
Di sebuah rumah besar terletak persis di tengah kota. Adam baru bangun tidur dan segera ke dapur, ia meminum segelas air putih dan bergabung dengan kedua orangtuanya yang sedang sarapan.
"Sarapan apa pagi ini?" tanyanya menguap melirik meja yang penuh dengan aneka makanan menu sarapan.
"Kamu mau apa sayang? Dan yah selamat pagi menjelang siang," ucap Renata saat melihat putra semata wayangnya menguap.
"Aku roti saja," pintanya dan mulai menggigitnya.
"Bagaimana perusahaan?" tanya Kim, ayahnya yang keturunan korea.
"Sejauh ini baik, nanti aku akan ke kantor papa untuk membahas pembuatan proyek yang papa sebutkan kemarin,"
"Bagus, pastikan mendapat surat ijinnya. Lalu kita akan membuat apartemen terbaik di kota ini khusus untuk orang-orang yang berani membayar lebih untuk sebuah pemandangan indah,"
"Kalian terlalu berbisi!" ucap Renata.
"Mumpung harga sedang stabil, toh itu nanti untuk anak cucuku. Mereka harus hidup layak dan bahagia," kata Kim sambil membelai tangan istrinya.
"Nah, sebaiknya kalian juga membahas masalah anak cucu. Aku juga tidak sabar untuk memiliki menantu dan cucu yang comel. Pastikan kalian membahasnya nanti," kata Renata saat suaminya berpamitan dan mencium kedua pipi mulus Renata.
"Masalah percintaan kaulah ahlinya, bahkan aku takluk padamu. Tolong taklukkan satu lagi," ia menunjuk Adam yang sedang meminum kopinya.
Renata tersenyum menatap dua laki-laki yang membuatnya bangga. Lalu ia berdiri dan mengantar suaminya ke depan hingga naik mobil dan menghilang dari hadapannya.
Ia kembali masuk dan mendapati anaknya sedang tersenyum pada ponselnya.
"Jadi? Apakah ada bunga yang membuatmu tersenyum pagi ini?" tanya Renata.
"Bunga bangkai ma, ini Vergie mengirimiku fotonya saat berbulan madu," lapor Adam.
"Vergie yang beruntung, bisa menikmati liburanya bersama istri. Kamu kapan?"
"Ma, aku belum mau bahas ini. Mungkin kalau nanti aku sudah bisa memimpin beberapa perusahaan aku akan mencarikan menantu untuk mama," ia memeluk Renata yang sedang merapikan pakaiannya.
"Kau akan segera tua. Jika sampai akhir tahun ini kamu tidak bisa membawa calon menantu untuk mama, mama yang akan menentukan semuanya,"
"Oke ma, oke... Nanti akan aku bawakan calon yang sesuai keinginan Nyonya Kim,"
"Oke, mama tunggu. Mama mau pergi ke salon. Segera mandi. Dan jangan mengganggu salah satu asisten rumah tangga, mama dengar kamu memojokkannya di dapur kemarin," ucap Renata sesaat sebelum berbalik keluar.
__ADS_1
"Sial! Perempuan itu mengadu yang tidak-tidak. Awas saja, ku hukum kamu nanti," ucapnya pelan lalu beranjak ke kamar. Ia segera mandi dan memakai jas berwarna navy, menyisir rambut hitamnya ke samping. Memakai jam dan menyemprot sedikit parfum andalannya.
Ia segera berjalan menuju garasi lalu berhenti sejenak di dapur dan melihat asisten yang mengadukannya.
"Hei.. Kau! Kemari!" ia memanggil wanita itu. Wanita itu menggeleng dan bersiap kabur.
"Kalau kau kabur, aku akan memojokkanmu lebih dari yang kemarin,"
Wanita itu ketakutan dan datang mendekat. Adam membisikkan sesuatu di telinganya membuat kuping dan wajah gadis itu memerah. Adam tertawa melihatnya.
"Dasar! Kau bisa menggodaku tapi kau penakut," Adam terkekeh sambil memasuki mobilnya.
Pagi itu setelah papa Kim menyelesaikan rapatnya ia kembali ke ruangannya dan mendapati Adam sedang mengobrol dengan sekertarisnya.
"Sudah lama?" tanya Kim.
"Tidak juga,"
"Kemarilah, dan ini silahkan kamu baca dulu," Kim menyerahkan sebuah map pada Adam. Adam membaca poin pentingnya, lalu mengangguk.
