
Adam membawa Elena masuk yang disambut oleh kedua orangtuanya. Mereka langsung makan malam dan membahas detil pernikahan.
"Tante senang akhirnya kamu jadi bagian di rumah ini," kata Renata menatap Elena.
"Terimakasih tante, sudah mau menerima Elena di rumah ini. Elena banyak kekurangan, ajari Elena banyak hal,"
"Pasti," jawab Renata.
"Adam, jangan lagi main-main. Sudah saatnya memikirkan tanggung jawabmu sebagai pemimpin di keluargamu,"
"Iya pa, semoga Adam bisa," kata Adam tersenyum ke arah Elena. Elena hanya mengangguk kaku.
"Jangan sungkan gitu Elena, kalian bakal jadi suami istri meskipun dengan perjodohan semoga kalian bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kalian,"
"Tenang aja ma, aku bisa bikin Elena jatuh cinta ke Adam," Adam berkata sambil tersenyum menatap Elena dalam. Elena seketika terdiam lalu tersadar saat kakinya ditendang seseorang.
"Hehehe..." Elena hanya tersenyum kaku.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu," kata Renata saat melihat Adam dan Elena saling bertatapan.
Tak lama denting sendok memenuhi ruangan. Mereka makan sambil bercerita ringan. Setelah selesai makan, kedua orangtua Adam menonton televisi sedangkan Elena dan Adam masih di belakang. Adam duduk saat melihat Elena mencuci piring setelah makan. Padahal mereka ada pembantu tapi Elena bersikeras untuk membereskan ruang makan dan dapur.
Setelah mencuci piring, Elena mengeringkan tangannya yang terasa sedikit gatal dan memerah. Ia lupa membawa salebnya.
"Kenapa?" tanya Adam saat dilihatnya Elena hanya terdiam membelakanginya.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Elena yang membalikkan badannya sambil tersenyum.
"Aktingmu buruk sekali," komentar Adam sambil memainkan ponselnya.
"Apa maksudmu?" tanya Elena sambil ikut duduk di meja makan.
"Coba biasakan untuk romantis di deoan orangtuaku," pinta Adam.
"Terus kamu curi-curi kesempatan? Ogah!" jawab Elena sambil mendekap kedua tangannya.
"Siapa juga yang mau curi-curi kesempatan! Jangan ge-er!"
"Terus?"
"Aktinglah seolah-olah kita bisa saling menerima," jawab Adam melirik sekilas.
"Ogah! Lagian tante Renata tahu kalo aku belum bisa menerima ini semua,"
__ADS_1
"Bagaimana bisa?"
"Ya bisalah!"
"Ck! Terserah!" jawab Adam lalu ia pergi keluar meninggalkan Elena. Elena segera berlari mengikuti Adam dari belakang.
"Ayo duduk di sini," ajak Renata. Elena dan Adam duduk mencoba menikmati siaran televisi yang membosankan. Akhirnya Adam menyerah dan kembali mengeluarkan ponselnya lalu bermain game.
"Len, sini!" panggil Renata. Elena mendekat dan melihat Renata mengambil sebuah album foto dari laci meja kecil di samping sofa.
"Apa itu tante?" tanya Elena.
"Lihat ini!" Renata menunjukkan beberapa foto anak kecil dari bayi hingga usia sekitar dua tahunan. Lalu menyadari ada foto Elena saat masih kecil berfoto sambil bergandengan tangan dengan seorang anak laki-laki memakai kemeja, celana jins dan topi coboy.
"Ini kan... "
"Iya, foto kalian saat masih kecil. Memang tante dan ibu kamu dekat. Terus dulu suka aja jodohin kalian," ucap Renata sambil tersenyum.
"Kok Elen nggak inget ya," kata Elena.
"Kalian masih kecil-kecil. Lihat foto ini! Kalian selalu kompak, kemana-mana selalu bersama. Dan sekarang setelah besar kalian bisa hidup bersama. Tante senang sekali, jadilah istri yang baik untuk Adam," pinta Renata sambil mengelus lengan Elena. Elena hanya tersenyum. Lalu Renata melihat foto mereka sambil tersenyum. Elena merasa bersalah dan tak enak hati. Betapa tante Renata sangat menyukainya dan berharap pernikahan ini akan bisa langgeng. Tapi kenyataannya, mereka mempermainkan pernikahan itu sendiri.
