
Semakin lama semakin terlihat bagaimana tante Renata mendekatkan Adam dan Elena. Elena hanya berpura-pura menikmati karena menghargai tante Renata, jika tidak ia tak akan mau bertemu pria menyebalkan seperti Adam.
"Tante lihat kamu itu cocok banget dengan Adam, apa kalian sebaiknya menikah saja?" tanya Renata saat mereka berlibur ke sebuah pertanian milik keluarga Adam. Adam dan Elena terbatuk.
"Ma! Apaan sih!" komentar Adam.
"Memangnya kenapa? Udah berumur kamu itu, kapan lagi? Nggak ada calon juga, gimana menurut papa?" tanya Renata pada suaminya.
"Papa setuju, bagaimana Adam? Elena?" tanya Kim. Elena hanya menunduk tak tahu harus berkata apa, dia masih kaget dengan permintaan mendadak keluarga di depannya ini.
"Adam tidak setuju," sahut Adam. Mereka terdiam semua. Akhirnya Elena pamit ke toilet, canggung berada di dekat mereka.
"Papa setuju kalian menikah, jika kamu menikah dengan Elena papa akan melepas perusahaan yang kamu inginkan. Sudah saatnya kamu sebagai kepala keluarga yang memimpin,"
"Benarkah?" tanya Adam.
"Kalau kamu setuju, kita akan umumkan semua saat pesta pernikahanmu," ucap Kim.
"Nanti Adam pikirkan lagi,"
"Kurang apa si Elena itu? Dia bisa banyak hal, dia bisa memberikan masukan dan mama senang dia bisa membawa dirinya di keluarga kita,"
"Jangan bahas itu sekarang ma, please. Nanti Adam pikirkan dulu,"
"Terserah kamu, ayo pa kita berfoto di sana," ajak Renata sambil menggandeng suaminya. Meninggalkan Adam dan Elena yang baru saja kembali dari toilet.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Adam.
"Apanya?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, soal pernikahan tadi," kata Adam. Seketika wajah Elena memerah.
"Aku belum siap, aku masih berusaha menggapai keinginanku. Masih banyak target yang belum aku dapatkan," kata Elena.
"Apa itu?" tanya Adam.
"Aku masih ingin kuliah dan bekerja. Aku harus bisa menggapai cita-citaku,"
"Memangnya apa cita-citamu?" tanya Adam.
"Memiliki koleksi busana dan toko pakaian dengan brand namaku, kenapa?" tanya Elena saat melihat Adam mengangguk-angguk dan tersenyum licik. Membuat Elena curiga. Pasti ada sebuah rencana yang disusun oleh Adam. Elena tak ingin terjebak, ia harus berhati-hati terhadap pria di depannya.
__ADS_1
"Bagus sekali," ia hanya berkomentar sedikit lalu pergi meninggalkan Elena.
Mereka menikmati udara pedesaan yang bersih juga hasil alamnya. Mereka mengolah hasil pertanian untuk makan malam. Elena membantu Renata memasak dan membuat beberapa makanan yang dari resep yang diberikan oleh ibunya.
Setelah selesai memasak mereka memanggil Kim dan Adam. Kedua pria itu muncul dan langsung menyantap makanan yang tersaji. Bahkan Adam terus menambah makanannya.
"Kamu suka?" tanya Elena.
"Hu'um... Mama memang enak kalo masak," jawab Adam, membuat Elena terdiam dan cemberut.
"Itu Elena yang masak," jawab Renata menatap anak semata wayangnya.
"Benarkah? Ini enak sekali, aku suka bumbunya," kata Kim sambil mengambil beberapa makanan yang disukainya.
"Terimakasih om, hanya masakan desa. Elena tidak pandai membuat makanan yang kekinian,"
"Ini enak, justru mengingatkan om waktu kecil dulu. Om suka segala jenis ubi-ubian yang diolah," kata Kim, Elena hanya mengangguk.
"Nanti ajari tante ya," kata Renata menggenggam tangan Elena, gadis itu mengangguk.
"Kamu beruntung kalau Elena jadi istrimu, dia pandai memasak ternyata," kata Kim sambil tertawa. Adam hanya tersenyum. Akhirnya pria itu bisa tersenyum manis untuk Elena.
