Mission Impossible Love

Mission Impossible Love
Part 15


__ADS_3

Hari ini Sharen masuk bekerja kembali. Nadine bertwmu dengannya dan berbicara sebentar sekedar menanyakan kabar. Mereka berjanji akan bercerita saat makan siang. Teror telpon dari Devan sudah tak ada lagi.


Seharian ini Nadine tak konsentrasi bekerja. Entah karena pikirannya pada Vico atau pada Sharen. Akhirnya dia memilih membuat kopi sambil melemaskan otot kakinya.


"Ternyata si bos keren banget yah..." Nadine mendengar pembicaraan dua orang CS saat jam istirahat.


"Iya, ternyata masih single"


"Bukan masih, tapi baru single. Duren loh dia"


"Masa sih? Kok kamu tahu?"


"Temennya kakakku"


"oh ya? boleh dong dikenali"


"Cuma seangkatan, nggak pernah dekat. Tapi mereka saling kenal"


"Ooo... gitu"


Nadine berjalan melewati mereka. Lalu pura-pura tak mendengar dan kembali ke mejanya. Info yang baru didapatnya, ternyata si bos galak itu duda. Incaran wanita-wanita di kantor ini. Nanti dia akan bercerita pada Sharen.


***


Sharen sedang mengaduk minumannya sambil mendengar celoteh Nadine tentang bos mereka.


"Kamu tau nggak? Bos kita itu duda?" Tanya Nadine.


"Tau dong" kata Sharen cuek.


"Lah? kamu tau?"


"Ya iya dong, di kantor ini yang nggak tau cuma kamu. Semua juga tau. Haduh kemana aja sih ni anak"


"Hehehe nggak penting sih, malesin banget. Yang penting aku tau dia itu galak banget"


"Tapi ketutup kok sama ketampanannya hihihi"


"Yeeee mau ganteng tapi kalo galak, amit-amiiiit" Nadine mengetuk meja.


"Ya gak apalaaaah... itu bukan galak, tapi tegas"


"Nggak ah, galak!"


Sharen menggeleng kepala mendengar Nadine. Mereka bergegas makan siang lalu kembali ke kantor. Melakukan rutinitas kembali.


***


Menjalani hari tanpa Vico terasa sepi. Vico mungkin sangat sibuk dengan tamunya sehingga seharian tak ada pesan darinya. Nadine meregangkan tubuh lelahnya, melirik jam. Setangah jam lagi adalah jam pulang. Nadine membereskan beberapa file nasabah dan file kantor. Meletakkannya di dalam laci lalu menguncinya.

__ADS_1


Nadine berjalan ke pantry. Lalu duduk bersandar disana. Menikmati hening di senja hari sambil meminum air putih hangat. Sinar matahari sore menembus kaca dan menyinari wajahnya. Pikiran Nadine kemana-mana. Ruwet sekali.


Ponselnya berdering ia melihat ada nama ibu disana.


"Halo bu?"


"......."


"Nadine baik-baik saja. Sebentar lagi pulang kantor"


"....."


"Iya bu... Nanti Nadine telpon Rehan"


Ia menekan tanda merah pada ponselnya. Ibunya begitu kuat menjodohkannya dengan Rehan. Tapi ia belum ada rasa untuk Rehan dan ada Vico yang harus ia jaga hatinya. Ia pusing antara orangtua dan Vico. Ia harus memilih. Padahal hubungannya dengan Vico baru berjalan sebentar.


Ia menelpon Rehan. Tak diangkat. Nadine menghela napas, berbalik dan meletakkan gelas miliknya di westafel. Mencucinya lalu ia segera ke ruangannya. Sharen sudah tidak ada disana. Mungkin ia sudah pulang lebih dahulu. Nadine berjalan ke depan kantor lalu duduk disana. Menunggu Rehan menelponnya kembali.


Mobil Rehan berhenti didepan. Kaca jendela turun lalu ia berteriak agar Nadine bergegas. Dengan kesal Nadine berlari kecil lalu masuk ke mobil.


"Kamu nyebelin!" teriak Nadine. Rehan mengernyit.


"Lah? Kenapa? Kamu nggak kesambet kan?" Kata Rehan.


"Aku telpon nggak diangkat, terus teriak-teriak di depan kantor. Malu-maluin!" protesnya.


"Malu-maluin gimana? harusnya kamu tu bangga. Temen-temen kamu aja terpesona liat aku tadi" ia terkekeh. Nadine mencibir.


"Kemana?" Tanya Rehan


"Kemana aja... aku suntuk" Kata Rehan.


"Kamu nggak capek?" tanya Rehan, Nadine menggeleng. "Aku capek Nad, boleh nggak aku temenin kamu di rumah aja?" Tanya Rehan. Nadine mau protes tapi melihat wajah Rehan yang sedikit kuyu membuatnya kasihan.


"Ya boleh lah... Tapi mampir di market dulu ya. Aku belanja dulu" Kata Nadine. Rehan mengangguk.


