamu bebas mau apa saja dan melakukan apapun asal tidak berpesta di rumah ini atau mencoreng nama keluarga,"


"Aku mengerti! Aku akan menikmati hariku. Jadi nikmatilah harimu," kata Elena sambil tersenyum. Adam menjadi lega dan ia bergegas ke kantor tak lupa ia meninggalkan kartu untuk belanja. Elena mengambil kartu itu tanpa ada niat untuk berfoya-foya. Itu untuk kebutuhan mereka berdua dan sisanya akan ia gunakan untuk persiapan kuliahnya. Masih ada waktu untuk mengejar tahun ajaran baru. Ia akan mengikuti bimbel untuk persiapan tes masuk. Hari ini agendanya mencari tempat bimbel.


Elena mandi dan melihat-lihat iklan yang menawarkan belajar persiapan memasuki perkuliahan. Ada dua sampai tiga kursus yang diinginkan Elena. Dia akan kesana dan bertanya. Elena berganti pakaian dan bergegas keluar, ia memesan taksi online dan pergi ke tiga tempat tersebut.


Elena mempertimbangkan kemampuannya dan mulai memikirkan pilihannya. Nanti malam ia akan meminta ijin pada Adam untuk mengikuti kursus. Karena untuk bekerja tidak diijinkan oleh Adam dan keluarganya. Ia akan merasa bosan bila tidak ada kegiatan menjelang perkualiahannya dimulai.


Elena kembali setelah makan siang dan menghabiskan waktunya membuat donat dan memasak makan malam. Sore hari, ia bersantai di balkon sambil menikmati donatnya menunggu Adam pulang. Ia akan membujuk Adam agar mengijinkan dirinya ikut kursus. Namun sampai magrib datang Adam belum juga pulang. Elena melihat ponselnya tak ada satupun pesan dari Adam.


Elena masuk ke dalam dan menonton siaran televisi dengan tingkat bosan yang semakin tinggi. Ia lalu melihat emailnya dan rasanya sudah sangat lama ia tak mengabari apapun pada Hans meski itu hal sia-sia tapi ia akan selalu berusaha berkomunikasi dengan Hans. Ia bercerita banyak dan menceritakan semua hal yang baik dan seolah hidupnya bahagia. Padahal yang terjadi ia sungguh bosan.


Setelah mengirim pesan, sukurlah ponselnya berdering. Hana menelponnya dan mereka bercerita banyak hal sampai waktu berlalu begitu cepat. Setelah menutup pembicaraan dengan Hana, Elena ke dapur dan melihat makanan utuh menunggu Adam, jug barisan donat berwarna-warni yang tak lagi indah dipandang. Elena menarik napas dan berlalu ke kamar. Sudah pukul 21.00 bisa dipastikan Adam akan pulang lebih larut atau bahkan tidak pulang. Elena menarik selimut dan tidur di ranjang. Ia menggulung beberapa bedcover untuk tempat tidur Hans.

__ADS_1


* * *


Elena terbangun saat merasa kehausan. Ia melirik ke bawah ranjangnya. Gulungan bedcover sudah tidak ada. Tandanya Adam sudah pulang, entah pukul berapa Adam sampai hingga Elena tidak sadar Adam sudah pulang. Elena keluar kamar dan melihat Adam tertidur di depan televisi. Televisi dalam keadaan hidup sedangkan Adam ketiduran dengan bibir menganga dan ada noda glaze ungu disana. Elena tersenyum dan segera meraih tempat donat yang sudah kosong, meletakkannya ke dapur. Lalu meminum air putih dan kembali ke kamar. Sesaat ia berhenti lalu mengusap bibir Adam dengan tisu membuat pria itu terbangun.


"Eeeh maaf! Aku membangunkanmu. Ada noda dan sebaiknya minum air putih," kata Elena beranjak mundur.


"Oh... Thanks. Lain kali bangunkan saja," kata Adam. Lalu ia ke kamar mandi dan Elena berlalu ke kamarnya. Elena bersandar di pintu dan merasakan dadanya berdebar. Ia menekan dadanya lalu berbaring meski matanya tak bisa terpejam. Ada apa dengan dirinya? Apakah ia masih terbayang bibir merah dengan noda ungu di pinggirannya? Apakah itu membuatnya berdebar? Tidak! Elena menggelengkan kepalanya.


Ia meraih bantal dan menutup wajahnya. Mencoba tidur meski tidak berhasil. Elena bangun dan duduk bersandar di kepala ranjangnya dan melihat ponselnya. Hanya ada pesan dari kakaknya yang menanyakan kabarnya, juga dari Hana. Elena hanya membacanya dan akan membalasnya besok pagi. Tidak baik membalas pesan mereka setelah lewat tengah malam.


Tok... Tok... Pintu kamar diketuk tak lama pintu itu terbuka dan terlihat Adam di sana.


"Ada apa?" tanya Elena.


"Aku masih lapar, bisa buatkan aku sesuatu?" pintanya. Elena meletakkan ponselnya dan segera turun dari ranjang dan berjalan ke dapur diikuti oleh Adam di belakangnya.


"Itu tadi dan sekarang masih ingin cemilan,"


"Donat..."


"Oooh itu, aku hanya dapat dua donat. Selebihnya dimakan Lee. Tadi dia mengantarku karena mobilku di service dan besok baru selesai,"


"Oohh...,"


"Dan Lee juga ikut makan di sini," kata Adam. Elena menatapnya dari seberang meja.

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Elena.


"Aku tak tega membangunkan orang yang ngorok parah!" kata Adam. Seketika wajah Elena memerah, ia berbalik dan segera menyibukkan diri mencari bahan makanan di kulkas. Sebenarnya ia malas memasak malam-malam. Untunglah ada bungkusan kentang goreng. Elena menggorengnya dan meyajikan untuk Adam sekalian ia membicarakan tentang kursusnya.


Elena duduk gelisah di hadapan Adam. Awalnya Adam cuek tapi lama-kelamaan ia menjadi terganggu. Adam segera menghabiskan makanannya lalu menatap Elena.


"Ada sesuatu yang mau disampaikan?" tanya Adam.


"Uhm... Begini. Soal kuliahku..."


"Bukankah tahun depan? Atau ada rencan ganti kampus?" tanyanya.


"Tidak... Tidak... Bukan itu. Aku mau menanyakan tentang kursus bimbel untuk persiapan tes masuk kuliah. Kamu tahu sendiri aku sudah sangat lama tidak belajar atau membaca buku, jadi sebelum kuliah aku ingin kursus dan mengulang pelajaran," kata Elena. Adam mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meraih gelasnya dan meminumnya hingga habis.


"Aku mengerti. Boleh saja kamu ikut kursus. Tapi tawaran mama masih tetap berlaku,"


"Tidak! Bukannya aku tidak menghargai mama tapi aku ingin kuliah sesuai kemampuanku,"


"Oke, tak masalah. Lakukan saja selama itu berguna," kata Adam.


"Thanks Dam,"


"Santai aja, kamu sudah menentukan dimana kursusnya?" tanya Adam. Elena mengangguk dan segera berlari membongkar tasnya dan menyerahkan tiga brosur yang didapatnya.


"Di sini?" tanya Adam melirik brosur tersebut. Elena mengangguk penuh semangat dan senyum lebar.

__ADS_1


"Bisakah disalah satunya? Aku tadi mendatangi ketiga tempat itu dan aku menyukai yang ini," tunjuk Elena pada brosur yang terletak di tengah.


"Aku tidak setuju dengan ketiganya," kata Adam menatap Elena. Seketika senyuman di wajahnya menghilang.


__ADS_2