Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 7


__ADS_3

"Selamat siang tante, maaf Elena terlambat," Elena sampai di sebuah restoran jepang.


"Tidak apa-apa, tante baru sampai. Tangan kamu kenapa?" tanya Renata.


"Tidak apa-apa tante, tadi terjatuh saat menyeberang," jawab Elena.


"Kasihan, oh ya ini sudah tante pesankan makanan. Tante tidak tahu selera kamu bagaimana, pilih saja yang kamu suka," ucap Renata pada gadis manis di hadapannya.


"Terimakasih tante, saya suka apa saja. Tapi ini banyak sekali,"


"Tidak usah sungkan, ayo makan sambil ngobrol," ajak Renata.


"Tante, bagaimana tante bisa kenal dengan ibu saya?" tanya Elena.


"Kami sahabat sejak dulu, cuma sejak tante ke Korea kami hilang kontak dan bertemu lagi beberapa tahun belakangan ini," ucap Renata. Elena mengangguk.


"Lalu kenapa tante malah mengajak Elena makan siang? Bukannya ibu?" tanya Elena.


"Ibumu sudah kemarin. Tante penasaran dengan anak gadisnya. Tante kepingin punya anak perempuan buat bertukar cerita dan pendapat. Tante cuma punya satu anak laki-laki. Dan nakalnyaaa haduh... Maaf jadi membicarakan yang tidak-tidak," Renata tertawa canggung.


"Begitu... " Elena bingung harus berkata apa.


"Lihat ini, tante mau membuat baju keluarga. Cuma bingung dengan coraknya. Kata ibumu seleramu memilih sangat baik," Renata menyerahkan setumpuk kertas berisi contoh bahan pakaian.


"Wuah... Ini bagus sekali tante, Elena sampai bingung untuk memilih," ucap Elena sambil membalik lembaran-lembaran kertas itu.


"Kamu suka yang mana?" tanya Renata.


"Sebentar tante, Elena perhatikan dulu... "


Lama Elena memperhatikan corak dari bahan pakaian itu. Ia tak mau salah memilih untuk sahabat ibunya. Padahal mereka baru kenal tapi tante Renata malah memilih dirinya untuk menentukan seragam keluarga. Padahal ia tak tahu selera tante Renata toh baru beberapa hari ini bertemu. Tapi ia merasa dekat.


"Ini tiga pilihan Elena, maaf kalau tidak sesuai dengan keinginan tante kalau selera kita berbeda," kata Elena menyerahkan tiga lembar contoh motif dan warna.


"Pilihan kamu oke. Dan ngomong-ngomong ibu kamu pernah cerita kalau kamu suka design baju dan menjahit, benar?"


"Saya suka mendesign tapi menjahit tidak terlalu fokus tante. Saya tidak begitu ahli kalau menjahit baju baru,"


"Tapi bisa berlatih, kamu tidak ingin kuliah jurusan yang kamu inginkan?"


"Pengen tante, mungkin tahun depan kalau uangnya sudah terkumpul,"

__ADS_1


"Begitu, kamu sangat tegar. Nanti tante bantu carikan beasiswa untukmu,"


"Benar tante? Terimakasih tante, Elena mau," Elena berkata sambil tersenyum senang.


"Benar, nanti kalau ada tante kabari kamu dan ibumu yah, ayo sekarang tante mau beli beberapa baju dan tas. Kamu tidak ada kegiatan kan?"


"Tidak tante, ayo... " Elena berkata sambil tersenyum senang.


Mereka berjalan berkeliling, Renata sangat senang melihat Elena yang tak kenal lelah dan bosan menemaninya. Padahal mereka beberapa kali berkeliling memasuki satu per satu toko yang menjual produk brand-brand tertentu.


"Terimakasih Elena, oh ya setelah ini tante antar kamu pulang ya, tante masih harus menemui om dulu,"


"Oh ya nggak apa tante, kalau tante buru-buru biar Elena naik taksi aja,"


"Tak apa, toh searah kita. Ayo!" ajak Renata pada gadis itu. Dengan senyum merekah Elena membantu membawakan barang belanjaan Renata yang sangat banyak. Entah untuk apa tas dan baju sebanyak itu.


Setelah mengantar Elena, Renata ke kantor suaminya. Dan memberikan beberapa belanjaan yang sengaja dibelinya diam-diam untuk hadiah Elena. Elena merasa sungkan tapi tetap menerimanya dan mengucapkan banyak terimakasih.