"Semoga kami baik-baik saja," kata Elena
"Iya tante," jawab Elena sambil melirik Adam. Adam hanya diam, sibuk memainkan ponselnya.
"Dulu, waktu kalian pindah. Adam menangis berhari-hari. Om sampai bingung," kata Kim menyela pembicaraan mereka.
"Oh ya? Apa yang terjadi?" tanya Elena.
"Kalian pindah, Adam selalu menangis. Akhirnya om belikan dia banyak mainan, mengajaknya jalan-jalan itu ampuh, tapi saat di rumah dia selalu teringat kamu," kata Kim.
"Benarkah?" tanya Elena menahan tawa.
"Iya, makanya tante kamu sibuk mencari tahu keberadaan keluargamu. Karena ponsel tantemu hilang, semua kontak pun ikut menghilang. Akhirnya bertemu lagi saat kalian sudah lulus sekolah dan kembali ke kota ini. Tantemu sangat senang dan merencanakan semua ini,"
"Dan semua terasa hampir lengkap sesudah kalian menikah," kata Renata.
"Kok hampir?" tanya Elena.
"Semua akan lengkap kalau kami memiliki banyak cucu," ucap Kim. Seketika Elena terdiam, wajahnya memerah. Adam pun mengalihkan pandangannya dari ponsel menatap papanya dan kembali ke arah Elena. Gadis itu terdiam dan senyum di wajahnya menghilang. Lalu gadis itu menoleh ke arah Adam, Adam cuek dan kembali melanjutkan memainkan game di ponselnya.
"Kamu tahu kan, dia anak tante satu-satunya. Dia tidak punya saudara dan dulu dia tidak memiliki teman akrab selain kamu. Dia kesepian dan tante tidak mau itu terjadi pada cucu tante,"
__ADS_1
"Uhm... Tapi kan, tante... Ini masih terlalu awal untuk ngomongin keturunan," kata Elena.
"Tidak! Tujuan menikah adalah memiliki keturunan. Jadi, setelah menikah nanti jangan menunda, oke?" Renata mencolek hidung Elena pelan. Gadis itu tersenyum mali dan wajahnya kembali memerah. Membuat Renata gemas dan tak sabar melihat mereka di pelaminan.
Momen itu hilang saat Adam mengumpat saat ia kalah dalam permainannnya lalu membuang ponsel ke sampingnya.
"Adam!" Renata menegurnya.
"Sorry ma! Iya aku dengerin kok," kata Adam.
"Ingat pesan mama, kurangi main ponsel. Jangan biarkan Elena kesepian, nggak ada temen ngobrol,"
"Iya ma, iyaaa..."
"Dan jangan buat Elena menangis dan sedih,"
"Iyaaa..."
"Jangan biarkan Elena kesepian di rumah,"
"Iyaaa..."
"Dan cepat kasih kami cucu!"
"Iy... Eh? Apa sih ma!" protes Adam.
"Kalian ini ya, pokoknya setelah menikah jangan tunda-tunda lagi! Umur kamu juga sudah bukan muda lagi," kata Renata menatap Adam.
"Iya ma, mama mau cucu berapa? empat? Lima?" tanya Adam. Elena melongo mendengarnya.
"Bagus! Itu baru anak mama!"
"Anak papa itu!"
Di saat kedua orangtua Adam berdebat, Elena menatap Adam sinis. Adam hanya mengangkat bahu tak peduli. Ia hanya membuat segalanya mudah dan orangtuanya tak menuntut lagi. Yang penting mereka senang dan tak menuntut banyak hal lagi.
Adam tak peduli dengan tatapan Elena yang terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup. Ia sangat tahu orangtuanya. Tak bisa dibantah! Dan ia akan meng-iyakan semua perkataan orangtuanya, supaya mereka diam. Memangnya ia akan melakukan itu setelah menikah? Tidak! Ia tak ingin punya anak. Yang ia mau perusahaan dan juga ketenangan. Saatnya menikmati hidup.
Elena menjauhkan diri dari Renata dan pamit ingin pulang karena sudah malam.
"Oh iya, terimakasih sudah mau datang. Kapan aja kamu mau datang rumah ini akan terus terbuka untuk kamu,"
"Terimakasih tante, om. Elen pamit dulu,"
__ADS_1
"Iya, hati-hati di jalan. Adam jangan ngebut," kata Renata pada Adam yang akan mengantarkan Elena pulang. Adam hanya mengangguk lalu mereka masuk ke mobil dan meninggalkan kediaman Adam.