
Sementara itu hari-hari Elena terasa sepi tanpa Hans. Biasanya Hans selalu ada menghiburnya bila ia sedang sedih atau hanya jalan-jalan sepulang kerja. Setelah Hans pergi ia sangat kehilangan. Itulah sebabnya Hana menginap di rumahnya selama dua hari setelah kepergian Hans.
Elena melakukan pekerjaannya, sengaja menyibukkan diri agar ia tak begitu mengingat Hans.
"Kamu jatuh cinta dengan Hans?" tanya Hana saat melihat Elena hanya mengaduk minumannya tak bersemangat saat istirahat.
"Tidak, aki hanya merasa sepi,"
"Cobalah menelpon atau kirim pesan. Medsos kan sekarang bisa mempermudah semuanya," kata Hana.
"Kemarin-kemarin sih masih saling komunikasi. Tapi sekarang semua pesanku diabaikan,"
"Kamu jatuh cinta tambah kangen," kata Hana memegang kening Elena.
"Apaan sih! Nggak kok, kamu kan tau kalau aku mau wujudin impianku dulu,"
"Jangan terlalu keras sama diri sendiri, g ada salahnya kita nikmatin hidup," kata Hana. Elena menatapnya sambil berpikir.
"Bener juga, harusnya aku harus tetap semangat meski nggak ada dia. Aku mau nunjukin kalo aku bisa,"
"Gitu dong," kata Hana tersenyum.
Ponsel Elena berbunyi. Tante Renata menelponnya.
"Halo tante?"
"...... "
"Oh bisa tante, baik,"
Elena mematikan ponselnya.
"Itu tante yang kemu ceritain kemarin?" tanya Hana.
"Iya, mau jemput ke sini, maaf ya nanti nggak bisa nemenin kamu," kata Elena.
"Gak apa-apa kok, santai aja. Besok aja kamu nemenin aku ya," kata Hana.
"Makasih yaaaa," Elena memeluk Hana.
"Iya... Iya... Udah ah, kayak teletubbies aja kita," mereka berdua tertawa.
* * *
Jam kerja berakhir, Elena mengganti bajunya dan keluar menemui tante Renata di halaman parkir.
"Sudah lama tante? Maaf ya jadi nungguin," kata Elena.
"Nggak apa, baru 10 menit tante nyampenya. Kamu nggak apa-apa tante bawa? Capek pulang kerja," kata Renata.
"Nggak apa-apa tante, nggak begitu capek. Tadi resto nggak terlalu rame,"
__ADS_1
"Ooh... Sudah lama kerja di sana?" tanya Renata.
"Sudah hampir dua tahun tante,"
"Lumayan juga ya,"
"Iya tante, buat pengalaman,"
"Kenapa nggak buka jahitan aja di rumah?" tanya Renata.
"Inginnya gitu tante tapi alat-alatnya dan tempatnya belum ada. Elena pengen kuliah dulu nanti di sambi jahit,"
"Hebat kamu, mandiri. Tau nggak dari kalian sekolah dulu tante pengen jodohin kamu dengan anak tante. Tante suka dengan kepribadian kamu,"
"Tante bisa aja,"
"Benar, tapi sayang anak tante sudah ada jodohnya,"
"Syukurlah, eeh maksudnya anu... uhmmm, bukan maksudnya nolak"
"Hahahaha nggak apa Len, tante paham kok. Tapi kalau seandainya mereka nggak jadi nikah, tante mau kamu yang nikah dengan anak tante. Boleh kan?" Renata memegang tangan Elena.
"Hah? Tapi tan... "
"Maaf jangan tersinggung. Bukan maksud tante buat jadikan kamu batu loncatan anak tante. Tapi mereka nggak cocok. Sama-sama keras kepala, susah diatur,"
"Masa sih tan? Tante mungkin harus lebih dekat lagi dengan mereka,"
"Calon menantu tante model?" tanya Elena.
"Iya, namanya Emili. Kamu kenal?" tanya Renata. Elena terkejut saat tahu siapa calon istri anaknya tante Renata.
"Kenal gitu aja sih," jawab Elena yang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Apa kalian pernah bertemu?" tanya Renata.
"Belum tante, belum,"
"Nanti tante kenalkan kalian ya," kata Renata.
