
Pintu terbuka dan Renata masuk ke kamar dan kaget melihat Adam yang sudah pulang tanpa ia sadari.
"Adam? Kapan kamu datang?" tanya mamanya saat melihat Adam sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah memerah dan Elena yang duduk menjauh dari Adam.
"Udah dari tadi ma," jawabnya dengan napas ngos-ngosan karena masih menahan amarah.
"Ooh ya ampun, mama salah. Harusnya ketuk pintu dulu. Kalian lanjutkan saja, nanti segera makan ya," kata Renata yang salah arti dengan sikap Adam. Ia berbalik dan meraih gagang pintu.
"Tunggu ma! Elena ikut!" seru Elena dan bergegas bangkit dan berjalan ke arah Renata.
"Nggak apa sayang, kamu dan suami kamu istirahat saja," bisiknya penuh arti.
"Nggak ma, Elen lapar. Ikut mama aja," kata Elena yang sebenarnya takut bila Renata tau apa yang terjadi sebenarnya. Gadis itu berlari ke pintu dan ikut keluar bersama Renata.
"Jangan malu-malu, mama ngerti kok. Kalau kamu masih mau di kamar," kata Renata sambil tersenyum. Elena menunduk seolah malu, padahal ia tak ingin berdekatan dengan pria dengan status suaminya itu.
"Kata Adam kamu pandai sekali memasak, semua masakanmu enak," kata Renata yang duduk di meja makan diikuti oleh Elena.
"Hanya masakan rumahan ma, Elen tidak begitu pandai memasak," Elena merendah melihat aneka hidangan dihadapannya.
"Ayo makan, mana Adam? Kok nggak keluar?" tanya Renata.
"Uhm... Mungkin sebentar lagi," kata Elena. Saat mereka baru makan satu suapan, Adam keluar membawa koper dan menyampirkan jaket.
'Apa Adam akan pergi? Dia masih marah?' batin Elena melirik koper tak jauh dari meja makan.
__ADS_1
"Kamu mau pergi Dam?" tanya Renata.
"Iya ma, papa tadi pagi ngasih tugas untuk melihat proyek di daerah lain," jawab Adam meraih piringnya dan ikut makan. Elena hanya menatapnya. Hal seperti ini tak diinginkannya, bukan karena mereka akan berjauhan tapi pertengkaran dan salah paham tadi sangat menganggunya. Dan Elena juga ingin bercerita tentang pria yang memasuki ke apartemen mereka. Elena sangat takut dan bila mereka ada persaingan bisnis, Elena tidak ingin dilibatkan. Tapi sebelum semua ia ceritakan, justru kini Adam marah dan mereka saling menghindari.
Renata melihat ada yang berbeda diantara mereka berdua. Tapi ia tak ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Mereka sudah dewasa dan Renata percaya anaknya akan menyelesaikan ini semua. Sekarang ia hanya berpura-pura tidak tahu.
Adam selesai dengan cepat dan segera berpamitan. Elena mengantar Adam hingga ke depan rumah dan Renata sengaja menyibukkan diri di dapur memberi kesempatan mereka menyelesaikan masalah sebelum Adam pergi.
"Aku pergi,"
"Ya,"
Hanya sebatas kata-kata penuh basa-basi dan sandiwara. Elena benci itu tapi rasa kesal membuatnya enggan berbicara banyak. Adam juga merasa kesal, seolah Elena tak merasa bersalah setelah apa yang dilakukannya terhadap Emili hingga gadis itu kondisinya semakin drop dan harus dirawat. Kata dokter itu karena stress dan banyaknya pikiran. Ibu hamil tidak boleh tertekan atau terlalu banyak pikiran. Itu meyebabkan kondisi ibu dan janin sangat rentan.
"Aku mau saat aku pulang, kau sudah di apartemen. Kita akan menyelesaikan dan meluruskan masalah ini!" kata Adam yang memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
"Aku tidak ingin dibantah saat ini!"
"Aku akan ke apartemen saat kamu kembali," Elena mengalah.
"Ok, aku pergi," pria itu memutari mobilnya, duduk di depan kemudi kemudian membawa mobilnya keluar pekarangan. Elena menatap mobil Adam hingga tak lagi terlihat. Elena menarik napas dalam lalu ia segera masuk.