"Aku mencarimu," kata Adam.
"Ada apa?" tanya Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.
"Aku berpikir untuk menyetujui permintaan kedua orangtuaku," kata Adam. Membuat Elena mengangkat wajahnya.
"Kenapa?" tanya Elena.
"Karena ada beberapa hal yang menjadi tujuanku. Sama seperti kamu, aku juga punya cita-cita," jawab Adam.
"Cita-cita apa? Bukannya kamu sudah punya segalanya?" tanya Elena.
"Tidak juga, beberapa hal memang sulit dijangkau. Dan itu butuh pemgorbanan. Aku rasa kamu mengerti," kata Adam.
"Aku mengerti, lalu?"
"Bagaimana jika kita setuju untuk menikah?" tanya Adam. Hening sesaat. Jauh di lubuk hatinya Elena memang ingin menikah tapi tidak untuk sekarang. Dan bukan dengan Adam.
"Kamu pikir nikah itu mainan?"
__ADS_1
"Tidak, kamu salah paham. Maksudku begini, kalau kita menikah aku akan mendaftarkan kamu kuliah sesuai keinginanmu juga membangun sebuah toko untuk kegiatanmu agar kamu tidak jenuh di rumah," kata Adam. Elena memicingkan matanya.
"Kamu mau aku begitu? Mimpi!" balas Aluna saat Adam mengangguk.
"Ayolah, kita akan sama-sama diuntungkan,"
"Benar dugaanku! Kamu ada maksud tertentu. Aku sudah bilang nikah itu bukan untul permainan,"
"Apa semua itu terlihat seperti permainan bagimu? Cita-citamu dan semua yang kamu impikan akan terwujud. Hanya dengan satu syarat,"
"Tidak!" jawab Elena.
"Ayolah, aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang,"
"Asal kamu tahu, aku menikah hanya dengan orang yang aku cintai. Membangun rumah impian dengan ditemani celoteh anak-anak, semua akan lebih indah dengan cinta. Tapi denganmu? Aku bukan perempuan bodoh yang bisa kamu gombali seperti mantan-mantan kamu," kata Elena.
"Pikiranmu terlalu kuno,"
"Biarin! Kamu nggak akan ngerti gimana rasanya mencintai dan dicintai. Orang-orang seperti kamu menghalalkan segala cara agar mendapatkan apa yang kalian inginkan, bukan dari hati," kata Elena.
"Terserah apa katamu, pikiranmu terlalu dangkal. Kamu tidak memikirkan untung ruginya,"
"Tidak ada untung dan rugi kalau menjalani rumah tangga dengan hati,"
"Aaargggh... Wanita sulit sekali dipahami,"
"Sebaiknya bereskan dulu dirimu, baru bisa tahu apa itu cinta, menikah dan rumah tangga,"
"Jangan mengajariku!" Adam berkata ketus.
"Aku tidak mengajarimu, hanya nasehat agar hidupmu lebih bisa menghargai orang lain,"
"Kamu ngelantur, aku bicara pernikahan kamu bahasnya kemana-mana," kata Adam.
"Ternyata pikiranmu yang dangkal," kata Elena membalik perkataan Adam.
"Terserah! Aku akan pastikan semua sesuai dengan keinginanku," kata Adam. Lalu ia pergi meninggalkan Elena yang kembali fokus membaca buku. Meskipun begitu ia sulit berkonsentrasi pada bacaannya. Karena apa yang dikatakan Adam bisa membantunya, ia ingin menggapai cita-citanya tapi dengan perekonomian yang sulit membuat Elena harus bekerja keras untuk meraihnya.
Elena menggelengkan kepalanya. Ia tak mau disebut aji mumpung. Mumpung ada yang menikahinya, ia bisa melanjutkan sekolahnya. Mumpung dari keluarga kaya. Tidak. Ia tak mau disebut benalu dan memiliki hutang budi pada keluarga Adam. Mengingat bagaimana sikap Adam selama ini.
Elena tahu bagaimana Adam di luar sana. Bagaimana kehidupan malamnya dan semua yang dilalukannya. Tidak. Elena tidak mau terjebak di pernikahan yang tidak sehat ini.
__ADS_1