
Adam dan Emili menemui kedua orangtua Adam. Emili menjelaskan tentang berita yang memuat dirinya dengan mantannya bahwa itu semua hanya rekayasa. Emili menyangkal bahwa dia dan pria itu memiliki hubungan. Membuat Adam muak mendengar kebohongan demi kebohongan yang keluar dari mulutnya. Seharusnya dulu ia dengar apa yang dikatakan Lee, jangan larut dan memainkan wanita. Kini ia justru dibuat pusing sendiri.
"Begitu ceritanya, tapi tante mau jujur Emili,"
"Silahkan tante,"
"Tante tidak bisa melanjutkan pernikahan kalian, tante tidak setuju. Terlebih ada pemberitaan yang kemarin. Kami harus menjaga nama Adam menjelang dia membuka kantornya," ucap Renata pelan membuat Emili kaget dan gelisah.
"Tapi tante, kami saling mencint... "
"Aku setuju ma, nanti akan ada pemberitaan yang lebih tidak enak lagi. Setelah berita kemarin lalu kamu mendadak menikah, rasanya aku seperti orang ketiga," kata Adam membuat Emili menatap tak percaya pada Adam.
"Papa juga setuju,"
"Tapi om... "
"Mili, please. Nanti kita bicarakan," kata Adam memegang lengan Emili. Emili menatap Adam dan air mata menetes di kedua pipinya.
"Kami minta maaf sayang, tapi sebaiknya tunggu semua ini redam, tante harap kamu mengerti," kata Renata sambil tersenyum.
"Tapi tante, aku.. Aku... "
"Sudahlah, ayo aku antar kamu pulang. Kami permisi dulu ma, pa," pamit Adam pada kedua orangtuanya. Adam menarik tangan Mili dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Adam melajukan mobilnya menuju rumah Mili tapi saat sampai di sana wartawan ramai di depan pagar terpaksa Adam membawa Mili ke tempat lain.
Mereka menuju keluar kota dan Adam membawa Mili ke salah satu rumah miliknya.
"Ayo turun, kita bicara!" ajak Adam. Mili turun dan mengikuti kemana Adam pergi. Mereka memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat mewah. Ada pagar di sekeliling rumah, taman dan garasi. Di dalamnya terdapat ruang tamu, tiga kamar tidur, ruang keluarga, ruang makan dan dapur.
"Aku mau membahas masalah ini sampai tuntas, aku capek terlalu banyak pikiran," Adam memberikan segelas air untuk Mili yang menerimanya dan meneguknya.
"Baiklah, apa rencanamu? Tak mungkin bayi ini lahir tanpa ayah," kata Mili.
"Kau yakin itu anakku?" tanya Adam.
"Brengsek! Kau menuduhku?"
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu marah? Atau memang benar begitu?" tanya Adam.
"Ti... Tidak! Tentu saja tidak, ini anakmu," kata Mili.
"Bagaimana kamu bisa membuktikannya? Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu hanya melakukannya denganku,"
"Bagaimana aku bisa membuktikannya? Terserah kamu saja percaya atau tidak! Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab, lebih baik dibuang saja!" ucap Mili menatap tajam manik Adam.
"Tidak! Mau berapa banyak lagi dosa yang bertumpuk? Tidak, aku akan bertanggung jawab dengan caraku sendiri,"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Mili.
"Aku akan bertanggung jawab untuk bayi itu dan segala kebutuhannya tapi untuk menikah sesuai dengan keinginanmu dan mama sepertinya aku tak bisa,"
"Kenapa?"
"Apa kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak tau berita gosip di luar sana? Aku akan bertanggung jawab sampai bayi itu lahir,"
"Hanya sampai dia lahir?" tanya Mili cemas.
"Bila perlu sampai kamu bisa membuktikan bahwa bayi itu anakku,"
"Lalu?"
"Maaf Emili tapi aku harus memastikan banyak hal. Yang penting aku akan bertanggung jawab untuk bayi itu dan kamu saat ini, kamu sebaiknya di sini saja. Tinggalkan pekerjaanmu sementara dan fokuslah merawat bayi itu. Jika tidak, aku tidak akan mengakuinya,"
"Adam! Ini bukan seperti kamu yang aku kenal,"
"Seharusnya kamu kenali aku dulu sebelum mempermainkanku, patuhi atau lupakan semua,"
Adam pergi keluar meninggalkan Emili dengan segala pikirannya. Ia sendiri di rumah itu dan membuatnya bosan. Untunglah ada beberapa orang yang membantunya di sana. Bosan rasanya seharian di rumah dan tak melakukan apapun.