Elena merasa perutnya melilit dan ia segera ke dapur membuat teh hangat untuknya sendiri. Lalu ia beristirahat di kamarnya. Ternyata ia mendapat tamu bulanan, pantas saja ia sangat sensitif dan mudah marah.
Malam harinya, Elena dan Renata sedang memakai masker wajah sambil berbicara banyak di kamar Renata.
__ADS_1
"Sebenarnya kalian ada masalah apa? Bukannya mama mau terlalu ikut campur. Tapi mama pengen lihat kalian akur. Mungkin Adam memang bersikap menjengkelkan, dia juga bandel. Tapi mama yakin dia pria yang setia dan menyayangi kamu," kata Renata.
"Tidak ada masalah berat ma, cuma ada sedikit salah paham,"
"Biasa itu, memang dalam rumah tangga komunikasi, kejujuran, keterbukaan semua harus dijalani. Supaya tidak ada kesalahpahaman," kata Renata. Elena mengangguk, ia belum bisa bersuara saat sedang menempel cairan kental masker racikan Renata ke wajahnya.
Elena ingin mengatakan bahwa Adam bukanlah pria setia, juga tentang kejujuran dan segala nasihat dari Renata semua adalah ketidakmungkinan. Elena ingin bercerita bagaimana teror kekasih Adam, juga pria yang masuk ke apartemen mereka. Tapi Elena takut bila nanti malah menjadi masalah yang lebih besar. Dan Elena mengerti betapa sayangnya mama Renata terhadap anaknya. Mungkin suatu saat, bila Elena tidak sanggup lagi menahan sakit hati, ia akan bicara jujur pada mama Renata tentang semua ini.
"Nanti bila Adam pulang kami akan bicara, begitu katanya tadi," kata Elena.
"Bagus, semoga semuanya menjadi lebih baik. Dan mama ingin secepatnya memiliki cucu," kata Renata sambil tersenyum ke arah Elena. Untung saja ia sudah memakai maskernya hingga tidak terlihat wajahnya yang memerah karena malu.
"Kami tidak buru-buru ma," kata Elena.
"No, sebaiknya kalian cepat memiliki anak. Mama sudah rindu suara tangisan bayi, apa bulan ini kamu sudah datang bulan?" tanya Renata sambil tersenyum.
"Tadi siang ma," kata Elena.
"Bagus! Berarti nanti setelah selesai, Adam sudah pulang itu saat yang tepat untuk pembuahan," ucap Renata menggoda Elena.
"Mamaaa... Malu ah," senyum Elena membuat Renata lega. Karena seharian gadis itu murung saja. Tapi malam ini dia bisa tersenyum dan tertawa bersama Renata. Renata sedikit lega bisa membuat Elena kembali tersenyum, ia sangat menyayangi gadis itu dan tak ingin menantunya merasa sedih.
Elena pun merasa bahwa Renata sangat menyayanginya. Ia merasa bersalah karena anak dan menantunya membohongi mama Renata, berbohong dengan mengatasnamakan pernikahan. Kelak suatu saat Elena akan meminta maaf pada mama Renata. Ia tahu pasti mama Renata akan sangat sedih dan sakit hati bila tahu pernikahan ini karena sebuah bisnis saling menguntungkan
Setelah membersihkan wajah, Elena kembali ke kamarnya karena papa Kim sudah kembali dan ingin beristirahat. Elena berbaring telentang di kasur empuknya. Pikirannya jauh melayang menuju ke sosok Hans juga ia tidak munafik bahwa ia memikirkan suaminya.
__ADS_1
Bila nanti Adam kembali, mereka akan menyelesaikan permasalahan mereka dan Elena akan meminta maaf pada Adam karena ia terbawa emosi dan sensi karena akan datang bulan. Ia jadi merasa sedikit bersalah pada Adam.
Ponselnya berdering. Seseorang menelepon. Elena melihat siapa si penelepon. Ia langsung duduk melihat siapa nama yang tertera di ponselnya. Ia tak percaya ini, apakah ia mengangkatnya atau membiarkannya?