
Adam menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki tersenyum ke arahnya. Laki-laki tinggi itu menatapnya tajam meski bibirnya tersenyum membuat Adam sedikit takut. Siapa pria itu?
"Boleh aku duduk?" tanyanya menunjuk sofa disamping Adam. Adam mengangguk dan sedikit bergeser.
"Kamu Adam?"
"Bagaimana... "
"Aku Aldo, calon kakak iparmu,"
"Oh hai... Maaf aku tidak mengenalimu dan Elena tak pernah cerita... "
"Benarkah dia tak pernah cerita?"
"Iya, begitulah. Kami memang belum saling mengenal. Kami masih proses pendekatan,"
"Sebenarnya aku belum setuju dengan pernikahan ini," kata Aldo.
"Kenapa begitu? Tenang, aku bakal bikin Elena nyaman dan bahagia,"
"Semoga saja, tapi ingat! Kalau sampai adikku kenapa-kenapa, siap-siap aja kamu!" ancam Aldo.
"Tenang aja kak," jawab Adam sambil tersenyum.
Tak lama Elena keluar dengan memakai hanbok untuk pengantin perempuan.
"Kakak! Gimana?" tanya Elena sambil berputar.
"Bagus, cantik kamu!"
"Cakep!" Adam menambahkan.
"Ini aja yah, capek ganti-ganti terus," kata Elena.
"Iya deh," jawab Aldo.
"Baju akad sama resepsinya?" tanya Adam.
"Udah tadi," kata Elena sambil tersenyum.
"Tapi aku belum liat," protes Adam.
"Udaaah, tenang aja. Pilihan adikku pasti oke. Ya udah kami mau jalan dulu. Aku bawa dia," kata Aldo menunjuk ke ruang ganti, dimana Elena sedang mengganti pakaiannya.
"Tap... Tapi... "
"Kenapa?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Aku ikut!" kata Adam.
"No, ini khusus hariku dan adikku sebelum aku kembali ke luar kota,"
"Tapi... "
"Baiknya kamu menemani seseorang yang butuh seseorang seperti kamu,"
"Apa maksudmu?" Adam terpancing emosi.
"Kalian kenapa?" tanya Elena yang baru kembali dari ruang ganti.
"Kakak hanya minta ijin bawa kamu, kita jalan berdua. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Aldo yang menekan pembicaraan.
"Silahkan!" kata Adam dengan senyum terpaksa. Meski ia sangat senang bila tak bersama Elena, tapi sikap calon kakak iparnya membuat moodnya berantakan dan ingin membatalkan pernikahan. Tapi urung karena mengingat perjanjian mereka.
Adam keluar menyusul Elena dan Aldo. Ternyata Elena tak seribet pengantin lain. Ia ingat bagaimana repotnya Vergie dan Sarah memilih pakaian pengantin, belum lagi surat undangan, dekorasi dan semuanya melibatkan Lee dan juga Adam. Tapi semua seolah mudah saja bagi Elena. Ia tak akan tinggal diam bila pernikahan mereka terlewat sederhana.
Ia memasuki mobil saat mobil Aldo keluar pelataran parkir. Adam tak peduli, lalu segera melajukan mobilnya ke arah berlawanan menemui Emili yang keadaannya sudah lebih baik. Ia menjemput gadis itu dari rumah sakit dan membawanya pulang ke rumah mereka.
Emili tersenyum senang saat melihat Adam masuk ke ruangannya. Ia sudah menyiapkan semua perlengkapannya untuk kembali pulang. Adam segera menjinjing tas berisi perlengkapan Emili dan mengajak Emili keluar ruangan.
"Maaf sudah lama membuatmu menunggu, aku ada sedikit urusan tadi," kata Adam.
"Tak masalah, ayo pulang! Aku bosan di sini sendiri," kata Emili sambil berjalan keluar.
"Kamu jangan pergi lagi, tetap di sini ya," pinta Emili.
"Iya, tapi aku tak bisa lama. Papa bakal nyariin,"
"Bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya
"Begitulah, tidak terlalu merepotkan," jawab Adam.
"Are you happy?" tanya Emili.
"Entahlah, sulit menjelaskannya,"
"Apa kamu mencintainya?"
