Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Bab 16


__ADS_3

Tak butuh waktu lama bagi Renata untuk mengumpulkan kedua keluarga. Renata mengundang keluarga Elena untuk makan malam membahas pernikahan anak mereka. Meski Elena belum menyetujuinya tapi ia ikut datang. Percuma menolak karena semua sudah setuju bahkan Adam pun menyetujui rencana orangtuanya.


Kedua keluarga sedang membicarakan kedua anak mereka sedangkan Elena hanya diam. Dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupannya setelah menikah. Ia ingin menolak tapi demi kuliah dan keinginan orangtuanya ia rela. Mengorbankan perasaannya. Salahkah keputusannya?


Elena menatap Adam yang ikut mengobrol bersama kedua orangtuanya, ia sangat senang. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Mengapa Adam tidak berusaha menolak keinginan orangtuanya? Elena mengeluh dalam hati.


Ini semua mendadak, baru saja kemarin ia menemani tante Renata memilih jenis pakaian dan bahkan katering untuk pesta u tuk Adam dan Emili tapi kini semua berbalik untuk dirinya dan Adam. Elena tidak tahu bagaimana kabar hubungan Adam dan Emili dan pemberitaan masih tentang hubungan Emili dan kekasihnya yang lain, bukan Adam. Pers berarti belum tahu hubungan Adam dan Emili.


"Jadi bagaimana Elena?" tanya tante Renata saat Elena asyik dengan pikirannya sendiri.


"Eh... Iya... Apa tante?" tanya Elena.


"She say yes!" kata Adam tersenyum senang.


"Tunggu... Apa... Apa maksudnya?" tanya Elena.


"Kamu setuju kalau menikah dengan Adam?" tanya ibu Elena.


"Uhm... Itu... Aku sebenarnya..."


"Tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Jangan paksa Elena," kata Adam. Elena menatap Adam tak percaya.


"Bisa bicara sebentar?" bisik Elena. Adam mengangkat bahu dan berjalan mengikuti Elena menuju dapur.


"Kamu apa-apaan sih! Kenapa nggak nolak?" tanya Elena.


"Suka-suka aku dong! Kenapa? Apa kamu menolak?" tanya Adam.


"Ya, aku nggak mau jadi orang yang disalahkan,"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Bukankah kamu mau menikah dengan Emili? Lalu kenapa sekarang seolah aku terjebak di sini!"


"Tidak ada yang menyalahkanmu, jadi jangan ke ge-eran ya! Dan Emili itu urusanku,"


"Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu!" kata Elena.


"Memangnya aku mau? Huh... Aku sudah bilang, jangan terlalu percaya diri!"


"Kamu merencanakan sesuatu?" mata Elena menyipit.


"Hehehehe... Pikiranmu dangkal! Sudahlah terima saja lamaran keluargaku,"


"Tidak akan! Aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai, memiliki rumah sendiri dan membangun rumah tangga dengan cinta. Kamu? Apa kamu tahu cinta? Kamu hanya mempermainkan wanita dan meninggalkannya begitu saja," ucap Elena dengan sikap meremehkan.


"Kamu nggak tahu yang sebenarnya, jadi tutup mulutmu atau aku yang akan membungkamnya," Adam tertawa sinis membuat Elena sedikit takut.


"Kamu! Tidak! Aku menolak menikah dengan laki-laki mesum kayak kamu!" kata Elena berusaha menghindari Adam yang mendekatinya.


"Lalu?"


"Apa yang kau inginkan, akan aku penuhi selagi itu masih wajar. Asal kita menikah,"


"Aku sudah bilang, menikah itu bukan hal main-main,"


"Tidak, aku tidak main-main. Aku serius akan menikahimu. Dan kita hidup seperti tidak dalam pernikahan,"


"Aku nggak ngerti," kata Elena.


"Begini, nanti aku buatkan surat perjanjian pra nikah. Dan kamu bisa mengisi keinginanmu di sana. Apakah kamu mau rumah? Liburan? Uang bulanan? Atau bukankah keinginanmu sekarang adalah kuliah?" tanya Adam tersenyum.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Elena.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu apa kebutuhan calon istriku," kata Adam. Elena membuat wajah seolah ingin muntah.


