
Nadine melirik meja disebelahnya. Masih kosong dan tetap tanpa adanya kabar dari Sharen. Semoga ia baik-baik saja. Kenapa Sharen tak ada menghubunginya?
Siang itu, setelah Nadine menyelesaikan makan siangnya ia mendapat pesan dari Vico yang mengingatkan jadwal mereka bertemu. Nadine memberikan emoticon jempol. Perasaannya saat ini terasa sepi dan rasa malas menderanya selalu.
Untunglah sore harinya ia kedatangan tamu. Erika sepupunya datang menjemput dan mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado. Katanya pacarnya dua hari lagi akan berulang tahun, ia meminta pendapat Nadine untuk hadiahnya.
Nadine malah bersyukur, ia saat itu tak memiliki teman yang bisa diajak jalan. Maka ia mengiyakan ajakan Erika. Mereka masuk ke pusat perbelanjaan dan mulai memilih beberapa barang yang bisa dijadikan kado.
Akhirnya Erika memutuskan memilih jam tangan couple berwarna hitam. Elegan sekali. Saat Erika akan membayar belanjaan mereka, Nadine sekilas melihat Vico berjalan memeluk seseorang. Tapi siapa? Ia ingin melihat dengan jelas namun terhalang ramainya pengunjung.
"Nyari siapa Nad?" tepukan di bahunya membuat Nadine berpaling. Namun saat melihat lagi, bayangan Vico sudah tak ada. Mungkinkah itu bukan Vico? Tapi mirip sekali.
"Nggak. Kirain temen tadi, rupanya bukan. Udah selesai?" tanya Nadine.
"Udah, Yuk makan!" ajaknya menggandeng tangan Nadine dan mengajaknya ke food court.
Nadine memesan ayam bakar madu dan teh hangat. Sedangkan Erika memesan bebek rica-rica dan es teh. Mereka asyik mengobrol tentang keseharian masing-masing.
"Ehh Nad, denger-denger kamu udah punya pacar. Bener?" Tanya Erika. Nadine mengangguk.
"Nah, benerkan tebakanku. Dia pasti humoris. Cocok sama kamu yang pendiam" Lanjut Erika lagi.
"Kok tau dia humoris?" Tanya Nadine.
"Hanya nebak aja kok" jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya banyak cerita mengalir diantara mereka, karena jarang sekali bertemu.
***
"Nih buat kamu!" Kata Erika menyodorkan sebuah paperbag kepada Nadine saat mereka telah sampai di rumah Nadine.
"Wah jadi enak" kata Nadine menerima pemberian Erika.
"Itung-itung ongkos nemenin" katanya Erika. Lalu ia pamit dan pulang. Nadine melambai sampai mobil Erika sudah tak tampak lagi. Lalu Nadine berbalik dan akan masuk ke rumah tapi seseorang memanggilnya.
"Nad...?" panggilnya. Nadine berbalik. Ternyata ada Vico. Dan baju yang dipakai Vico sama persis dengan orang yang ditemuinya di pusat perbelanjaan tadi.
"Hai... udah dari tadi?" tanya Nadine
"Nggak, belum lama kok. Kamu darimana?" tanyanya menghampiri Nadine.
__ADS_1
"Aku nemenin sepupuku Erika belanja. Aku suntuk dan nggak ada temen. Jadi aku ikut dia" Kata Nadine membuka kunci pintu.
"Maaf ya, aku agak sibuk jadi kamu kesepian" Kata Vico. Nadine tersenyum, ia meletakkan barang belanjaannya dan keluar lagi, duduk di teras.
"Gak apa Co, nggak mungkinkan kamu nemenin aku terus. Kapan kamu kerjanya" kata Nadine. Vico mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu lama mereka terdiam. Entah kenapa mereka kehabisan bahan pembicaraan. Nadine pun merasa lelah dan moodnya masih berantakan untuk diajak ngobrol. Akhirnya Vico pamit dan berlqlu dari rumah Nadine. Nadine mengangguk. Tak ada ucapan selamat malam, ucapan lucu seperti sebelumnya. Nadine hanya tersenyum kecut lalu masuk rumah dan menutup pintu.
Aneh baginya. Padahal mereka pacaran masih terbilang baru. Tapi Nadine sudah mulai jemu. Entah karena alasan apa. Apa mungkin karena tak ada sahabat disampingnya atau jangan-jangan karena... Rehan!