"Ada beberapa poin yang harus diperbaiki agar nanti tidak menimbulkan masalah," kata Adam. Lalu ia menjelaskan poin-poin yang dianggapnya bisa melemahkan. Mereka terlibat obrolan serius tentang proyek tersebut. Tak lama, Anna sekertaris Kim masuk dan membawakan beberapa minuman.
"Jaga pandanganmu anak muda,"
"Dia menggodaku pa," Adam menjawab.
"Terserah! Ayo minum dan papa semakin yakin untuk meninggalkan perusahaan di tanganmu Dam,"
"Terimakasih pa,"
"Tapi syarat terakhir kamu belum melengkapi,"
"Apa itu?"
"Menantu untukku dan mamamu, selagi belum ada pendamping papa tidak akan melakukan serah terima. Serah terima akan berlangsung bersamaan dengan pesta pernikahanmu,"
"Tak bisakah saat kami bertunangan?" tanya Adam.
"Tidak! Pertunangan itu hanyalah persinggahan. Sewaktu-waktu bisa saja salah satu diantara kalian memutuskan hubungan. Dan sebagai pertimbangan terakhir, beri kami cucu,"
__ADS_1
"Ini tidak adil pa,"
"Kamu pikirkan baik-baik!"
"Tetap saja ini tidak adil, aku sudah mengikuti semua keinginan kalian!" teriak Adam saat Kim berjalan keluar.
"Tenanglah bocah!" kata Kim.
"Dasar orangtua ini, pa kamu mau cucu berapa? Aku bisa saja membuatkannya untukmu bahkan saat ini di ruanganmu!" teriak Adam.
"Astaga! Tidak punya malu lagi kamu, Dam!" kata seseorang yang baru masuk.
"Lee! Sejak kapan?"
"Baru saja aku sampai dan melihatmu semakin bobrok. Gadis mana lagi yang kamu kencani?" tanya Lee.
"Gadis sukarela semua, ayo kita makan siang. Aku lapar!" ajak Adam.
"Oke, sekalian aku mau lihat gadismu,"
Adam, Lee dan Vergie adalah tiga orang sahabat yang ikut andil dalam perusahaan Kim. Mereka didikan Kim dalam usaha bisnis. Sepak terjang mereka dalam soal bisnis tidak diragukan lagi. Adam dan Lee masih lajang sedang Vergie baru saja menikah dan sedang berbulan madu. Soal wajah dan tubuh sulit menjelaskannya. Ketiganya memiliki wajah dan tubuh proporsional, idola kaum hawa ditambah soal fashion dan kekayaan siapa yang tak ingin menjadi orang terdekatnya.
Adam dan Lee makan siang tak jauh dari kantor dan menyempatkan menelpon Vergie yang sedang menikmati liburannya di pantai bersama istrinya.
Dalam hatinya Lee iri melihat Vergie akhirnya memiliki istri dan berencana memiliki anak. Menikmati hari bersama istri. Saat Lee menceritakan hal itu pada Adam, justru Adam meremehkannya.
"Ribet urusannya soal istri, berasa terikat dan aturan ini itu,"
"Kamu niat nikah nggak sih?" tanya Lee.
"Tidak untuk saat ini,"
"Ku kira selamanya, dan hei dude, kalau kamu nggak niat nikah aku bukan solusimu," ucap Lee.
"Gila! Aku tak suka batang!" sembur Adam disambut tawa membahana dari Lee. Menjadi pusat perhatian banyak orang. Tapi dua orang tersebut malah cuek dan menganggap hal biasa. Sejak sekolah dulu merekalah pusat perhatian orang terutama para gadis. Dan itu berlaku sampai saat ini.
Mereka menikmati pertemuan mereka setelah seminggu tak bertemu karena Lee harus kembali ke Korea melihat ibunya yang sakit. Dan ia membawa ibunya ke negara ini untuk tinggal bersama.
"Nanti aku akan main ke rumahmu. Gimana kesehatan tante saat ini?" tanya Adam.
__ADS_1
"Dia hanya demam biasa, sudah lebih baik dan punya kekuatan untuk memaksaku membawanya kemari, aku tunggu nanti malam. Nanti aku sampaikan pada mama soal kunjunganmu," jawab Lee saat mereka akan berpisah dan melanjutkan aktivitas masing-masing.