"Jadi kamu bakal nurutin semua keinginanku?" tanya Elena.


"Selagi tahap wajar. Kalau untuk honeymoon ke bulan aku nggak mau," kekeh Adam.


"Siapa juga yang mau! Ya sudah, aku belum setuju untuk menikah sebelum surat pra nikah itu jadi.... "


Adam memberikan selembar kertas yang tersimpan di sakunya pada Elena.


"Aku belum selesai bicara,!" kata Elena.


"Kamu baca aja dulu. Aku akan membantumu mengundurkan waktu untuk setuju menikah. Poin yang tidak kamu setujui bisa di revisi dan isi kolom semua keinginanmu dibawahnya. Baca dengan cermat dan serahkan kertas itu besok. Kita berdua menandatanganinya. Bagaimana?" tawar Adam. Elena hanya menatapnya penuh pertimbangan, ia tak mau dirugikan.


"Aku akan pelajari dahulu. Dan aku tidak bisa menentukan bahwa besok akan setuju. Beri aku waktu," kata Elena.


"Oke, santai saja. Pikirkan soal kuliah dan cita-citamu. Aku bisa mewujudkannya dan setelahnya kita tidak akan saling mengganggu," bisik Adam di telinga Elena. Lalu pria itu berjalan menuju ruang makan. Elena menimbang-nimbang kertas di tangannya. Ia tak tahu apa isinya. Ia akan memeriksanya saat di rumah.


Elena kembali ke ruang makan dan melanjutkan makan. Dilihatnya kedua keluarga itu sedang tersenyum ke arahnya. Elena salah tingkah dan melotot ke arah Adam. Laki-laki itu mengangkat bahunya seolah tak peduli.


Setelah acara makan malam selesai, keluarga Adam pamit pulang. Elena dan keluarga mengantar Adam ke depan dan melambai saat mobil mereka berlalu. Setelah itu Elena kembali ke kamarnya dan segera membuka lembaran kertas yang diberikan oleh Adam.


Surat perjanjian pra nikah. Adam hanya menginginkan privasi kamarnya dan kehidupannya. Tidak ada yang aneh. Dan Elena merasa dia tidak dimanfaatkan bila melihat poin-poin yang diajukan Adam. Kolom yang disediakan Adam untuk Elena beberapa sudah diisi Adam antara lain soal nafkah kebutuhan Elena, kuliah dan rumah. Tak ada ruginya dan ia bisa memulai cita-citanya dari sini. Ia akan kuliah. Berulang kali Elena memeriksa melihat keanehan tapi tak ada.


Haruskah Elena menandatangani surat ini? Benarkah pilihannya? Ia akan menikah, rasanya tak percaya. Ditambah lagi dengan seseorang yang baru saja dikenalnya. Ia tak tahu bagaimana sifat Adam. Yang ia tahu segala yang buruk tentang pria itu. Ada sedikit rasa takut di hatinya bila Adam adalah seseorang yang kasar atau memiliki kepribadian lain. Siapa tahu.


Berbagai pikiran membuat Elena pusing. Ia ingin Hans ada di sini. Ia teringat Hans, meskipun pria itu tak pernah membalas emailnya, tapi Elena tetap mengirim pesan untuk pria itu.


Ia duduk di depan komputer dan mengirim email untuk Hans. Dia menceritakan segalanya dan semua pikiran-pikiran buruknya tentang Adam. Setelah berulang kali membaca suratnya, akhirnya Elena menekan tombol kirim.


Setelah itu Elena terdiam. Ia bingung harus bicara dengan siapa. Hana beberapa hari ini sulit sekali bertemu dengan Hana. Apakah Hans masih menganggapnya teman? Setelah sekian lama mereka tak ada berkomunikasi. Jujur ia rindu Hans dan semua candaannya. Jatuh cintakah ia pada Hans? Entahlah. Yang pasti sejak Hans pergi ia merasa kehilangan dan kini ia merasa rindu. Salahkah ia berharap Hans akan datang dan menyelamatkannya dari pernikahan yang tak bisa ia bayangkan akan seperti apa kedepannya.

__ADS_1


Bunyi pada komputer membuatnya tersadar. Emailnya di balas! Jantung Elena berdetak kencang. Apa tanggapan Hans?


__ADS_2