Setelah Renata berlalu, Elena masuk ke rumahnya dan menemui ibunya.


"Bu, lihat! Tante Renata membelikan ini semua untuk Elena dan ibu,"


"Banyak sekali! Dia itu selalu begitu. Kalau sudah senang sangat royal. Dari dulu begitu,"


"Iya, dia anak orang yang sangat kaya dan sangat baik. Cuma ia tidak pandai bergaul, tidak punya teman dan cenderung tertutup. Dia sangat royal tapi sekali dikhianati dia tak segan-segan menutup semua akses disekitarnya. Dulu ibu bisa jadi temannya karena ibu pernah menyelamatkan dia,"


"Oh ya? Gimana ceritanya?" tanya Elena.


"Kapan-kapan ibu cerita. Sekarang kamu istirahat dulu, ok?"


"Yaaah ibuuuu," protes Elena saat ibunya mendorong tubuhnya ke kamar.


* * *


Malam itu, di kediaman keluarga Kim. Kim, Renata, Adam dan Emilia sedang makan malam untuk membahas pernikahan mereka.


"Bagaimana pekerjaanmu saat ini Emilia?" tanya Renata.


"Baik tante, masih ada beberapa pekerjaan sampai minggu depan,"


"Bagaimana bulan depan?"

__ADS_1


"Tidak begitu padat, ada apa tante?"


"Soal pernikahan kalian, semakin cepat semakin baik bukan?" tanya Renata.


"Benar tante, aku sudah lama menantikan untuk bisa bersanding dengan anak tante," jawabnya sambil menggandeng lengan Adam di sampingnya. Adam mendelik kesal dengan jawaban Mili. Bukan itu yang dia inginkan.


"Ma, aku minta waktu. Jangan bulan depan,"


"Loh? Kenapa? Mili sudah siap, mau nunggu apa lagi?"


"Beri waktu untuk mempersiapkan segala acara. Aku tidak mau terburu-buru. Aku mau pesta yang sempurna," kata Adam membuat Mili semakin bahagia.


"Boleh juga, nanti akan ada banyak teman papa yang datang. Kamu siapkan semuanya, minta bantuan mama dan beberapa orang lainnya supaya tidak mengganggu pekerjaanmu,"


"Baik, pa!" Adam tersenyum senang. Yang penting bisa diundur. Ia tak mau pusing mengurus pesta yang membuatnya semakin pusing. Ia akan membiarkan Mili dan mamanya yang mengurus. Ia masih bisa bersenang-senang.


"Emili, nanti kita lihat contoh gaun yang akan kamu pakai," kata Renata.


"Baik tante,"


"Juga untuk dekorasi dan katering,"


"Katering juga?" tanya Emili.


"Iya, kita memilih beberapa makanan yang pas dan yang kamu sukai,"


"Aku suka kok dengan pilihan tante dan aku sedang program diet tante jadi bolehkah aku tidak ikut ke bagian katering?" pinta Mili.


"Baiklah tak apa sayang, mulai sekarang jangan panggil kami om dan tante. Panggil mama dan papa sama seperti Adam. Kamu akan masuk ke keluarga ini," kata Renata.


"Baik ma," jawab Mili.


Malam itu mereka mengobrol santai sampai akhirnya Kim dan Renata pamit istirahat. Malam sudah semakin larut tapi Mili belum juga berpamitan dan masih asyik bercerita di samping Adam dengan tangannya yang selalu melingkar di lengan pemuda itu. Membuat Adam risih.


"Sayang, ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Aku juga mau istirahat besok mau menemani papa rapat,"


"Baiklah, aku pulang dulu," Mili pamit dan mengecup bibir Adam sekilas.


"Hati-hati, maaf aku tak bisa mengantarmu. Aku akan menyuruh supir mengantarmu,"


"Tak apa sayang, istirahatlah. Daaah," ia melambai setelah masuk ke dalam mobil. Adam segera meraih kunci mobil saat melihat supirnya dan Mili sudah keluar dari pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Ia membuntuti mobil tersebut. Siang tadi saat ia sibuk menelpon Mili dan mencari ke rumahnya dan tak menemukan gadis itu justru ia mendapat info dari salah satu anak buah Lee yang mendapatkan foto-foto gadis itu bersama pria lain dan saat mereka berciuman. Adam harus memastikan apakah mereka punya hubungan khusus atau memang tuntutan syuting.


Ia akan mencari tahu sebelum pesta pernikahan berlangsung.


__ADS_2