Nadine mengecek ponselnya. Belum ada pesan dari Rehan. Ia berguling dikasurnya. Malam ini benar-benar merasa sepi. Akhirnya Nadine mencoba memejamkan matanya. Mencoba melupakan kegelisahan hatinya dan berusaha untuk tidur.
Paginya Nadine bangun terlambat. Ia memutuskan untuk jalan pagi pada pukul 05.30. Hari Sabtu, kantornya libur. Ia memanfaatkan untuk berolahraga ringan. Hanya berlari mengitari komplek perumahan.
Dijalan ia bertemu dengan Shasa. Anak pak RT yang masih sekolah di bangku SMA. Anaknya lumayan asyik dan lucu. Lumayan untuk teman berlari.
"Kak, kita ke taman yuk!" Ajak Shasa.
"Ayuk" Mereka berlari kecil menuju taman tak jauh dari rumah Nadine. Tempat itu sebenarnya tempat bermain anak-anak tapi kini jadi ramai karena posisinya tak jauh dari jalan raya. Jadi banyak pedagang dan juga orang yang berolahraga ringan menggunakan tempat itu.
"Kak, kok sekarang jarang main ke lapangan?" Tanya Shasa. Ya, dulu Nadine rajin pergi ke lapangan bola volley untuk ikut bermain voli.
"Masih dong, kakak sering dicariin loh" Kata Shasa sambil mengambil tempat duduk berselonjor.
"Siapa?" Tanya Nadine sambil streching.
"Tuh, kak Heru hihihi" Katanya sambil cekikian.
"Yeee... ngapain si Heru nyariin?" Kata Nadine mengingat pemuda itu selalu mengikuti Nadine. Nadine kadang ngerasa risih tapi mau gimana lagi. Dia cuekin aja.
"Katanya kangen, pengen main voli bareng lagi" Kata Shasa tersenyum.
"Kangen di smash lagi?" kata Nadine. Mereka tertawa bersama.
"Kak, kapan-kapan main ya ke lapangan" Pinta Shasa.
"Iya, tapi nggak janji ya. Agak sibuk soalnya" Kata Nadine.
"Sibuk pacaran?" Tanya Shasa. Pipi Nadine bersemu merah.
__ADS_1
"Nggak kok" Jawab Nadine salah tingkah.
"Yeee nggak ngaku, udah ketahuan jalan sama cowok keren. Tatoan sama tindikan. Keren sih tapi serem" Kata Shasa bergidik.
"Kok kamu tau?" Tanya Nadine.
"Pernah beberapa kali ketemu kakak lagi sama dia. Nggak ngintip loh" Kata Shasa sambil tertawa. Nadine ikut tertawa.
"Ngintip juga boleh, paling ntar bintitan matanya!" Kata Nadine.
"Kakak bisa aja" Kata Shasa.
"Eh Sha, kita sarapan yuk!" Ajak Nadine.
"Enggak ah kak, masa abis olahraga makan. Ntar nggak kurus-kurus" Protes Shasa yang memiliki postur tubuh agak berisi.
"Sekali-sekali aja kok... Yuk, temenin!" Nadine memaksa Shasa menemaninya sambil menarik tangan gadis itu.
"Tapi traktir ya..."
"Beres! Yuk...!" Mereka pun berlalu dan mulai berjalan kearah pinggir jalan. Banyak yang berjualan sarapan. Aneka macam makanan tersedia, mulai dari anrka bubur, lontong, nasi uduk, nasi rames, pecel. Macem-macem. Nadine jadi bingung mau sarapan apa.
"Bubur aja kak" Pinta Shasa.
"Oke, bentar ya" Kata Nadine berjalan ke arah gerobak bubur.
"Bang, pesan bubur ayam 2. Komplit yah. Makan disana" Tunjuk Nadine kearah bangku taman yang sudah di duduki oleh Shasa. Yukang bubur mengangguk dan mulai meracik. Nadine membeli dua buah minuman mineral dan membawa ke arah Shasa.
Matahari semakin tinggi. Orang semakin ramai yang berlalu lalang maupun yang olahraga. Shasa duduk sambil.memperhatikan orang yang lalu lalang.
"Kak ! Liat deh itu siapa?" Tunjuk Shasa ke arah kerumunan orang.
"Yang mana satu?" Nadine celingukan.
"Itu yang pake baju biru, training hitam. Pake topi hitam" Tunjuk Shasa.
"Loh? Itu kaaaan..." Nadine tak melanjutkan pertanyaannya.
Kira-kira siapa yang mereka lihat ya?
__ADS_1