Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 2


__ADS_3

Hari ini resto terlihat ramai. Mungkin ini bulan baru dimana para karyawan kantoran dan pegawai pemerintahan sudah mendapatkan gaji, mereka akan memanjakan lidah dan perut mereka sebagai apresiasi dari sebagian kecil pekerjaan mereka.


Hans cukup sibuk membantu menyiapkan hidangan makan siang. Sementara itu cucian piring kotor semakin banyak menumpuk terlebih jam makan siang, semua yang ada di bagian dapur sangat sibuk. Kali ini Elena memakai sarung tangan untuk mencuci piring. Ia tak mau menambah efek alergi tangannya meski saat ini rasanya ingin menjerit. Tangannya terasa gatal dan panas.


Sudah lewat tengah hari, meski tak sesibuk jam makan siang tapi cucian piring masih mengantri. Dan tak sebanyak jam sebelumnya. Elena masih mencuci namun naas, saat memindahkan piring sarung tangan yang licin dan lelah membuat beberapa piring kaca meluncur jatuh dan pecah berderai.


Sesaat aktivitas di dapur terhenti dan diam sejenak. Semua mata menatapnya, ada yang kaget, iba dan memggelengkan kepala. Elena memejamkan matanya dan mencoba bernapas sebelum akhirnya...


"Elen! Astagaaaaa... Kau... " si Galak dengan wajah memerah tak bisa lagi berkata-kata. Elena memejamkan matanya lalu menunduk menanti kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.


"Maaf... Akan aku bereskan," jawab Elena.


"Bereskan segera! Lalu ke ruanganku!" bentaknya lalu berbalik meninggalkan Elena yang menatap pecahan piring yang bertebaran di kakinya.


"Aku bantu... " Hana berjongkok memunguti pecahan piring.


"Biarkan, ini kesalahanku. Biar aku yang membereskan. Selesaikan tugasmu," kata Elena mendongak menatap Hana dan tersenyum. Hana menatapnya sedih tapi Elena mencoba tersenyum.


Hana meminta maaf tak dapat membantu lalu ia meninggalkan Elena. Elena membereskan pecahan kaca, menyapunya dan membuang pecahan ke bagian belakang resto. Lalu kembali melanjutkan mencuci piring.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Hans.


"Aku nggak apa-apa," jawab Elena.


"Kamu sakit?" pria itu memegang kening Elena. Sejenak Elena merasakan kehangatan yang mengaliri keningnya dan memberikan kenyamanan sesaat. Lalu ia tersadar dimana mereka kini. Ia menepis tangan Hans dan melanjutkan mencuci piring.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Selesaikan pekerjaanmu, aku akan menemui pak Gala, permisi..." Elena beranjak dari tempat cuci piring. Semua piring telah selesai dicuci. Ia melepaskan sarung tangan dan membuka celemeknya lalu memasuki sebuah ruangan di salah satu sudut dapur.


"Elena... Duduk!" perintahnya saat Elena masuk. Elena masuk dan duduk perlahan di hadapan atasannya.


"Saya minta maaf,"


"Elena, beribu kali kamu minta maaf tidak mengembalikan semuanya,"


"Saya mengerti, tapi saya tidak sengaja,"


"Semua juga memiliki kesalahan dan ketidaksengajaan, tapi semua berusaha memperbaiki. Sedangkan kamu? harus berapa kali saya memaafkan kamu? Resto ini butuh orang-orang cekatan, butuh orang-orang yang memiliki kecepatan dan ketepatan pekerjaan. Yang bisa menyenangkan pelanggan, yang bisa bekerja cepat di waktu-waktu tertentu,"

__ADS_1


Elena terdiam dengan penuturan pak Gala di hadapannya. Ia sanggup menambah hukumannya bila memang bersalah tapi jika diberhentikan entah ia harus bagaimana. Ia tak tahu harus mencari pekerjaan dimana lagi.


"Saya berjanji... "


"Janjimu sudah banyak Elen! Dan semua janjimu luntur sejalan dengan kecerobohanmu,"


"Saya mengerti tapi beri saya kesempatan... "


"Haruskah?"


"Saya mohon pak, saya butuh pekerjaan ini," Elen memelas memohon.


"Kamu tahu, kamu membutuhkan pekerjaan ini tapi kamu tidak mau memperbaiki diri. Banyak di luaran sana menunggu kesempatan bahkan hanya sebagai tukang cuci piring sepertimu!" ucapnya. Elena merasa tersinggung tapi ia menahannya. Ia masih butuh pekerjaan ini.


