
"Hentikan itu! Sudah cukup!" kata Adam saat ia melihat rekaman dari mini kamera di salah satu resto yang tidak begitu besar, namanya juga bahkan tidak terlalu terkenal. Bisa-bisanya calon istrinya masuk ke sana dan melakukan... Aaah Adam bahkan tak sanggup melanjutkan perkataannya di dalam hati.
"Apa kita berikan ini pada mamamu?" tanya Lee yang saat itu sedang bersantai di kantor Adam menikmati secangkir kopi susu.
"Jangan dulu, biarkan aku bicara dengan orangtuaku. Jika nanti tak bisa, baru aku serahkan ini semua," kata Adam. Lee mengangguk. Tak lama ponselnya berdering.
Nyonya Kim Calling...
"Halo ma?"
"..... "
"Oke, kirim saja alamatnya," Adam mematikan ponselnya dan melempar begitu saja ke atas meja.
"Kenapa lagi?" tanya Lee.
"Makan siang, fitting baju, aaaarrrrgghhhh!" Adam berteriak frustasi.
"Saatnya berbicara," kata Lee.
"Oh iya, nanti kan bareng Mili. Ok deh, thanks Lee! Besok ku traktir," Adam menyambar jasnya dan pergi keluar.
"Main pergi aja! Aku tamu di sini! Hei!" teriak Lee.
"Tamu? Anggap aja rumah sendiri!" balas Adam terkekeh. Lee mengumpat pelan.
* * *
Siang itu Adam menemui mamanya di salah satu restoran, Mili belum datang. Entah kemana dia, akhir-akhir ini sering menghilang.
"Mama sendiri?" tanya Adam.
"Sebentar lagi Emili datang, duduklah,"
__ADS_1
"Ma, bisa aku bicara empat mata dengan mama, sebelum..."
"Selamat siang! Maaf terlambat!" Emili masuk terburu-buru.
"Kamu dari mana?" tanya Adam.
"Dari pemotretan, tak jauh dari sini," jawab Emili.
"Ngobrolnya nanti saja, kita makan dulu. Mama sudah lapar," Renata mulai makan.
"Hmmmph... Maaf, toilet dulu," Emili berlari keluar ruangan menuju toilet.
"Kenapa gadis itu? susul calon istrimu sana!" kata Renata.
Adam menyusul dan berdiri tak jauh dari toilet wanita. Ia melihat bagaimana Emili muntah-muntah. Tak lama Emili mencuci wajahnya dan keluar dari toilet.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Adam.
"Tidak apa, aku hanya masuk angin ditambah diet,"
"Thanks, tapi aku mau terlihat sempurna saat pernikahan kita nanti," kata Mili.
"Ayo, kita kembali" ajak Adam pada Mili.
Siang itu, sambil makan siang mereka membahas tentang pakaian, lebih tepatnya mama Renata dan Mili sedangkan Adam hanya mengangguk atau menggeleng. Adam sebenarnya bosan dengan pendapat mereka yang tak ada titik temunya. Bahkan jam makan siang telah lewat mereka masih belum ada kesepakatan.
Akhirnya malah Mili yang pamit lebih dahulu karena masih ada jadwal mengisi acara di salah satu mall. Terpaksa mereka menunda kegiatannya.
"Kamu itu kenapa sih Dam? Kayak nggak semangat, ini pernikahan kamu loh," kata Renata.
"Adam ragu ma,"
"Tapi kamu nggak ragu bawa dia ke apartemen,"
__ADS_1
"Ma, udah dong bahas yang itu. Iya aku salah bawa dia kesana, aku salah sudah tidur dengan dia tapi semakin ke sini justru aku ragu dengan Mili,"
"Kenapa?"
"Sepertinya Mili selingkuh," jawab Adam cepat. Seketika Renata terdiam dan menatap Adam dengan tajam. Matanya sedikit menyipit membuat nyali Adam ciut
"Kalau kamu nggak mau nikah sama dia bilang jujur Dam, bukan harus memfitnah dia hanya karena kamu nggak mau nikahnya dipercepat,"
"Nggak gitu ma, tapi kalau itu terbukti benar aku bisa menolak menikahinya kan?"