"Jangan bahas itu lagi, please... Aku hanya ingin tenang. Kantor dan rumah sama ruwetnya sekarang ini,"
"Maafkan aku... Ingatlah rumahmu disini. Aku dan anak kita selalu ada untuk kamu," bisik Emili. Mendengar itu rasanya perasaan Adam sedikit luluh. Ia merasa sedikit tenang. Setidaknya tak ada hal berat yang ia pikirkan di sini.
"Terimakasih. Istirahatlah dan kumohon jangan makan makanan aneh dan minum minuman yang berbahaya lagi,"
"Tidak akan asal kamu selalu disini dan memberiku kabar bila jauh,"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha untuk mengabarimu disela-sela pekerjaanku, akan aku sempatkan," kata Adam
"Terimakasih. Dan jangan pergi sampai aku terbangun," kata Emili.
"Baiklah, kamu tidurlah. Aku akan menemanimu sebentar," kata Adam, Emili mengangguk dan memejamkan matanya. Rasa pusingnya belum berkurang dan Adam memijit kepalanya membuatnya nyaman.
Setelah Emili tertidur, Adam keluar. Ia membersihkan mobilnya dan mencari aktivitas lain agar ia tidak merasa bosan. Setelah itu, Adam duduk di depan layar laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang masih belum rampung. Tanpa ia sadari, jam makan siang sudah lewat. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan keluar. Emili baru saja keluar dari kamar menuju meja makan. Adam menggandengnya dan mendudukkan Emili di meja makan. Suasana makan siang saat itu terasa hangat.
"Sebentar...!" Emili berlari ke kamar mandi dan memuntahkan sebagian makanannya. Adam datang dan menggosok punggung Emili. Setelah lebih baik, Emili berjalan menuju meja makan dan meminum obat dan vitaminnya.
"Sudah lebih baik?" tanya Adam. Emili mengangguk. Obat mual yang diberikan dokter sangat ampuh mengatasi rasa mualnya.
"Ya, hanya sedikit mual. Nanti akan hilang sesudah minum obat itu," kata Emili.
"Makan lagi?" tawar Adam.
"Tidak, aku mual melihat makanan. Aku mau ke belakang aja," kata Emili.
"Aku temani," kata Adam. Mereka berjalan beriringan menuju belakang rumah.
"Aku lelah Dam, capek setiap hari nggak ada kerjaan,"
"Aku mengerti tapi apa ada yang bisa kamu lakukan?" kata Adam.
"Entahlah, sekarang rasanya serba membosankan," kata Emili.
"Sabarlah! Sampai bayi itu lahir,"
"Iya, oh ya kapan acara pernikahan kamu? Boleh aku mengajak temanku menginap di sini?" tanya Emili.
"Masih bulan depan, boleh asal mereka wanita," kata Adam.
"Iya, mungkin ada dua orang,"
"Boleh, asal kamu tidak merasa kesepian," kata Adam.
"Tapi ingat, malamnya jangan sampe lupain aku,"
"Ya nggaklah, kamu tahukan kami ini menikah hanya sebatas perjanjian,"
"Iya, siapa tahu kamu pengen lihat dia,"
"Ya nggaklah, dia nggak secantik kamu," goda Adam. Membuat Emili tersenyum senang.
Sore itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang banyak hal. Adam berusaha membuat Emili senang dan nyaman, karena kondisi fisiknya lemah saat hamil.
Emili pun merasa sangat bahagia, akhirnya Adam bisa takluk dan tak lagi mencurigainya atau memarahinya. Hidupnya kini tenang, uang mengalir tanpa eprlu kerja dan ia bisa bermanja-manja dengan Adam. Dulu ia merasa bayi itu pembawa sial namun setelah diberitahu pacarnya ia bisa mengeruk kekayaannya, maka Emili kembali menjaga benar-benar bayi di perutnya. Ia akan membuat Adam terikat dengannya. Jadi ia tak perlu repot-repot mencari uang. Uang itu akan mengalir dengan sendirinya. Emili tersenyum senang membayangkan kehidupannya kedepan. Dan ia tak mau lagi berharap pada mantannya yang tak mau bertanggung jawab dan lari. Sampai saat ini ia belum tahu kabarnya. Dan Emili tak ingin tahu apapun tentang mantannya yang cuma memanfaatkannya saat itu.
__ADS_1