"Saya tidak tahu harus bagaimana menyikapi kesalahan kamu terus,"


"Pak, saya mohon," pinta Elena.


"Begini saja, untuk dua hari kedepan kamu tidak usah datang dulu. Sebaiknya kamu memikirkan kesalahan-kesalahanmu. Lalu untuk piring yang pecah, saya akan memotong gajimu," ucapnya. Elena mendongakkan kepalanya, tak mempercayai pendengarannya.


"Saya... Saya masih bisa bekerja di sini?" tanya Elena.


"Terimakasih pak! Terimakasih!" Elena menyalami pak Gala, lalu pamit keluar.


Ia tak peduli bila gajinya akan dipotong asal ia masih bisa bekerja di sini. Untuk kekurangannya nanti ia akan memikirkan jalannya. Elena berpamitan pada Hana.


"Aneh juga si Galak," kata Hana saat Elena mengganti pakaiannya.


"Aneh kenapa?"


"Dia marah karena kesalahanmu tapi malah meliburkanmu. Aneh menurutku,"


"Itukan menurut kamu, aku malah bersyukur. Lihat ini! Aku bisa mengobati tanganku selama libur, aku tak akan kehilangan pekerjaan, aku harus bersyukur bukan?" kata Elena sambil tersenyum. Hana ikut tersenyum lalu mereka keluar. Hana membuang sampah resto ke bak sampah besar yang tak jauh dari resto. Sedangkan Elena melanjutkan perjalanan pulang.


Tapi di tengah jalan ia berhenti. Ia enggan pulang. Tapi bingung harus kemana. Ia duduk di halte bus sambil memainkan ponselnya. Siapa tahu ada temannya yang bisa di tanyai pekerjaan. Siapa tahu ada lowongan pekerjaan yang lebih baik. Setidaknya ia tak harus mencuci piring.


Elena menatap punggung tangannya yang memerah dan gatal. Ia teringat belum mengoleskan salep. Ia membuka tasnya dan mengoleskan salep di semua punggung tangan dan telapak tangannya. Perih. Tapi ia harus bertahan.

__ADS_1


"Elena!" panggil seseorang.


"Hans?"


"Kamu belum pulang?" tanyanya.


"Masih menunggu bus," Elena memasukkan salep kulitnya ke dalam tas. Lalu menatap ke ujung jalan. Bus yang ia tunggu belum ada.


"Lihat tanganmu!" ia meraih tangan Elena. Elena menariknya tapi ditahan oleh Hans. Ia menatap tangan yang merah dan sedikit bengkak itu.


"Ini pasti sakit,"


"Tak apa, besok akan sembuh," jawab Elena sambil menarik kembali tangannya.


"Apa kamu mau ke suatu tempat?" tanya Elena.


"Oh iya, aku akan mengantarmu pulang,"


"Uhm... Tidak usah, terimakasih. Resto pasti masih butuh kamu,"


"Tidak, aku sudah pulang juga. Ayo, aku akan antar kamu!" ia menarik pergelangan tangan Elena. Mereka menyebrang menuju motor Hans yang terparkir.


"Kamu nggak masalah kalau kita naik motor?" tanyanya sambil memakai helm. Elena menggeleng lalu memakai helm yang disodorkan Hans. Lalu ia naik ke jok belakang dan mereka berlalu dari sana.


Elena berpegangan pada ujung baju Hans. Hans tiba-tiba mengerem dan menepikan motornya.


"Ada apa?" tanya Elena.


"Berpeganganlah! Aku mau ngebut, "


"Tapi... "


"Begini lebih baik!" Hans menarik kedua tangan Elena dan menempatkannya di kedua pinggangnya dan memeluk perut ratanya.


"Tidak apa-apa, aku... "


"Berpeganganlah supaya tidak jatuh," Hans menggenggam kedua tangan Elena di perutnya. Mau tak mau Elena membiarkan tangannya melingkari pinggang Hans. Ia sebenarnya merasa sungkan tapi ia menepis itu semua. Dan menganggap itu demi keamanannya.

__ADS_1


Sedangkan Hans merasa bahagia dan tersenyum di balik helmnya.


Uluuuuu... Uluuuuu... Ulluuuuu.... jangan baper. Maafkan kalau tulisan ini masih proses pengulangan menulis. Semoga suka yah, aku akan update secepatnya😊


__ADS_2