"Iya tante, kapan-kapan kami pasti bertemu," kata Elena. Dan ia berharap jangan pernah lagi bertemu dengan Emili. Sikapnya yang tidak ramah dan terkesan merendahkan membuat Elena tak ingin bertemu lagi. Apalagi beberapa kali wanita itu mampir di restonya dengan meminta waitress yang sama yaitu dirinya. Dia tidak mau dengan yang lain karena agar rahasianya tetap terjaga. Entah rahasia apa Elena pun tak mengerti.
Jika suatu saat mereka bertemu, Elena berharap wanita itu tak mengenalinya. Malas saja rasanya bertemu orang yang berusaha menutupi kebohongannya dan Elena terlibat di dalamnya. Ia takut akan dibenci oleh Emili atau tante Renata.
"Temani tante ke ketering teman tante ya,"
"Baik tante," aneh bagi Elena. Yang akan melangsungkan pernikahan adalah anaknya tapi yang mengurus katering dan pakaian keluarga malah Elena ikut terlibat.
"Maaf ya tante jadi merepotkan kamu, anak tante sedang sibuk dan Emili juga padat sekali jadwalnya,"
"Jadi tante mengurus semuanya sendiri?" tanya Elena.
__ADS_1
"Sebagian besar, ayo turun," ajaknya. Mereka segera memasuki sebuah rumah besar dan memiliki dapur yang sangat luas. Banyak pekerja yang membantu mulai dari meracik bumbu, memasak hingga pengemasan.
Mereka diajak mengobrol di ruangan lain dan diskusi mengenai menu apa saja. Bahkan ownernya memberikan beberapa contoh rasa masakan yang sedang mereka buat. Elena sangat menyukainya, bumbunya pas dan sangat enak.
Setelah memilih jenis menu dan membayar uang muka. Mereka berpamitan dan Renata mengajak Elena ke mall yang biasa dia kunjungi membeli perlengkapan dapur. Setelah selesai mereka kembali pulang.
"Terimakasih sudah menemani tante, kalau nggak ada kamu tante pasti bingung,"
"Sama-sama tante, Elena nggak bisa banyak membantu,"
"Ini aja tante sudah senang banget, tante langsung pamit ya," Renata berlalu. Elena segera masuk dan menemukan ibunya sedang menonton televisi menunggunya pulang.
"Hmmmh... malam banget pulangnya, lembur ya?" tanya ibunya.
"Oh nggak ma, tadi tante Renata minta anter belanja," jawab Elena sambil mendudukkan bokongnya di sofa samping ibunya.
"Hanya belanja?"
"Iya ma, kenapa emangnya?"
"Dia nggak ada cerita tentang anaknya?" tanya ibu.
"Ada sih, bu apa betul dulu tante Renata pernah jodohin Elena dengan anaknya?"
"Iya, apa dia belum menyerah?" tanya ibunya.
"Menyerah?"
"Iya, dari dulu dia selalu ngomongin hal anaknya. Ternyata sampai sekarang dia belum menyerah dan langsung ngomong ke kamu,"
"Tapi kan anaknya mau nikah, ibu nggak tau?" tanya Elena.
"Apa iya? Renata nggak ada bilang soal pernikahan ke ibu. Dia itu mau merahasiakan apa lagi dari ibu," ibu Elena sedikit kesal.
"Nggak tau deh, Elena bantu-bantu tante Renata buat persiapan anaknya nikah,"
"Anaknya yang mau nikah kok kamu yang diajakin repot,"
"Nggak apa bu, kasian juga tante Renata ngurus semuanya sendiri,"
"Calon menantunya?"
"Sibuk kerja bu, dia kan model sekaligus artis,"
"Oh ya? Siapa?"
"Emilia, yang cantik semampai itu,"
"Emilia? Yakin kamu? Udah liat berita?" tanya ibunya.
Ada apa dengan Emilia? Sampai diberitakan? Sepertinya Elena terlambat mengetahuinya. Apakah sesuatu yang baik? Mereka mengumumkan acara pernikahan mereka? Jika benar begitu, Elena akan tahu seperti apa wajah anaknya tante Renata. Tante Renata selalu memuji anaknya. Rasanya Elena tak sabar menunggu besok pagi untuk melihat berita yang menghebohkan atau jika ia tak terlalu lelah ia akan mencari beritanya di internet. Tapi sayang kantuk menyerangnya saat sampai di kamarnya yang nyaman.
__ADS_1