"Boleh aja, tapi kalau tidak terbukti papamu yang akan menghukum kamu,"
"Siap ma," ucap Adam.
Adam dan mamanya kembali ke kantor sambil mengeluh sepanjang jalan tentang ketidaksepakatan antara dirinya dan calon menantunya. Sulit sekali mendapatkan kata sepakat. Sebenarnya dia tak mau terlibat banyak dalam pesta mereka tapi Emili meminta pendapatnya namun tetap saja Emili kurang menyukai masukan darinya. Jika ujung-ujungnya pendapatnya tak sesuai keinginan Emili ia akan membiarkan Emili menentukan dengan bantuan Adam. Tapi Adam menolaknya mentah-mentah dengan alasan kantornya saat ini sedang sibuk.
Sesampainya di halaman kantor, sebelum mereka turun. Renata menahan tangan Adam saat Adam akan membuka pintu.
"Dam, tadi katanya kamu mau bicara empat mata dengan mama, apa itu? Mama baru ingat sekarang,"
"Sebenarnya Adam mau nanya ke mama, tapi waktunya belum tepat. Nanti kalau Adam sudah yakin, kita bicarakan lagi ya," pinta Adam.
"Oke, segera kabari mama," Renata menyetujui keputusan putranya. Lalu mereka segera turun dan menuju ruangan yang berbeda.
Adam masuk ke ruangannya dan melihat beberapa berkas masuk dan tersusun di atas meja kerjanya. Sepertinya seharian ini ia harus konsentrasi penuh.
Adam melihat laporan satu per satu membacanya dengan teliti, melingkari bagian-bagian penting dan mencoret beberapa kesalahan. Ia tak mau beberapa proyeknya gagal hanya karena kurang teliti. Bisa menyebabkan kerugian.
Menjelang sore, Lee mengirim pesan dan beberapa foto. Adam membuka satu per satu foto itu. Foto mesra antara Mili dan pria yang sama di video yang dia dapatkan. Siapa pria itu? Dulu ia tak mau tau urusan Emili harus jalan dengan siapa dan bagaimana ia di luar sana. Tapi sejak mamanya memutuskan menikahi mereka Adam malah sedikit cemburu. Apa dia sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Emili? Tapi satu sisi hatinya meragukan gadis itu dan belum menemukan perasaan yang nyaman atau euforia yang membuatnya melayang, membuatnya rindu bila tak bertemu, yang membuatnya terbayang-bayang.
Ataukah ini hanya semacam ketakutan-ketakutan menjelang pernikahan? Bukankah biasanya setiap akan melakukan sesuatu yang sakral akan ada saja cobaannya? Tapi meski begitu, ia seolah hanya berlari di tempat. Sulit sekali meyakinkan hatinya bahwa ia benar-benar mencintai Mili. Mungkin kalian mengumpat, nyinyir atau apapun dengan sikap Adam. Hei... Mereka melakukan hal itu karena sama-sama mau. Sama-sama butuh. Jangan bicara dulu soal dosa dan norma. Pasti mereka salah. Benar.
Lalu apakah kalian melihat bagaimana Adam juga akan bertanggung jawab meski ia belum yakin sepenuhnya tentang hatinya? Dia memang laki-laki brengsek, tapi ia akan memegang janjinya dan bertanggung jawab. Ia mengakui kesalahannya. Dan ia akan belajar memperbaiki semuanya. Lalu akhirnya ia meragu sendiri.
__ADS_1
Ia harus memastikan benar-benar akan hatinya. Ia tak mau bila pernikahan mereka hanya karena kepergok mamanya, hanya sebatas sah secara agama dan negara tapi hatinya meragu. Mereka berdua akan sama-sama dirugikan. Tentu Emili atau dirinya akan sakit hati di kemudian hari saling menyalahkan, saling menyakiti karena tidak ada cinta yang tumbuh diantara mereka.
Itulah sebabnya Adam harus menangguhkan dulu pesta pernikahannya. Ia harus meyakinkan hatinya juga kebenaran tentang Emili dengan pria yang fotonya dikirim oleh Lee tadi siang. Ia harus mencari kebenaran hubungannya dengan Emili serta pria itu. Dengan begitu ia bisa menentukan apakah mereka layak melangsungkan pernikahan atau dibatalkan.