Sampai siang ia belum mengaktifkan ponselnya. Ia tahu akan ada banyak pesan untuknya. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Ia mendapatkan ponsel baru dari Adam untuk komunikasi mereka.
"Jadi gimana keputusanmu?" tanya Kim.
"Aku menunda pernikahan sampai beberapa waktu. Aku mau membuktikan berita itu,"
"Dari awal mama sebenarnya tidak setuju, mama punya calon untukmu,"
"Ma, stop menjodohiku dengan anak teman mama,"
"Setidaknya mama tahu dia seperti apa dan bagaimana ia dididik dalam keluarganya,"
"Ma, aku pusing dengan masalah ini. Tolong jangan bahas itu dulu, oke?"
"Terserah kamu," Renata memgangkat bahunya.
Adam akhirnya pamit dan kembali ke rumah Lee.
"Kenapa tu muka?" tanya Lee saat melihat Adam mengetuk pintu rumahnya.
"Ribet!"
"Kamu yang buat dan nggak denger nasehat kami,"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan ceramah di sini!" Adam membanting tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya.
"Siapa yang berani ceramahin kamu?" tanya seseorang.
"Vergie? Welcome back bro! Wuah ternyata di sini, kapan pulang?"
"Ah... Sok sibuk, temen sendiri udah pulang dari kemaren nggak di sambut. Boro-boro disambut, inget juga nggak!" protes Vergie.
"Sorry, lagi banyak masalah," kata Adam nyengir.
"Nggak heran! Trouble maker," balas Vergie cuek.
"So, gimana bulan madunya?" tanya Adam.
"Ntar iri,"
"Biasa aja kali,"
"Iya lah, cuma bedanya aku nggak was-was. Emang sengaja bikin dia hamidun bukan nggak sengaja,"
"Apaan sih bahasnya!" Sarah istri Vergie menepuk pundak suaminya.
"Sarah! Apa kabar?" tanya Adam yang bangkit dari duduk dan akan menyalami Sarah tapi ditepis oleh Vergie.
"Kabar kami baik dan nggak usah sok nanya kabar, modus! Sarah aja ditanyain kabar!" protes Vergie.
"Protes aja sih!"
"Udah ah, kayak anak kecil,"
"Tau nih, lebay! Aku juga nggak akan ngambil bini orang," kata Adam.
"Udah ah, berantem terus. Nih oleh-olehnya," Sarah menyerahkan masing-masing dua paper bag untuk Lee dan Adam.
"Wuah ada aroma bulan madunya, thanks ya Sarah. Semoga segera dapat momongan," ucap Adam tulus.
"Makasih, Dam!"
"Thanks oleh-olehnya," Lee mengangkat paper bag nya dan tersenyum samar, nyaris tak terlihat.
"Coba senyum itu yang tulus, yang lebar. Bisa senyum nggak sih!" Vergie protes saat Lee berbalik badan dan memeriksa ponselnya. Adam dan Sarah tertawa mendengar protes Vergie. Setelah kembali dari bulan madu Vergie terlihat kekanakan dan manja. Padahal dulunya mereka bertiga dikenal sebagai cowok super cool. Sarah mengubah Vergie menjadi seorang yang sangat romantis, manja dan sangat tidak "cool" 😅
Tapi Adam dan Lee senang melihat Vergie bahagia dengan pilihannya dan sangat beruntung bisa mendapatkan Sarah yang sangat mengerti Vergie. Mereka saling melengkapi. Pasangan yang serasi membuat Adam jadi iri. Sarah dan Vergie bisa komitmen untuk setia dan bisa mengambil keputusan untuk mengikat pasangannya dengan sebuah ikatan pernikahan.
Sementara Adam, pernikahannya batal dan Emili justru kedapatan selingkuh dan sekarang hamil entah dengan siapa. Adam ragu dan membuat kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya sakit.
__ADS_1