Mereka turun setelah Rehan mendapatkan temlat parkir. Lalu ia menemani Nadine belanja, membukakan pintu dan mendorong troli untuknya. Hal kecil yang membuat Nadine senang. Rehan pandai bagaimana memperlakukan wanita meskipun ia terlihat lelah.


Nadine membeli beberapa bahan membuat kue dan stok makanan untuk seminggu ke depan. Lalu membeli buah dan terakhir ia membeli es krim untuk mereka berdua. Ia mengantri di kasir, membayarnya lalu bersama Rehan kembali ke mobil.


"Nih..." Nadine menyodorkan eskrim berbentuk kerucut pada Rehan.


"Thanks..." Rehan meraih es itu lalu memakannya. Mereka makan es krim di mobil. Kesunyian kembali diantara mereka.


"Harusnya aku yang membelikanmu es krim" kata Rehan akhirnya setelah esnya tinggal setengah.


"Nggak apa-apa. Sekali-sekali traktir kamu. Lagian kamu capek banget kayaknya" Kata Nadine menjilat es krimnya.


"Banget, hari ini benar-benar melelahkan dan menguras energi"

__ADS_1


"Ya sudah, kita pulang yuk... Nanti istirahat di rumah sambil aku siapin makan malam. Makan di rumahku yah" ajak Nadine. Rehan mengangguk.


"Astagaaaa Naaad... !"


"Kenapa?" Tanya Nadine. Rehan mengambil selembar tisu lalu mengelap sudut bibir Nadine yang belepotan es krim. Tapi setelah mengelap, malah mata mereka terkunci dan saling menatap lama. Hingga akhirnya Nadine tersadar lalu merebut tisu itu dan mengelap bibirnya kembali. Rehan kembali duduk tegak di kursi kemudi sambil menenangkan detak jantungnya


"Ayo pulang"


"iya.." Mereka sama-sama salah tingkah.


Sesampainya di rumah, Nadine memberikan handuk untuk Rehan. Lalu Rehan mandi sementara Nadine menyiapkan menu makan malam. Yang simpel saja, hanya tumisan dan goreng ayam bumbu lalu membuat sambal. Rehan kembali sambil mengalungkan handuk di lehernya. Ia memakai singlet dan celana pendek saja. Nadine menggeleng pelan.


"Masak apa?" tanya Rehan


"Masakan kampung" jawab Nadine mengambil mengkuk, memasukkan telur dan vanili. Lalu beberapa bahan kue dan terakhir ia memasukkan tepung. Lalu setelah dirasa sudah mulai mengembang ia menambahkan air, diaduk kembali lalu di tutup dengan serbet.


"Enak ya yang jadi suami kamu" Kata Rehan disela aktivitas Nadine.


"Kenapa?"


"Kamu bisa masak, layak di perhitungkan" jawab Rehan. Nadine melotot, Rehan hanya terkekeh.


"Aku kan emang yang terbaik" kata Nadine bangga.


"Kita udah kayak keluarga ya, kamu aja salah kostum. Coba pake daster, udah kayak suami istri nih" Kata Rehan sambil membuka toples berisi kerupuk lalu melahapnya. Nadine melotot ke arah Rehan.


"Sembarangan aja, aaah udah ah. Aku mandi dulu! Daripada ngeladenin omongan ngelantur" kata Nadine berlalu dari sana. Rehan terkekeh melihat Nadine yang sewot. Ia suka menggoda Nadine.


20 menit kemudian Nadine keluar dari kamar menggunakan piyama celana panjang. Nadine mengajak Rehan yang tengah menonton tivi untuk makan. Mereka makan malam dengan lauk sederhana. Lalu mereka bercerita banyak. Entah kenapa Nadine senang bercerita pada Rehan. Rehan pun pendengar yang baik.


Setelah makan Rehan membantu Nadine mencuci piring, lalu Nadine membuat pancake dari adonannya tadi.


"Serius kamu? Setelah makan masih mau ngemil itu?" Tanya Rehan.


"Kenapa enggak?" Balas Nadine sambil membalik pancakenya.


"Luar biasa, tapi kok kamu tetap kurus sih? kemana perginya asupan makanmu?" Tanya Rehan. Nadine segera mencubit Rehan, Rehan mengaduh. Membuat Nadine tertawa senang.


"Nih, cobain!" kata Nadine menyendokkan pancake yang telah diberi perasa anggur dan cream diatasnya.


Rehan membuka mulutnya lalu Nadine menyuapnya. "Enak.... Lembut" kata Rehan mengunyah sambil matanya terpejam. Sementara tangannya menggenggam tangan Nadine yang masih memegang sendok setelah menyuap Rehan.


"Suka?" tanya Nadine


"Favorit" jawab Rehan masih menggenggam tangan Nadine. Nadine malah tak menyadarinya.


"Nad...?"


"Ya?"

__ADS_1


"Menikahlah denganku..." pinta Rehan menggenggam tangan Nadine. Nadine menjatuhkan sendok di genggamannya.


__ADS_2